BLITAR KAWENTAR - Petani cabai di Kabupaten Blitar menghadapi tantangan serius akibat meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman.
Tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir membuat kondisi lahan menjadi lembap dan memicu berkembangnya berbagai organisme pengganggu tanaman.
Pengurus Gapoktan Tani Lestari, Desa Sumberkembar, Kecamatan Binangun, Selamet, mengaku prihatin dengan kondisi hama yang menyerang tanaman cabai.
Serangan penyakit patek atau antraknosa membuat kualitas buah cabai menurun drastis.
“Kalau patek itu sekarang ibaratnya 1 kilo yang bagus, 1 kilo jelek. Banyak buah yang bercak dan busuk, jadi hasil panen tidak maksimal. Apalagi cuaca ekstrem melanda beberapa hari terakhir ini,” ujarnya.
Selamet melanjutkan, selain penyakit patek, serangan tikus juga semakin meresahkan petani.
Meski sebelumnya telah dilakukan berbagai upaya pengendalian, mulai dari penyemprotan hingga pengobatan tanaman, populasi tikus disebut masih sulit ditekan.
Hama tersebut bahkan menyerang tanaman dari bagian bawah dan memakan batang di sekitar gundukan tanah sehingga tanaman mudah rusak. Hal itu membuat tanaman tidak bisa berkembang bahkan mati.
“Kami masih berusaha mencari solusi untuk mengatasi dan mencegah penyakit pada tanaman cabai ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo menjelaskan, tingginya curah hujan menjadi salah satu faktor utama meningkatnya serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai.
“Dengan curah hujan tinggi hampir setiap hari, kelembapan tanah meningkat. Kondisi ini memicu munculnya penyakit seperti layu fusarium, gemini yang ditandai daun menguning, serta antraknosa yang menyebabkan bercak pada buah cabai. Selain itu, ada juga serangan tikus di beberapa lokasi,” katanya.
Berdasarkan laporan yang diterima, sekitar 20 persen tanaman cabai di sejumlah lahan dilaporkan terdampak serangan hama dan penyakit tersebut.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah baginya dan petani untuk mencegah penyakit itu sehingga tidak menjalar lebih luas.
Selain faktor cuaca, pemilihan benih juga menjadi salah satu penyebab tanaman rentan terserang penyakit.
Sebagian besar petani di Kabupaten Blitar masih menggunakan benih lokal hasil panen sebelumnya yang ditangkarkan secara mandiri. “Pemilihan benih sangat menentukan.
Seharusnya benih diambil dari buah yang benar-benar sehat dan berkualitas baik,” pungkas Siswoyo. (jar/c1/ynu)
Editor : Anggi Septian A.P.