BLITAR - Nuraini Maslickah, alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, warga Desa Selokajang, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, telah mencurahkan dedikasinya dalam kegiatan kemanusiaan sejak 2021.
Kini, dia bekerja sebagai social media management sekaligus content creator di perusahaan mainan terbesar di Indonesia.
Rani, panggilan akrabnya, tetap mengingat masa-masa penuh makna saat menjadi volunteer alias relawan yang membantu korban bencana di berbagai wilayah.
Kepada Jawa Pos Radar Blitar, Rani membagikan pengalaman saat menjadi relawan di berbagai lokasi bencana, seperti letusan Gunung Semeru dan banjir bandang di Malang.
“Jadi, Volunteer ini konsepnya bukan aku yang Volunteer sendiri, melainkan ada tim regional dari Jawa Timur meluncur bersama saat ada bencana di wilayah Jawa Timur (Jatim) seperti banjir bandang di wilayah Malang. Kalau Semeru, karena skalanya besar, tim pusat dari Jakarta ikut turun langsung bersama kami,” ungkapnya, kemarin (24/1).
Selain itu, Rani mengatakan bahwa motivasinya untuk terjun di kegiatan ini didasari kecintaannya pada bidang sosial dan kemanusiaan.
Dia bergabung dengan organisasi bernama Cakra setelah melihat pembukaan pendaftaran Volunteer di media sosial.
Walaupun mencintai kegiatan ini, ternyata ada tantangan tersendiri yang dihadapi Rani saat menjadi Volunteer di lokasi bencana, salah satunya abu vulkanik yang menghambat pernapasan saat berada di lokasi bencana letusan gunung.
“Ada sih tantangannya, seperti sulit adaptasi sama lingkungan, apalagi di bencana besar seperti Semeru. Selain itu, harus berbaur dengan Volunteer dari berbagai daerah, seperti Makassar dan Bali, yang punya budaya berbeda. Ditambah, kondisi alam seperti abu vulkanik dan wedus gembel yang mengharuskan kita bertahan dengan makan seadanya,” kenang Rani.
Dia juga mengungkapkan bahwa sebagai Volunteer non profit dan mengeluarkan biaya secara mandiri, tetapi semangat membantu korban tetap menjadi prioritas. Dalam timnya, dia sempat bertugas di bagian logistik.
Namun, pengalaman di Semeru membuatnya merangkap tugas di bidang psikososial, terutama untuk membantu anak-anak yang mengalami trauma.
“Salah satu pengalaman menyentuh adalah ketika ada anak yang mewarnai gambar bunga dengan warna hitam. Setelah kami pelajari, ternyata dia masih trauma karena wedus gembel yang menimpa rumahnya. Kami pun melakukan trauma healing seperti mengajak mereka berenang dan rekreasi untuk mengembalikan keceriaan mereka,” cerita Nuraini.
Selain membantu di posko dengan mengembalikan keceriaan anak-anak, Rani dan tim juga berinisiatif membangun kembali fasilitas yang rusak akibat bencana.
“Kami pernah membangun sekolah darurat dari bambu, lengkap dengan meja dan papan tulis di lokasi bekas bencana setelah menemukan sekolah yang roboh total. Selain itu, kami juga membantu menyewakan kontrakan bagi warga yang kehilangan rumah,” kenangnya.
Bagi Gadis 26 tahun ini, setiap pengalaman sebagai Volunteer sangat berkesan. Meski kini aktivitasnya terbatas karena sudah menikah, dia tetap berharap bisa kembali terlibat dalam kegiatan kegiatan kemanusiaan ini di masa depan.
Ia juga mengungkapkan pandangannya yang berubah selama menjadi relawan. Influencer yang terlihat Hedon di media sosial ternyata di kehidupan nyata sangat peduli dengan sesama, dengan ikut terjun sebagai volunter di organisasi Rani.
“Ternyata orang-orang dari Jakarta yang kelihatannya hedon justru sangat peduli. Bahkan, banyak influencer ikut dalam agenda organisasi kami yang fokus di Papua, Makassar, dan daerah-daerah terpencil lainnya,” tuturnya.
Kisah Rani ini membuktikan bahwa semangat membantu sesama tidak hanya memberikan manfaat bagi orang lain, tetapi juga memberikan pengalaman hidup yang tak terlupakan. (han/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah