BLITAR - Peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober selalu menjadi momentum refleksi mendalam, terutama bagi masyarakat Jawa Timur yang kental dengan tradisi pesantren. Dalam sebuah acara tasyakuran Hari Santri di Surabaya, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilu Taubah, Muhammad Iqdam Kholid atau yang akrab disapa Gus Iqdam, mengupas tuntas bukan hanya peran santri sebagai pilar bangsa, tetapi juga filosofi mendalam di balik kata SANTRI.
Acara yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Ibu Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Bapak Emil Elestianto Dardak, dan sejumlah ulama besar seperti Syekh Asayid Abdul Aziz Ahmad Asyahawi Al-Husaini dari Mesir, ini menjadi saksi penegasan Gus Iqdam tentang makna santri yang jauh lebih luas dari sekadar orang yang pernah tidur di pondok pesantren.
Santri: Pilar Agama dan Bangsa
Gus Iqdam menegaskan bahwa Hari Santri yang merujuk pada Resolusi Jihad, menunjukkan bahwa santri adalah pilar agama dan pilar bangsa.
"Santri itu tidak hanya pilar agama, tapi pilar bangsa. Saya yakin, ketika rakyat Indonesia ini banyak yang menjadi santri, lafatahna alaihim barokatin minas-sama wal ard (Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan menumbuhkan barokah dari bumi)," ujar Gus Iqdam.
Beliau menjelaskan, dalam Makna Santri Sejati Gus Iqdam, santri memiliki arti yang sangat luas. Siapapun—mulai dari pengusaha, TNI, polisi, gubernur, hingga pedagang di pasar—yang dalam perjalanan hidupnya senantiasa mengikuti petunjuk (dauh) ulama yang menjelaskan syariat Allah SWT, maka dia adalah seorang santri. Santri, pada hakikatnya, adalah orang-orang pilihan yang mendapatkan petunjuk. Sejalan dengan Surah Al-An'am ayat 125, “Famay yuridillaha ay yahdiahu yasroh shodrohu lil Islam.” Orang yang dipilih Allah mendapat petunjuk akan dilapangkan dada dan hatinya untuk memeluk dan mempelajari agama Islam.
Mendalami Makna SANTRI: 5 Pilar Kehidupan
Untuk memperjelas hakikat ini, Gus Iqdam memaparkan penjabaran kata SANTRI berdasarkan pandangan ulama Ahlussunah wal Jamaah. Setiap hurufnya mengandung makna filosofis sebagai panduan hidup.
1. S: Salikun Ilal Akhirah (Menempuh Jalan Akhirat)
Huruf Sin (S) bermakna Salikun Ilal Akhirah. Maksudnya, dalam setiap aktivitas kehidupan, prioritas utama seorang santri adalah akhirat.
Seorang pedagang yang berniaga tidak hanya bertujuan menumpuk harta, melainkan untuk menyelamatkan diri dan keluarga dari perkara yang diharamkan, serta agar tidak tomak (mengharap pemberian) orang lain. Seorang pejabat seperti gubernur atau pangdam, niat utamanya adalah pengabdian dan menjaga bangsa, yang kesemuanya berorientasi pada ridha Allah SWT.
"Barang siapa yang tujuan utamanya akhirat, ja'alallahu ghinaa fiqolbih," kata Gus Iqdam. Hatinya akan diberi kekayaan batin (tentram), dan segala urusannya akan dibereskan oleh Allah SWT (waja'alallahu jama’a lahu syamlahu).
2. N: Naibun Anil Masyaikh (Pengganti Guru)
Huruf Nun (N) bermakna Naibun Anil Masyaikh. Seorang santri harus mampu menjadi pengganti atau cerminan gurunya (ulama) di manapun ia berada.
Ulama adalah pewaris ilmu Nabi Muhammad SAW (Ulama waratsatul Anbiya). Nabi adalah uswah hasanah (suri tauladan yang baik). Maka, santri harus meneladani akhlak mulia gurunya. Baik itu di lingkungan rumah tangga (berakhlak baik pada pasangan dan orang tua) maupun di lingkungan masyarakat (menjadi ketua RT/RW yang amanah).
3. T: Ta’ibun Anidz Dzunub (Orang yang Senantiasa Bertobat)
Huruf Ta (T) bermakna Ta’ibun Anidz Dzunub. Santri adalah orang yang istikamah bertobat.
Gus Iqdam memotivasi para jamaah, termasuk 'garangan-garangan' yang masih diliputi kemaksiatan, agar jangan bosan bertobat. Sebab, masa lalu yang buruk terkadang bisa menciptakan masa depan yang lebih baik. Sesuai sabda Rasulullah SAW: Kullu ibni Adam khotto’un (Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah).
Penjelasan filosofi Makna Santri Sejati Gus Iqdam ini akan dilanjutkan dengan huruf R dan Y (Ra dan Ya) yang juga memiliki makna penting bagi ketahanan iman dan kesuksesan hidup.
4. R: Raghibun Fil Khair (Rela Berbuat Kebaikan)
Huruf Ra (R) bermakna Raghibun Fil Khair. Seorang santri harus selalu memiliki kerelaan untuk berbuat kebaikan, sekecil apapun itu. Ini mencerminkan mentalitas untuk selalu bermanfaat bagi orang lain, bukan fokus pada kesenangan pribadi semata.
5. Y: Yatikal Farju Min Haitsu La Tahtasib (Kelapangan Hidup Datang Tak Terduga)
Huruf Ya (Y) merujuk pada prinsip yang sering beliau sampaikan: Yatikal Farju Min Haitsu La Tahtasib. Keyakinan bahwa kelapangan, kebahagiaan, dan rezeki pasti akan datang dari arah yang tidak pernah diduga. Dengan mengutamakan akhirat (Salikun Ilal Akhirah) dan istikamah berbuat kebaikan, santri akan mendapat pertolongan dan jalan keluar dari Allah SWT.
Dengan menjalankan kelima prinsip Makna Santri Sejati Gus Iqdam ini, umat akan menjadi pilar yang kokoh, baik bagi dirinya, keluarga, maupun bangsa, sehingga terhindar dari kehancuran umat yang disebabkan oleh meninggalkan ilmu dan menumpuk harta saja.(*)
Editor : Rahma Nur Anisa