Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bahasa Asing yang Dikuasai Presiden Soekarno: Dari Jerman Hingga Jepang

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Kamis, 28 Agustus 2025 | 05:00 WIB
Presiden Soekarno bukan hanya dikenal sebagai proklamator dan orator ulung. Ia juga memiliki kecerdasan intelektual yang membuatnya disegani dunia.
Presiden Soekarno bukan hanya dikenal sebagai proklamator dan orator ulung. Ia juga memiliki kecerdasan intelektual yang membuatnya disegani dunia.

BLITAR – Presiden Soekarno bukan hanya dikenal sebagai proklamator dan orator ulung. Ia juga memiliki kecerdasan intelektual yang membuatnya disegani dunia. Salah satu kehebatan yang jarang dibahas adalah kemampuannya menguasai banyak bahasa asing.

Nessie Judge dalam salah satu kontennya pernah menyinggung sisi ini. Menurutnya, Presiden Soekarno punya kapasitas luar biasa dalam memahami bahasa sebagai alat komunikasi dan diplomasi. Tak heran, ia bisa berinteraksi langsung dengan tokoh dunia tanpa penerjemah.

Kemampuan itu tentu membuat Presiden Soekarno berbeda dari banyak pemimpin pada masanya. Ia tidak hanya memimpin dengan ideologi, tetapi juga menjembatani bangsa Indonesia lewat bahasa yang dimengerti banyak pihak.

Baca Juga: Pemkab Blitar Segera Buka Seleksi Sekda, Ini Tahapannya

Sejak muda, Bung Karno sudah akrab dengan bahasa Belanda. Sebagai pelajar di HBS Surabaya dan kemudian di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), ia menguasai bahasa Belanda secara fasih. Kemampuan ini membuatnya mampu membaca literatur politik dan filsafat Eropa langsung dari sumber aslinya.

Tidak berhenti di situ, Presiden Soekarno juga belajar bahasa Jerman. Hal ini ia lakukan karena banyak teori politik, arsitektur, hingga filsafat saat itu berakar dari pemikiran Jerman. Tokoh-tokoh seperti Karl Marx, Friedrich Nietzsche, dan Hegel dipelajari langsung dalam bahasa aslinya.

Selain Jerman dan Belanda, Bung Karno juga fasih berbahasa Inggris. Bahasa ini membantunya berkomunikasi dengan tokoh dunia, termasuk para jurnalis asing yang sering mewawancarainya. Soekarno bahkan dikenal mampu menggunakan gaya bahasa retoris dalam bahasa Inggris, sama memikatnya seperti dalam bahasa Indonesia.

Baca Juga: ⁠Masih Beredar Rokok Ilegal?, Masyarakat Diminta Lebih Waspada jika Tak Ingin Terseret Pidana

Tidak hanya bahasa Barat, Presiden Soekarno juga menguasai bahasa Arab. Latar belakang pendidikan agama yang kuat membuatnya bisa membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik tanpa kesulitan. Bahasa Arab juga memperkuat posisinya saat menjalin hubungan diplomasi dengan negara-negara Timur Tengah.

Kemampuan lain yang jarang diketahui adalah kefasihan Bung Karno dalam berbahasa Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, ia mempelajarinya dengan cepat. Bahasa Jepang itu kemudian menjadi salah satu alat diplomasi penting dalam mempertahankan posisi bangsa Indonesia.

Bayangkan, seorang pemimpin bisa berbicara dalam bahasa Belanda kepada pejabat kolonial, berbahasa Arab dengan ulama Timur Tengah, lalu berbahasa Jepang kepada pejabat militer negeri sakura. Semua dilakukan tanpa penerjemah, membuat wibawanya semakin dihormati.

