BLITAR - dikenal sebagai kota dengan jejak sejarah Islam yang kuat. Selain terkenal sebagai Kota Proklamator, Blitar juga memiliki banyak makam wali yang hingga kini menjadi tujuan ziarah. Dari Syekh Sentono Dowo, Syekh Abu Naim Fathullah, hingga ulama modern seperti Gus Iqdam, semuanya menjadi bukti bahwa Blitar adalah tanah para ulama.
Makam wali di Blitar tersebar di berbagai penjuru. Hampir di setiap kecamatan, ada petilasan atau pusara tokoh agama yang menjadi magnet bagi peziarah. Kehadiran makam wali ini tak hanya bernilai spiritual, tetapi juga menyimpan cerita sejarah dakwah Islam di Jawa.
Blitar dan makam wali menjadi dua hal yang tak terpisahkan. Tradisi haul, doa bersama, hingga kunjungan santri dari berbagai daerah menunjukkan bahwa peran ulama Blitar masih dirasakan hingga sekarang.
Syekh Sentono Dowo, Jejak Islam di Penataran
Tak jauh dari Candi Penataran, ada kompleks Makam Syekh Sentono Dowo. Tempat ini dianggap sakral karena merupakan makam tiga ulama besar: Syekh Badruddin, Syekh Badruzzal, dan Syekh Badrunisaiya.
Syekh Sentono Dowo diyakini sahabat Syekh Subakir, tokoh penyebar Islam di tanah Jawa. Perjuangan mereka diabadikan dalam nisan kuno bertahun 1157 Saka (1235 Masehi).
Lokasi makam yang berdekatan dengan situs Hindu-Buddha seperti Candi Penataran menunjukkan bagaimana akulturasi budaya dan agama berlangsung di Blitar sejak berabad-abad lalu.
Syekh Abu Naim Fathullah, Mbah Macan Putih
Di kawasan Lodoyo, Blitar Selatan, terdapat Makam Syekh Abu Naim Fathullah atau Mbah Macan Putih. Ulama ini dikenal sebagai keturunan ketujuh dari Sunan Tembayat, salah satu penyebar Islam di Jawa Tengah.
Kompleks makam ini sering disebut Sentono Lodoyo. Selain Syekh Abu Naim, ada pula makam Kiai Ageng Imam Sampurno, penasihat Keraton Surakarta, dan Kiai Ageng Ronggo Lodoyo. Tempat ini menjadi pusat ziarah yang ramai terutama menjelang bulan Ramadhan.
Kisah Mbah Macan Putih banyak diceritakan masyarakat. Beliau diyakini memiliki peran penting dalam dakwah Islam sekaligus penjaga spiritual kawasan Blitar Selatan.
Syekh Abu Hasan, Ulama dan Pejuang
Blitar juga memiliki Syekh Abu Hasan, ulama besar dari Desa Kuningan, Kanigoro. Beliau mendirikan Pondok Pesantren Nurul Huda, yang dianggap sebagai pesantren tertua di Blitar.
Syekh Abu Hasan lahir tahun 1790 M dan wafat 1899 M. Semasa hidup, beliau dikenal cerdas dan disiplin. Bahkan dipercaya menjadi penghulu Keraton Yogyakarta, sebelum akhirnya ikut dalam barisan perjuangan Pangeran Diponegoro.
Di pusaranya, banyak peziarah yang datang tak hanya untuk berdoa, tetapi juga mengenang semangat jihad beliau dalam melawan kolonialisme.
Mbah Kiai Abdul Ghofur, Sang Pendiri Pesantren Tarawih Cepat
Nama Mbah Kiai Abdul Ghofur lekat dengan Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Udanawu. Pesantren ini dikenal luas karena tradisi tarawih cepat yang khas.
Mbah Ghofur wafat tahun 1952, namun pesantrennya tetap hidup. Bahkan, keturunannya yaitu Gus Iqdam kini dikenal sebagai pendakwah muda dengan jamaah yang sangat banyak melalui Majelis Sabili Taubah.
Perjalanan dari Mbah Ghofur hingga Gus Iqdam menunjukkan bagaimana estafet dakwah di Blitar terus berlanjut lintas generasi.
Mbah Kiai Imam Bukhari, Ulama Panjang Umur
Di Desa Jatinom, Kanigoro, terdapat Makam Mbah Kiai Imam Bukhari. Beliau pendiri Pondok Pesantren Maftahul Ulum, salah satu pesantren bersejarah di Blitar.
Mbah Imam Bukhari lahir tahun 1823 di Yogyakarta dan wafat 1945 di usia 122 tahun. Panjang umur beliau membuatnya menyaksikan langsung perubahan besar bangsa, termasuk masa kemerdekaan.
Hingga kini, pesantrennya masih menjadi pusat pendidikan agama, meneruskan semangat perjuangan dan dakwah beliau.
Dari Masa Lalu Hingga Kini
Jejak makam wali di Blitar bukan sekadar peninggalan sejarah. Dari Syekh Sentono Dowo di Penataran hingga Gus Iqdam di Udanawu, semuanya membentuk mozaik spiritual yang menghidupkan identitas kota ini.
Masyarakat Blitar percaya bahwa keberadaan makam wali membawa keberkahan. Tak heran, setiap haul atau acara doa bersama, ribuan orang berdatangan untuk ngalap berkah.
Blitar, yang dikenal sebagai Kota Proklamator, ternyata juga memiliki sisi religius yang kental. Tradisi ziarah wali menjadi bukti bahwa sejarah dan spiritualitas berjalan beriringan di tanah ini.
Editor : Anggi Septian A.P.