BLITAR KAWENTAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar menyiapkan gerakan pengendalian (gerdal) serentak hama dan penyakit tanaman cabai rawit menjelang masa panen raya Februari hingga April 2026.
Upaya ini difokuskan untuk mengantisipasi serangan penyakit antraknose yang kerap menjadi momok bagi petani.
Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo mengatakan, gerdal akan difokuskan di tiga sentra utama produksi cabai rawit yakni Kecamatan Panggungrejo, Wates, dan Binangun. Hal itu karena dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen secara signifikan.
“Mulai minggu ini dan seterusnya, kami masih berkoordinasi dengan petugas organisme pengganggu tumbuhan (POPT) serta UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur untuk persiapan teknis di lapangan,” ujarnya.
Siswoyo melanjutkan, pengendalian dilakukan sedini mungkin agar serangan bisa ditekan. Apalagi luas tanam cabai rawit pada akhir 2025 tergolong cukup besar.
Pada Oktober 2025 lalu tercatat 140 hektare, November meningkat menjadi 2.518 hektare, dan Desember mencapai 2.936 hektare.
Dengan luasan tersebut, panen diperkirakan dimulai akhir Februari 2026 seluas 140 hektare, kemudian Maret 2.518 hektare, dan April 2.936 hektare.
Dari luasan itu, produksi diproyeksikan mencapai 728 kuintal pada Februari, 13.094 kuintal pada Maret, serta 15.267 kuintal pada April. “Tiga kecamatan sentra tersebut menjadi penyumbang terbesar produksi cabai rawit di Kabupaten Blitar dan berperan penting dalam memasok kebutuhan pasar regional,” ujarnya.
Dia menjelaskan, antraknose merupakan penyakit yang menyerang buah cabai dan menyebabkan busuk sehingga tidak layak jual.
Jika tidak dikendalikan sejak fase awal pertumbuhan, serangan bisa meluas dan mengakibatkan kerugian besar bagi petani.
Selain menjaga produktivitas petani, langkah ini juga diharapkan mampu menjaga stabilitas harga cabai di pasaran. Dengan pasokan yang terjamin saat panen raya, gejolak harga dapat ditekan.
Pemkab Blitar optimistis, melalui pengendalian terpadu, pendampingan teknis, dan koordinasi lintas instansi, produksi cabai rawit awal 2026 dapat diamankan sekaligus mendukung ketahanan pangan dan stabilitas pasokan di pasar.
“Pengendalian dini sangat penting. Kami berharap tanaman cabai tetap terjaga dari serangan hama dan penyakit, terutama antraknose, sehingga panen bisa maksimal,” pungkasnya. (jar/c1/ynu)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama