BLITAR - Rujak cingur, makanan khas Jawa Timur, kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta kuliner. Perdebatan muncul karena bumbu utama rujak ini, yaitu petis, ternyata memiliki versi berbeda antar daerah.
Sebagian masyarakat menilai rujak cingur harus menggunakan petis asli. Namun, ada pula yang berpendapat campuran beberapa jenis petis membuat cita rasa lebih kaya. Pertanyaan yang muncul kemudian, mana yang lebih autentik?
“Setiap daerah di Jawa Timur punya kebiasaan berbeda dalam meracik petis untuk rujak cingur,” ujar salah satu konten kreator kuliner yang membahas makanan khas Jatim di YouTube. Menurutnya, perbedaan racikan ini yang justru membuat rujak cingur selalu menarik untuk dibicarakan.
Rujak cingur dikenal sebagai kuliner tradisional dengan bahan sederhana seperti buah-buahan, sayuran, lontong, serta cingur sapi. Semua bahan tersebut kemudian disatukan dengan bumbu kacang yang diberi campuran petis dan pisang batu. Dari sinilah perbedaan mulai muncul.
Di Surabaya, petis yang digunakan cenderung murni dari udang. Bumbu terasa lebih tajam dengan aroma khas laut. Sementara di beberapa daerah lain, seperti Malang atau Sidoarjo, racikan petis sering dicampur dengan bawang putih, jeruk nipis, atau bahkan beberapa jenis petis sekaligus.
Kontroversi ini semakin ramai karena masing-masing daerah mengklaim cita rasanya paling otentik. Bagi warga Surabaya, rujak cingur tanpa petis asli udang dianggap “tidak sah”. Sebaliknya, warga Malang justru merasa campuran petis membuat rasa lebih segar dan bisa diterima banyak lidah.
Seorang penjual rujak cingur di kawasan Tunjungan Surabaya menegaskan, “Kalau pakai campuran, rasanya beda. Petis asli udang itu yang bikin khas. Pembeli saya banyak yang cari rasa itu.”
Namun di Sidoarjo, seorang pedagang kaki lima berpendapat sebaliknya. Ia mengatakan, racikan campuran petis dengan bawang putih membuat pelanggan ketagihan. “Rasanya lebih ringan, tidak terlalu amis, cocok untuk semua kalangan,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kuliner bisa memunculkan identitas daerah. Sama-sama menyajikan rujak cingur, namun cita rasa bisa berbeda jauh hanya karena satu bahan utama. Hal ini membuktikan betapa kaya tradisi kuliner Jawa Timur.
Tak hanya soal rasa, perdebatan tentang petis juga membawa dampak pada citra kuliner Jawa Timur di mata wisatawan. Sebagian wisatawan asing misalnya, mengaku kesulitan menerima rasa petis yang terlalu kuat. Versi campuran dianggap lebih ramah di lidah mereka.
Meski begitu, rujak cingur tetap menjadi simbol kuliner Jawa Timur yang tak tergantikan. Perbedaan racikan justru memberi ruang diskusi dan keunikan. Banyak food vlogger kini menjadikan perdebatan petis sebagai konten menarik yang bisa memancing komentar dari warganet.
“Perdebatan ini tidak akan pernah selesai, tapi justru itu yang membuat rujak cingur selalu hidup dalam ingatan,” kata konten kreator kuliner tersebut.
Pada akhirnya, baik petis asli maupun campuran, keduanya memiliki penggemar masing-masing. Rujak cingur tetaplah bagian penting dari warisan kuliner Jawa Timur yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
Bagi wisatawan yang berkunjung, mencoba rujak cingur di beberapa daerah bisa menjadi pengalaman unik. Mereka bisa merasakan langsung bagaimana perbedaan racikan petis menghadirkan cerita baru dari satu makanan yang sama.
Kontroversi petis ini seolah menjadi bumbu tambahan bagi rujak cingur. Bukan hanya soal makanannya, tapi juga tentang cerita, identitas, dan kebanggaan daerah
Editor : Anggi Septian A.P.