Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Terowongan Ampera Gunung Kelud, Teknologi Mitigasi Bencana yang Selamatkan Ribuan Warga"

Anggi Septiani • Minggu, 21 September 2025 | 00:00 WIB
Terowongan Ampera Gunung Kelud, Teknologi Mitigasi Bencana yang Selamatkan Ribuan Warga
Terowongan Ampera Gunung Kelud, Teknologi Mitigasi Bencana yang Selamatkan Ribuan Warga

BLITAR-Gunung Kelud di Jawa Timur dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Sejak abad ke-15, letusannya telah menelan lebih dari 15 ribu korban jiwa. Namun, di balik kisah tragis itu, ada cerita inspiratif tentang bagaimana manusia beradaptasi lewat pembangunan teknologi mitigasi bencana.

Salah satunya adalah Terowongan Ampera, sebuah saluran khusus yang dibangun untuk mengalirkan air kawah agar tidak meluap saat gunung meletus. Terowongan ini menjadi saksi bisu perjuangan panjang masyarakat dalam menghadapi ancaman alam.

Gagasan pembangunan saluran pengaman muncul setelah letusan dahsyat Gunung Kelud pada 1919. Saat itu, aliran lahar dingin menghantam hingga 38 kilometer dari kawah dan menewaskan lebih dari 5.160 orang. Tragedi tersebut mendorong pemerintah kolonial Belanda merancang sistem pembuangan air kawah secara permanen.

Pembangunan dimulai pada 1920-an, dengan membangun serangkaian terowongan yang menembus tubuh gunung. Total ada tujuh saluran yang berhasil dibuat hingga 1926. Tujuannya sederhana tapi vital: menurunkan volume air kawah agar tidak meluap saat terjadi letusan.

Namun, sistem ini tak luput dari ujian. Pada letusan 1966, beberapa terowongan rusak parah akibat tekanan material vulkanik. Pemerintah kemudian membangun terowongan baru yang lebih dalam, sekitar 45 meter di bawah saluran lama. Terowongan inilah yang dikenal dengan nama Ampera, rampung pada 1967.

“Terowongan Ampera menjadi benteng penting bagi keselamatan warga sekitar Gunung Kelud. Tanpa saluran ini, setiap letusan bisa berakibat fatal,” ujar Eko Danang, peneliti sekaligus konten kreator sejarah Kelud melalui kanal YouTube-nya.

Fungsi Terowongan Ampera terbukti efektif dalam beberapa letusan berikutnya, termasuk pada 1990 dan 2014. Meski material vulkanik tetap menyebar luas, banjir lahar dingin yang biasanya menelan banyak korban bisa ditekan dampaknya.

Selain terowongan, ada pula sistem saluran lahar yang dibangun di sejumlah sungai yang berhulu di Kelud. Saluran ini berfungsi mengarahkan aliran material vulkanik agar tidak menyapu langsung pemukiman warga.

Keberadaan teknologi mitigasi ini menjadi contoh nyata bahwa manusia bisa belajar dari bencana. Dari tragedi 1919, lahirlah inovasi yang mampu menyelamatkan ribuan nyawa di masa-masa berikutnya.

Kini, Terowongan Ampera bukan hanya berfungsi sebagai sarana mitigasi bencana, tapi juga menjadi destinasi wisata sejarah. Banyak pengunjung yang datang untuk melihat langsung jalur air buatan yang pernah menjadi penentu keselamatan warga Kediri dan Blitar.

Gunung Kelud tetap menyimpan potensi bahaya, namun dengan adanya infrastruktur mitigasi modern dan sistem peringatan dini, masyarakat di sekitarnya bisa lebih siap menghadapi ancaman. Kisah tentang Terowongan Ampera menjadi simbol bahwa bencana bisa melahirkan inovasi dan kekuatan untuk bertahan..

Editor : Anggi Septian A.P.
#mitigasi bencana #terowongan ampera #gunung kelud