Baca Juga: Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar, Pangkuden Jadi Sentra Legendaris yang Tetap Eksis

Nessie Judge menekankan bahwa penguasaan bahasa ini bukan semata bakat, tetapi hasil dari semangat belajar. Presiden Soekarno percaya bahwa bahasa adalah kunci untuk memahami budaya, pemikiran, dan strategi lawan. Ia belajar dengan tekun, bahkan di tengah kondisi sulit sekalipun.

Bagi anak muda zaman sekarang, kisah ini memberi pesan kuat. Banyak dari kita yang masih kesulitan menguasai bahasa Inggris. Padahal, di era globalisasi, kemampuan bahasa asing menjadi syarat penting untuk bersaing.

Presiden Soekarno membuktikan bahwa bahasa bisa membuka pintu dunia. Ia mampu menjalin komunikasi dengan pemimpin seperti John F. Kennedy, Nikita Khrushchev, hingga Mao Zedong dengan penuh percaya diri. Semua berawal dari kemampuannya memahami bahasa asing.

Baca Juga: Mengintip Proses Pembuatan Tahu di Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar

Menariknya, Bung Karno tidak hanya sekadar menguasai bahasa. Ia juga pandai menyesuaikan gaya bicara dengan audiens. Kepada masyarakat Jawa, ia bisa berbicara halus penuh rasa. Kepada massa rakyat, ia berpidato lantang penuh api. Kepada tokoh asing, ia berbicara dalam bahasa mereka dengan wibawa.

Kecerdasan linguistik ini menjadi bagian dari karisma Soekarno yang melegenda. Bahkan lawan politiknya pun mengakui kehebatannya. Ia bukan hanya proklamator, tetapi juga komunikator yang ulung.

Dalam dunia modern, kemampuan bahasa semakin penting. Anak muda dituntut untuk menguasai setidaknya satu bahasa asing. Sayangnya, data menunjukkan masih banyak generasi muda Indonesia yang merasa kesulitan dalam berbicara bahasa Inggris.

Baca Juga: Pabrik Tahu Pangkuden Jadi Magnet Wisata Edukasi Baru di Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar

Di sinilah relevansi kisah Presiden Soekarno terasa. Jika Bung Karno di era perjuangan mampu mempelajari banyak bahasa dengan keterbatasan fasilitas, maka generasi sekarang tentu lebih bisa dengan dukungan teknologi. Ada kursus daring, aplikasi belajar, hingga media sosial internasional.

Lebih dari sekadar keterampilan, bahasa membangun jembatan antarbangsa. Soekarno memanfaatkannya untuk memperjuangkan Indonesia di panggung dunia. Generasi muda bisa meneladani semangat itu untuk bersaing di era global.

Kisah Bung Karno ini juga mengingatkan bahwa belajar bahasa bukan hanya soal akademik. Ia adalah bagian dari strategi besar. Bahasa Jerman membantunya memahami ideologi, bahasa Belanda membukakan akses ilmu, bahasa Arab memperkuat spiritualitas, bahasa Inggris dan Jepang menjadi sarana diplomasi.

Baca Juga: Tahu Pangkuden, Cita Rasa Khas dari Kampung Penghasil Tahu di Kota Blitar yang Melegenda

Sejarah mencatat, Presiden Soekarno selalu tampil percaya diri di forum internasional. Ia tidak minder di hadapan pemimpin dunia, justru tampil memukau. Rahasianya sederhana: ia bisa bicara dengan bahasa mereka.

Maka, jika hari ini banyak anak muda merasa minder karena bahasa Inggrisnya pas-pasan, mungkin sudah saatnya menengok teladan Bung Karno. Belajar bahasa adalah investasi masa depan.

Dari Jerman hingga Jepang, dari Arab hingga Belanda, Presiden Soekarno meninggalkan warisan tentang arti penting bahasa. Sebuah warisan yang seharusnya menginspirasi generasi muda untuk terus belajar, membuka diri, dan berani berkomunikasi dengan dunia.

Editor : Anggi Septian A.P.
#presiden soekarno