BLITAR – Tidak banyak yang tahu, Blitar pernah jadi lokasi perhelatan rampogan macan. Tradisi berdarah ini pernah digelar di alun-alun kota pada abad ke-19. Catatan sejarah menyebutkan, salah satu peristiwa paling dramatis terjadi pada tahun 1894. Seekor macan kumbang kabur dari arena rampogan macan Blitar dan menyerang penonton.
Kisah itu tercatat dalam buku Baghdad Mawi Rampok karya R. Kartawibawa, serta diulas kembali oleh kanal Sepulang Sekolah. Peristiwa ini memperlihatkan sisi mencekam dari tradisi yang dulunya dianggap sakral. Rampogan macan sendiri adalah ritual yang populer di Jawa pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20. Tradisi ini melibatkan pembantaian harimau di alun-alun kerajaan, termasuk di Blitar.
Biasanya, rampogan macan dilaksanakan saat Idul Fitri atau Tahun Baru Islam. Harimau dianggap simbol mara bahaya, sehingga pembunuhan macan diyakini sebagai bentuk penyucian dan perlindungan masyarakat.
Namun, di balik anggapan sakral itu, rampogan macan juga menghadirkan pertaruhan besar. Tidak hanya nyawa hewan yang melayang, tetapi juga keselamatan manusia yang menonton. Di Blitar, rampogan macan 1894 menjadi bukti betapa berbahayanya tradisi ini. Saat seekor macan kumbang berhasil lolos dari kepungan, penonton yang memadati alun-alun langsung panik.
Banyak orang berlarian menyelamatkan diri. Sebagian bahkan nekat memanjat pohon untuk menghindari serangan harimau yang mengamuk. Suasana kacau balau tak terhindarkan. Pedagang makanan pun rugi besar karena dagangannya berantakan ditabrak kerumunan yang berusaha kabur.
Dalam catatan R. Kartawibawa, peristiwa itu juga memunculkan cerita unik. Seorang lelaki mesum memanfaatkan situasi panik untuk memeluk perempuan yang ketakutan. Namun aksinya segera diketahui oleh petugas keamanan. Alih-alih menikmati kesempatan, pria itu malah dikejar dan dipermalukan di depan umum.
Kisah ini memperlihatkan bahwa rampogan macan bukan hanya tentang ritual dan hiburan, melainkan juga potensi kekacauan sosial di tengah keramaian. Menurut kanal Sepulang Sekolah, rampogan macan tidak hanya digelar di Blitar. Tradisi ini juga populer di Yogyakarta, Surakarta, hingga Kediri.
Acara biasanya diawali dengan pertunjukan lain, yakni Sima Meisa, adu antara kerbau dan harimau. Harimau yang kalah tidak langsung dibunuh, tetapi dilemahkan untuk digunakan kembali dalam acara rampogan.
Setelah itu, giliran para laki-laki pilihan atau “gandek” mengepung alun-alun dengan tombak di tangan. Harimau dilepas dan diburu beramai-ramai hingga mati. Tombak yang dipakai sering kali sudah dilumuri racun agar harimau cepat tumbang. Namun tetap saja, tak jarang harimau berhasil melawan balik.
Inilah yang membuat rampogan macan sangat berisiko. Penonton bisa saja jadi korban bila macan lolos dari kepungan. Peristiwa macan kumbang yang kabur di Blitar adalah contoh nyata bagaimana tradisi ini tidak hanya brutal, tetapi juga membahayakan warga.
Meski berbahaya, rampogan macan selalu menyedot penonton. Masyarakat berbondong-bondong menyaksikan, sementara penguasa menjadikannya tontonan istimewa untuk menyambut tamu Eropa.
Sayangnya, makna simbolis rampogan macan sering diabaikan. Padahal, sebagian sejarawan percaya pertunjukan ini menyiratkan perlawanan masyarakat Jawa terhadap penjajah. Harimau dianggap sebagai lambang penjajah yang kejam. Sedangkan kerbau atau masyarakat Jawa digambarkan sebagai pihak sederhana yang pada akhirnya menang melawan penindasan.
Tradisi ini perlahan menghilang pada awal abad ke-20. Populasi harimau Jawa yang semakin menipis membuat rampogan macan sulit digelar. Pemerintah kolonial Belanda juga ikut campur. Pada 1910, mereka mengeluarkan Undang-Undang Perlindungan Satwa yang melarang praktik rampogan macan.
Sejak 1923, tradisi itu benar-benar hilang dari Jawa, termasuk di Blitar. Yang tersisa hanyalah kisah-kisah dramatis seperti peristiwa macan kumbang yang kabur. Hari ini, cerita tentang rampogan macan Blitar kembali menarik perhatian. Bukan lagi sebagai tradisi yang dilestarikan, tetapi sebagai bagian dari sejarah lokal yang penuh paradoks.
Di satu sisi, ia merefleksikan cara masyarakat masa lalu menghadapi ancaman binatang buas. Di sisi lain, ia meninggalkan jejak kekerasan yang kini sulit diterima. Pertanyaan pun muncul: jika rampogan macan masih ada hari ini, apakah masyarakat Blitar akan tetap menonton, atau menolak karena alasan kemanusiaan?
Editor : Anggi Septian A.P.