Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Transformasi Besar Ignasius Jonan di PT KAI: Dari Toilet Stasiun hingga Kereta Full AC

Ichaa Melinda Putri • Senin, 13 Oktober 2025 | 17:00 WIB
Transformasi Besar Ignasius Jonan di PT KAI: Dari Toilet Stasiun hingga Kereta Full AC
Transformasi Besar Ignasius Jonan di PT KAI: Dari Toilet Stasiun hingga Kereta Full AC

BLITAR-Transformasi besar-besaran pada transportasi kereta api Indonesia dimulai ketika Ignasius Jonan ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada tahun 2009. Di bawah kepemimpinan pria yang sebelumnya berkarier di Citibank itu, wajah KAI berubah drastis — dari sistem yang semrawut, stasiun yang kotor, hingga menjadi moda transportasi publik paling disiplin dan nyaman di Tanah Air.

Jonan ditunjuk oleh Menteri BUMN saat itu, Sofyan Djalil, di masa KAI tengah merugi dan ditinggalkan publik. Sebelum 2010, kereta api identik dengan keterlambatan, pedagang liar, dan penumpang yang nekat naik di atap gerbong. Namun, Jonan memulai perubahan itu dengan filosofi sederhana: membenahi hal kecil terlebih dahulu.

Mulai dari Toilet Stasiun

Langkah pertama Jonan justru bukan membeli lokomotif baru, melainkan membersihkan toilet stasiun. Menurutnya, kebersihan menjadi cermin manajemen. “Kalau hal kecil saja tak diperhatikan, bagaimana bisa memperbaiki yang besar?” begitu prinsip yang dipegang Jonan.

Perubahan kecil itu menular. Stasiun-stasiun mulai rapi, toilet bersih, dan budaya disiplin tumbuh di kalangan pegawai. Tak berhenti di situ, Jonan juga memperbaiki sistem gaji pegawai agar mereka bisa bekerja dengan tenang dan bebas dari pungli. “Kalau karyawan senang, penumpang juga akan bahagia,” ujarnya dalam beberapa kesempatan.

Menertibkan Penumpang dan Pedagang

Salah satu gebrakan bersejarah Jonan adalah menghapus tradisi penumpang naik di atap kereta. Sebelum 2010, pemandangan orang bergelantungan di atas gerbong merupakan hal biasa, terutama di KRL Jabodetabek.

Untuk memahami masalahnya, Jonan bahkan mencoba naik KRL sendiri dari Bogor ke Jakarta. Ia merasakan panas dan sesaknya suasana di dalam gerbong non-AC. Dari situ lahirlah keputusan berani: semua KRL harus ber-AC. Pada Agustus 2012, seluruh rangkaian KRL di Jabodetabek akhirnya dilengkapi pendingin udara — tonggak penting sejarah perkeretaapian Indonesia.

Jonan juga menertibkan pedagang kaki lima yang berjualan di area peron stasiun. Banyak yang menolak, namun penertiban dilakukan dengan tegas. Beberapa pedagang yang memiliki latar pendidikan ditawari bergabung menjadi pegawai KAI. Pada 2013, stasiun-stasiun utama sudah bebas dari pedagang liar.

Reformasi Sistem dan Keuangan

Pada 22 Agustus 2013, KAI menerapkan sistem e-ticketing yang menggantikan karcis manual. Langkah ini menekan kebocoran dan mempercepat layanan. Dampaknya luar biasa — jumlah penumpang meningkat hingga 40 persen dalam setahun, dari 9.000 menjadi 15.000 per bulan.

Secara finansial, KAI juga bangkit. Jika pada 2008 perusahaan merugi sekitar Rp80 miliar, maka pada 2013 keuntungan melonjak menjadi Rp560 miliar. Jonan berhasil membuktikan bahwa reformasi budaya kerja dan pelayanan bisa mengangkat kinerja BUMN transportasi.

Penolakan terhadap Kereta Cepat

Meski dikenal sebagai pembaharu, Jonan justru menolak proyek kereta cepat. Menurutnya, APBN harus digunakan secara merata, bukan hanya untuk Pulau Jawa. “Lebih baik semua warga Indonesia bisa menikmati kereta biasa dulu, baru membangun yang cepat,” tegasnya.

Ia juga tak setuju dengan subsidi besar untuk KRL Jabodetabek, dan lebih mendukung subsidi untuk kereta perintis di luar Jawa. Prinsip pemerataan inilah yang kemudian menjadi ciri khasnya selama menjabat Menteri Perhubungan dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pengabdian dan Penghargaan

Jonan dikenal sebagai pekerja keras. Ia sering bekerja tujuh hari seminggu dan tak jarang menginap di stasiun. Rekan-rekannya bahkan pernah memotret Jonan tertidur di kursi kereta ekonomi — bukti kesungguhannya membenahi sistem dari bawah.

Atas kinerjanya, ia dinobatkan sebagai CEO BUMN Terbaik 2013 dan Marketeer of the Year 2013. Menteri BUMN Dahlan Iskan kemudian memperpanjang masa jabatannya, sebelum akhirnya Jonan diangkat menjadi Menteri Perhubungan dan kemudian Menteri ESDM.

Selama masa tugasnya, ia juga memimpin pengambilalihan 51 persen saham PT Freeport Indonesia — salah satu tonggak penting dalam sejarah industri tambang nasional.

Warisan Ignasius Jonan di KAI kini menjadi contoh sukses reformasi BUMN: membangun sistem dengan disiplin, empati, dan keberanian untuk memulai dari yang kecil. Toilet bersih mungkin tampak sepele, tapi dari sanalah lahir revolusi besar perkeretaapian Indonesia.

Editor : Anggi Septian A.P.
#reformasi bumn #krl jabodetabek #kereta api indonesia #ignasius jonan #pt kai