BLITAR KAWENTAR - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar memastikan pangkalan elpiji 3 kilogram (kg) masih menjual sesuai harga eceran tertinggi (HET).
Hal itu diketahui setelah dilakukan pengecekan langsung ke salah satu pangkalan di wilayah setempat.
Kepala Disperindag Kota Blitar, Parminto mengatakan, hasil pengecekan menunjukkan distribusi dan harga di tingkat pangkalan masih sesuai ketentuan.
“Saya tadi cek di salah satu pangkalan, menjual tetap sesuai HET. Dalam sekali dropping sekitar 200 tabung dan pengiriman dilakukan dua kali dalam seminggu.
Bahkan saat dicek masih ada sisa delapan tabung elpiji 3 kg,” ujarnya kepada Koran ini kemarin (5/3).
Menurut Parminto, kelangkaan yang dirasakan masyarakat biasanya terjadi karena pola konsumsi dan pembelian warga, yang menyimpan lebih dari satu tabung gas sebagai cadangan.
“Biasanya satu rumah punya dua tabung, satu dipasang dan satu untuk cadangan. Ketika tabung habis dan di pangkalan tidak bisa membeli lagi karena jatahnya sudah habis, akhirnya mereka mencari di pengecer yang harganya lebih tinggi,” jelasnya.
Dia mengaku, kebutuhan elpiji 3 kg di Kota Blitar mencapai sekitar 7.200 tabung per hari, dan itu sesuai dengan kuota dari pihak Pertamina.
Sementara itu, Manajer PT Petro Jaya Gas, Rahadian Eka Priyanto mengatakan, agen hanya dapat memantau langsung proses distribusi hingga tingkat pangkalan.
“Agen bermitra dengan Pertamina dan pangkalan, jadi yang bisa kami monitor hanya sampai pangkalan. Kalau sudah sampai pengecer, kami tidak bisa mengatur,” katanya.
Rahadian juga menegaskan bahwa pangkalan yang menjual di atas ketentuan dapat dikenai sanksi tegas.
“Jika ada pangkalan resmi yang menjual hingga Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu, kami pastikan akan ada pemutusan hubungan usaha,” pungkasnya. (bud/c1/ady)