BLITAR KAWENTAR – Fenomena Buka Bersama (Bukber) telah menjadi tradisi sekaligus tren gaya hidup yang sulit dipisahkan dari anak muda saat Ramadan.
Namun, di tengah lonjakan inflasi harga pangan yang kian terasa, tren ini berisiko memicu krisis finansial pribadi jika tidak dikelola dengan bijak. Menanggapi hal tersebut, Suprianto, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar, menekankan pentingnya strategi pengelolaan keuangan agar momen kebersamaan tidak berujung pada penyesalan pasca-Ramadan.
Baca Juga: Polisi Aktif Patroli Malam Hari Awasi Ronda di Jalanan Blitar-Kediri Menggunakan Sound Horeg
Menurut Suprianto, mengikuti tren bukber bukanlah sebuah kesalahan, namun stabilitas ekonomi rumah tangga tetap harus menjadi prioritas utama.
"Inflasi pangan adalah sinyal bahwa stabilitas ekonomi rumah tangga harus dijaga. Anak muda tetap bisa menikmati momen kebersamaan tanpa mengorbankan keamanan finansial," ungkapnya.
Untuk menghindari "bencana" keuangan, ia menyarankan anak muda untuk disiplin menetapkan batas anggaran bukber maksimal 10 hingga 15 persen dari pendapatan bulanan.
Selain itu, sangat dilarang menggunakan utang konsumtif hanya demi memenuhi tuntutan gaya hidup di media sosial.
Memprioritaskan dana darurat dan tabungan sebelum mengalokasikan dana hiburan adalah kunci utama agar arus kas tetap sehat.
Dengan memilih tempat makan yang sesuai kemampuan daripada sekadar mengejar tempat yang viral, anak muda bisa tetap eksis tanpa harus terjebak krisis finansial di tengah situasi ekonomi yang menantang.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.