Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Tragis Ade Irma Suryani Nasution, Putri Jenderal Nasution yang Gugur Saat G30S 1965

Anggi Septiani • Selasa, 23 September 2025 | 05:05 WIB
Kisah Tragis Ade Irma Suryani Nasution, Putri Jenderal Nasution yang Gugur Saat G30S 1965
Kisah Tragis Ade Irma Suryani Nasution, Putri Jenderal Nasution yang Gugur Saat G30S 1965

BLITAR — Tragedi Gerakan 30 September 1965 (G30S) menyisakan kisah pilu yang hingga kini masih membekas. Salah satunya adalah gugurnya Ade Irma Suryani Nasution, putri Jenderal Abdul Haris Nasution, yang tewas tertembak pada usia lima tahun.

Peristiwa itu terjadi pada dini hari 1 Oktober 1965. Pasukan Cakrabirawa, yang ditugaskan menculik Jenderal Nasution, menyerbu kediaman di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Dalam kepanikan itu, sang jenderal berhasil meloloskan diri, namun putrinya justru menjadi korban.

Ade Irma yang sedang tidur terbangun oleh suara gaduh. Saat keributan memuncak, ia terkena tembakan pasukan yang mendobrak rumah. “Ade Irma terluka parah di bagian punggungnya akibat peluru,” demikian catatan sejarah tragedi G30S menyebutkan.

Luka itu membuat nyawa Ade Irma tak tertolong. Padahal usianya baru lima tahun. Kepergiannya menjadi luka mendalam tidak hanya bagi keluarga Nasution, tetapi juga bangsa Indonesia yang kehilangan seorang anak kecil dalam konflik politik.

Di saat bersamaan, ajudan Jenderal Nasution, Kapten Pierre Tendean, berusaha menyelamatkan komandannya. Ia dengan gagah berani mengaku sebagai Nasution untuk mengulur waktu. Keberanian itu membuatnya ditangkap pasukan Cakrabirawa, sebelum akhirnya gugur di Lubang Buaya.

Sementara itu, Jenderal Nasution sendiri berhasil melompat pagar belakang rumah untuk menyelamatkan diri. Namun, peristiwa tersebut meninggalkan luka yang tak akan pernah hilang dalam hidupnya.

Kisah tragis Ade Irma Suryani menjadi simbol betapa peristiwa G30S tidak hanya merenggut nyawa para jenderal, tetapi juga keluarga mereka. Anak kecil yang seharusnya tumbuh dalam kedamaian, justru harus meregang nyawa akibat peluru nyasar.

Tragedi G30S memang dikenal sebagai salah satu bab terkelam dalam sejarah Indonesia. Dalam operasi yang berlangsung malam itu, enam perwira tinggi Angkatan Darat diculik dan dibunuh, lalu jasadnya dibuang ke Lubang Buaya. Mereka kemudian dikenang sebagai Pahlawan Revolusi.

Namun, kisah Ade Irma menghadirkan sisi human interest yang jarang dibicarakan. Ia bukanlah seorang jenderal atau pejabat militer, melainkan seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang konflik politik.

Sejarawan menyebut, wafatnya Ade Irma menjadi pengingat bahwa korban konflik tidak hanya mereka yang berada di garis depan. “Tragedi G30S menunjukkan bahwa kekerasan politik bisa menyentuh siapa saja, bahkan seorang anak kecil,” kata salah seorang akademisi sejarah dalam sebuah diskusi.

Ade Irma kemudian dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Namanya juga diabadikan pada sebuah rumah sakit di Jakarta, yakni RS Anak dan Bunda Harapan Kita yang dahulu bernama RSAB Ade Irma Suryani.

Keberadaan nama itu menjadi tanda bahwa bangsa Indonesia tidak pernah melupakan pengorbanan seorang anak kecil yang gugur dalam tragedi kelam 1965.

Lebih dari setengah abad berlalu, cerita tentang Ade Irma terus diceritakan kembali setiap kali bangsa ini memperingati G30S. Kisahnya menyentuh hati banyak orang karena menghadirkan sisi kemanusiaan dari sebuah konflik berdarah.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perbedaan pandangan politik jangan sampai menelan korban yang tidak bersalah. Apalagi, hingga kini siapa dalang sebenarnya dari G30S masih menjadi perdebatan panjang dalam sejarah Indonesia.

Generasi muda diingatkan untuk tidak melupakan kisah seperti ini. Dengan mengenang Ade Irma, bangsa Indonesia bisa belajar bahwa perdamaian harus dijaga dengan menghindari kekerasan.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” begitu pesan Bung Karno yang masih relevan hingga hari ini. Menghormati jasa pahlawan bukan hanya dengan mengingat nama mereka, tetapi juga mengambil pelajaran dari kisah pilu seperti yang dialami Ade Irma Suryani Nasution.

Editor : Anggi Septian A.P.
#jenderal #ah nasution #Nasution #suryani #G30S 1965 #Ade Irma