BLITAR KAWENTAR - Peringatan hari kasih saying atau biasa disebut Hari Valentine setiap 14 Februari kerap identik dengan perayaan cinta romantis di kalangan anak muda.
Namun di balik tradisi tersebut, terdapat sejarah panjang dan makna teologis yang lebih mendalam.
Pendeta Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Blitar, Pdt. Lazharo Edoa Nazarani, S.Si. Teol., CCM, menjelaskan bahwa Hari Valentine berasal dari kisah Santo Valentinus, seorang pendeta yang hidup pada abad ke-3 di Kekaisaran Romawi.
Saat itu, Kaisar Claudius II melarang para prajurit untuk menikah karena dianggap dapat melemahkan semangat tempur.
“Valentinus justru membantu pasangan muda menikah secara diam-diam karena ia percaya pernikahan adalah hal yang kudus. Akibat tindakannya, ia dipenjara dan akhirnya dieksekusi pada 14 Februari. Sejak saat itu tanggal tersebut dikenang sebagai Hari Valentine,” ujar Lazharo.
Dia melanjutkan, Selain kisah tersebut, terdapat pula teori lain yang menyebutkan bahwa Valentine berkaitan dengan festival Romawi kuno bernama Lupercalia.
Perayaan ini digelar setiap pertengahan Februari sebagai simbol kesuburan dan cinta.
Seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut mengalami pergeseran makna hingga dikenal luas sebagai hari kasih sayang.
Menurut Pdt. Lazharo, GKJW tidak menolak peringatan Valentine. Gereja memandang ada nilai teologis yang dapat dihayati umat, yakni kasih yang tulus, tidak terbatas, dan berkorban, sebagaimana diteladankan Yesus Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.
“Kasih dalam iman Kristen bukan hanya soal perasaan romantis, tetapi kasih yang memberi diri, mengampuni, dan peduli kepada sesama tanpa batas. Jika Valentine dimaknai seperti itu, tentu memiliki nilai yang baik,” terangnya.
Ia menegaskan, selama perayaan Valentine diisi dengan kegiatan positif dan tidak menyimpang dari ajaran iman Kristen, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.
Justru momen tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempererat persaudaraan, membangun kepedulian sosial, serta menumbuhkan sikap saling menghargai.
“Valentine bisa dirayakan secara sederhana, misalnya berbagi cokelat, bunga, atau bertukar kado sebagai simbol perhatian. Yang terpenting adalah makna kasihnya, bukan kemeriahannya,” imbuhnya.
Pdt. Lazharo juga mengingatkan agar umat tidak terjebak pada euforia semata.
Baginya, kasih sayang seharusnya diwujudkan setiap hari dalam kehidupan, baik di lingkungan keluarga, gereja, maupun masyarakat.
“Kasih bukan hanya dirayakan setahun sekali. Kasih harus menjadi gaya hidup. Dengan begitu, Valentine menjadi pengingat bahwa kita dipanggil untuk terus mengasihi,” pungkasnya.(jar/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah