Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dunia Kontraktor Ditinggalkan, Warga Kota Blitar Ini Pilih Tekuni Bertani Anggur Sistem Hidroponik

M. Subchan Abdullah • Rabu, 25 Februari 2026 | 13:00 WIB

Muhamad Ikram menunjukkan anggur premium di greenhouse miliknya di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, beberapa waktu lalu. Muhamad Ikram, Kontraktor Banting Setir Tekuni Pertanian Hidroponi
Muhamad Ikram menunjukkan anggur premium di greenhouse miliknya di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, beberapa waktu lalu. Muhamad Ikram, Kontraktor Banting Setir Tekuni Pertanian Hidroponi

BLITAR KAWENTAR - Kebun anggur dengan sistem greenhouse (GH) itu terhampar luas. Ada beberapa GH yang menjadi tempat bernaung buah yang identik dengan warna ungu serta hijau muda tersebut. Tanaman buah tersebut dirawat dengan maksimal agar menghasilkan anggur berkualitas bagus.


Kebun anggur itu dikenal dengan nama “Gus Anggur” yang berlokasi di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul. Adalah Muhammad Ikram, pemilik kebun anggur tersebut.

Belum lama dia menekuni budi daya anggur dengan sistem GH tersebut. Semua diawali karena krisis pandemi Covid-19 pada 2020 yang menghantam sendi-sendi perekonomian di masyarakat.

”Termasuk saya saat itu ikut terdampak karena latar belakang saya produsen telur ayam. Karena mobilitas dibatasi, pasokan telur ayam ke luar daerah tersendat,” ungkapnya kepada Koran ini.


Dampak yang paling terasa saat wabah Korona sedang tinggi-tingginya sekitar 2021-2022. Kala itu distribusi telur terganggu, bahkan hingga membuat operasional sempat terhenti. Dari situ, dia memutar otak agar tetap produktif di tengah pandemi.


“Saya berpikir bagaimana kami harus tetap produktif. Akhirnya kami mencoba untuk bertani. Saya memilih menanam anggur sesuai yang pernah bapak saya lakukan,” jelasnya.


Ikram lalu memberanikan diri untuk memulai budi daya anggur tersebut. Semua dilakukan secara otodidak tanpa bekal ilmu pertanian dari sekolah maupun kampus. Dengan modal nekat, dia lalu membangun dua greenhouse dengan luas ukuran 11x50 meter untuk permulaan.


Kala itu, dia tak memasang target untuk budi daya perdana anggurnya harus berhasil. Yang terpenting sudah berani untuk mencoba dan dijalani setiap proses dan tahapannya.

“Perkara hasilnya nanti seperti apa, itu pikir belakangan. Yang penting usaha dulu. Berproses,” katanya.


Berjalannya waktu, tak disangka bibit anggur yang ditanam dengan sistem hidropnik tersebut membuahkan hasil. Ikram menikmati panen anggur untuk pertama kalinya dengan hasil lumayan.


“Saat itu bisa dapat 600 kilogram sekali panen. Kemudian sempat viral di media sosial (medsos) hingga kebun saya banyak dikunjungi orang yang penasaran untuk memetiknya langsung,” aku pria 52 tahun ini.


Rata-rata anggur yang dibudi daya merupakan anggur premium. Bibitnya dia peroleh secara ekspor atau lewat perantara seorang rekannya. Dia memilih anggur premium karena peluang pasarnya cukup menjanjikan.


Peminatnya cenderung dari kalangan menengah ke atas. Maklum, harga anggur premium lebih mahal dibanding nonpremium atau jenis lokal. “Biasanya anggur-anggur premium ini dijualnya di supermarket, swalayan, atau toko-toko modern lainnya,” ujar mantan kontraktor ini.


Selama budi daya anggur, Ikram sedikit banyak belajar tentang pertanian. Baik itu lewat pengalamannya, cuplikan video, maupun saran dan masukan rekan-rekannya sesama petani anggur.

”Lewat pengalaman saya budi daya anggur ini, ternyata dalam merawat tanaman anggur itu harus ekstra. Tanaman anggur ini tergolong tanaman sensitif terhadap cuaca karena dia termasuk tanaman tropis,” bebernya.


Salah satu perlakuan yang wajib diperhatikan yakni dalam hal pemupukan. Apabila gagal dalam pemupukan, tanaman sulit tumbuh maksimal dan terancam gagal panen. “Bisa-bisa mengulang lagi dari awal. Maka itu, SOP dalam perawatan tanaman anggur harus benar-benar dijalankan,” tandasnya.


Sejak sukses panen perdana kala itu, Ikram lantas menjadikan kebun anggur tersebut sebagai media belajar atau edukasi pelajar hingga mahasiswa.

Beberapa kali juga jadi objek kunjungan dinas pertanian. Hasilnya, dinas merespons positif budi daya anggur premium tersebut dan diharapkan bisa menjadi motivasi bagi anak muda untuk bertani.


Adapun jenis anggur yang dibudidayakan di Gus Anggur di antaranya Shine Muscat, dixon, jupiter, hingga transfigurasi.

Sejauh ini, anggur hasil budi dayanya tersebut dibeli oleh konsumen dari sejumlah daerah, bahkan sampai luar pulau Jawa. Pemasarannya dilakukan dengan dua cara, yakni secara online dan petik langsung ditempat.


“Biasanya ketika masuk masa panen, kami buka wisata petik anggur. Selama ini yang datang ke sini tak hanya warga lokal, tetapi juga luar daerah,” terang pria yang kini sudah memiliki lima greenhouse tersebut.


Kesempatan wisata petik anggur itu pun dia manfaatkan dengan baik sekaligus sarana edukasi pertanian bagi pengunjung. Apalagi yang berkunjung dari kalangan anak muda.

“Saya senang sekali jika yang datang ke sini anak muda dan mereka bersemangat untuk belajar bertani, khusus sistem hidroponik ini,” tuturnya.


Ikram berharap wisata petik anggur yang dikelolanya tersebut membawa dampak positif bagi iklim usaha pertanian di Blitar. Selain itu, bisa memotivasi anak muda agar tertarik untuk bertani. Khususnya bertani buah premium yang memiliki peluang besar.


“Dengan mengembangkan potensi petani lokal, diharapkan kebutuhan buah di daerah terpenuhi, termasuk buah impor. Kita gak lagi ketergantungan buah impor karena sudah bisa mencukupi sendiri, paling tidak 10 persennya lah,” pungkasnya. (*/c1/ady)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Anggur Premium #Gus Anggur Blitar #pertanian hidroponik #wisata petik anggur #Budidaya Anggur Greenhouse