BLITAR – Kita sering mendengar cerita tentang seseorang yang terpuruk akibat trauma masa kecil.
Keterpurukan seseorang begitu mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, trauma adalah beban berat yang harus kita pikul seumur hidup.
Di sebuah episode podcast Suara Berkelas, Agus Leo Halim menyampaikan pandangan tentang "Trauma itu sebenarnya pilihan."
Pernyataan ini bukan datang dari seorang motivator tanpa dasar, melainkan merujuk pada ajaran Alfred Adler, psikolog ternama abad ke-20 yang pemikirannya diangkat dalam buku The Courage to Be Disliked (Berani Tidak Disukai).
Adlerian Psychology, menawarkan perspektif radikal tidak ada yang namanya determinisme psikologis.
Artinya, seberapa buruk masa lalu tidak menentukan masa depan kita. Luka emosional yang kita bawa bukanlah penyebab, melainkan alasan yang kita pilih untuk tetap berada dalam zona nyaman ketidakberdayaan.
"Ketika seseorang mengatakan 'saya seperti ini karena trauma masa kecil'," jelas Agus menirukan Adler, "sebenarnya dia sedang memilih untuk tidak berubah."
Di ruang terapi psikologi konvensional, kita mengenal PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) sebagai kondisi medis nyata yang memerlukan penanganan serius.
Otak korban trauma fisik maupun emosional memang mengalami perubahan biologis, produksi kortisol yang tidak seimbang.
Adler tidak pernah menyangkal realitas penderitaan. Yang ia tantang adalah narasi yang kita bangun di sekitar penderitaan tersebut.
Ia mengingatkan bahwa di antara stimulus (trauma) dan respons (cara kita hidup), selalu ada ruang untuk memilih. Ruang itulah yang menjadi tempat pertumbuhan diri seseorang sesungguhnya.(*)
Baca Juga: Cara Cek SK PIP Terbaru di pip.kemdikbud.go.id, Lengkap dengan Simulasi Login
Editor : Anggi Septian A.P.