BLITAR – Kerajaan Medang merupakan saksi bisu sejarah di bawah kepemimpinan Prabu Airlangga. Dahulu kala, sempat terjadi perpecahan akibat sang raja membagi Kerajaan menjadi dua, yakni Jenggala dan Panjalu (Kediri).
Prabu Airlangga, merupakan putra dari Raja Udayana Bali dan Mahendradatta (Dharmapatni), naik tahta setelah menikahi putri Kerajaan Medang. Memasuki usia tua, ia berniat turun tahta dan hidup sebagai pertapa.
Namun, Putri Sanggramawijaya (Dewi Kili Suci), putri tunggalnya dari permaisuri, menolak menggantikannya dan memilih menjalani hidup sebagai pertapa di Gua Selomangleng.
Karena tidak ada yang bersedia menjadi penerus tahta, maka Prabu Airlangga memilih antara kedua putranya yaitu Raden Jayengrana dan Raden Jayawarsa.
Kedua pangeran ini memiliki hak yang sama untuk memperebutkan tahta. Akibat dari perebutan tahta ini, Prabu Airlangga khawatir akan terjadi pertumpahan darah.
Prabu Airlangga mengeluarkan kebijakan yang adil dengan memanggil Empu Barada untuk membantu membagi tahta kerajaan.
Empu Barada memanfaatkan kendi miliknya yang diisi dengan tujuh mata air. Dari air tersebut terciptalah Sungai Brantas sebagai pembatas.
- Kerajaan Jenggala (sebelah timur Sungai Brantas) diberikan kepada Jayengrana.
- Kerajaan Panjalu/Kadiri (sebelah barat) diserahkan kepada Jayawarsa.
Pembagian ini membuktikan mampu mencegah perang saudara sekaligus menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Kediri dan Singhasari.
Setelah kerajaan terbagi, Prabu Airlangga mengundurkan diri dan bertapa di Pucangan dengan mengubah gelar Maha Resi Gentayu.
Sementara itu, Panjalu berkembang menjadi Kerajaan Kadiri, yang kelak melahirkan raja-raja terkenal seperti Jayabaya.
Sungai Brantas menjadi sungai terpanjang di Jawa Timur dan menyimpan jejak sejarah dalam peradaban masa lalu.
Baca Juga: Kenapa SK PIP Bisa Berubah Tanggalnya? Ini Dugaan Penyebabnya
Prasasti Pucangan (1041 M) tercatat bagian kerajaan ini sebagai salah satu momen penting sejarah Jawa kuno.
Pembagian Kerajaan Medang oleh Prabu Airlangga bukan sekadar legenda, melainkan strategi politik cerdas yang berdampak panjang bagi sejarah Jawa.
Warisannya masih bisa dilihat dari budaya, prasasti, dan sungai Brantas yang tetap menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.