Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengenal Imam Marwan, Seniman Wayang Asal Desa Sumberagung, Gandusari, Ingin Lestarikan Budaya di Usia Senja

Mohammad Syafi'uddin • Jumat, 10 Mei 2024 | 02:32 WIB
BERTAHAN: Imam Marwan menunjukkan salah satu hasil karyanya berupa wayang berukuran cukup besar
BERTAHAN: Imam Marwan menunjukkan salah satu hasil karyanya berupa wayang berukuran cukup besar

BLITAR - Seni memang tidak pernah mengenal usia. Itu dibuktikan oleh Imam Marwan, 80, warga Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari.

Kecintaan pada wayang kulit membuatnya masih produktif membuat aneka tokoh pewayangan dari kulit. 

Meskipun keriput hingga pendengaran yang mulai berkurang, itu tidak menjadi halangan. HUNIAN sederhana di salah satu jalan utama Desa Sumberagung tampak sepi kemarin.

Namun, saat memasukinya, terpampang wayang kulit dan lukisan dengan berbagai ukuran. Ini rumah kediaman sekaligus bengkel kreasi Imam Marwan.

Sudah tak terhitung jumlah karyanya, baik wayang maupun lukisan. Beberapa tokoh wayang yang telah dibuatnya seperti Arjuna, Gareng, Petruk, dan Bagong. 

Tentunya dengan ukuran dan bahan yang berbeda. Ada dua jenis bahan yang selalu digunakan dalam menghasilkan karya. Yakni, karet talang air dan kulit hewan.

Tentunya, ukuran dan bahan menentukan harga. Biasanya, wayang ukuran besar yang terbuat dari karet talang dibanderol Rp 1 juta sampai Rp 2 juta.

Harga juga bergantung pada kerumitan wayang. Kemudian untuk bahan dari kulit hewan dibanderol mulai dari Rp 2,5 juta. 

“Wayang kecil dari karet talang, saya banderol Rp 250 ribu, dan yang sedang Rp 500 ribu. Namun ini tergantung kerumitan dari wayang. Jika wayang yang diinginkan rumit, harga bisa melonjak hingga Rp 750 ribu,” jelas Imam.

Dia mengungkapkan, perbedaan harga ini disebabakan oleh berbagai faktor. Salah satunya bahan dasar.

Proses pembuatan wayang dari kulit cenderung lebih lama dan sulit daripada karet talang.

Langkahnya mulai dari penjembrengan selama sebulan di bawah terik matahari, pengerokan bulu, lalu direndam ke dalam air gamping selama seminggu.

Tidak berhenti di sana. Langkah selanjutnya ialah pembentangan lagi, lalu dipasrah, dan baru siap digunakan untuh bahan dasar wayang. Alat yang digunakan berupa pensil, cat warna, palu, dan alat ukir.

“Pembuatan wayang dari karet talang itu lebih mudah. Bahkan sudah digunakan untuk tampil di beberapa event. Seperti di Nglegok, Museum Penataran, atau sekedar di sekitar rumah dengan tanggapan ruwatan,” ujar pria yang tinggal sendiri ini.

Ternyata, dia tak pernah menekuni pendidikan khusus atau belajar ke seorang ahli dalam pembuatan wayang.

Kemampuannya dalam membuat wayang hanya dari pengamatan dan telah dilakoninya dari umur 25 tahun.

Dari sekedar penasaran dan rasa suka, dia tergugah untuk berkarnya. 

Awalnya, dia sempat melihat-lihat pembuatan wayang di wilayah Jawa Tengah. Lalu mencoba membuka jasa perbaikan wayang, hingga akhirnya bisa membuat wayang sendiri.

“Dari situ, saya mulai merakit wayang sendiri. Ngarang dari nol, sampai akhirnya karya saya layak untuk dijual. Awalnya dari masyarakat sekitar rumah, kemudian menyebar dari mulut ke mulut,” ungkap lelaki ramah ini.

Lambat laun, karena kebutuhan meningkat dan demi menyambung hidup, kerajinan yang dibuatnya bertambah.

Mulai dari membubut, melukis, perbaikan peralatan rumah, pembuatan wayang, jual wayang, dan perbaikan wayang.

Namun, saat pandemi Covid-19 merajalela, penjualan karyanya terjun bebas. Omzet pun merosot. Bahkan, pemerosotan pendapatan ini terasa sampai sekarang. 

“Ya setidaknya masih bisa bertahan, meskipun pendapatan turun drastis,” keluhnya. (*/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#gandusari #produktif #Usia #seni #wayang kulit