BLITAR – Puasa hari Kamis memiliki keutamaan besar dalam ajaran Islam. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW, hari Kamis disebut sebagai waktu diangkatnya amal manusia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena itu, Rasulullah memilih berpuasa pada hari tersebut agar amalnya disampaikan dalam keadaan sedang beribadah.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika Nabi SAW berpuasa di hari Kamis, seorang sahabat bertanya, “Mengapa engkau berpuasa di hari itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Haza al-yaumu yurfa‘ul ‘amal, wa uhibbu an yurfa‘a ‘amali wa ana shaim” yang artinya: “Hari ini adalah hari ketika amal-amal diangkat, dan aku ingin ketika amal itu diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.”
Penjelasan ini disampaikan dalam sebuah kajian oleh seorang ustaz, yang menekankan bahwa puasa hari Kamis bukan sekadar rutinitas, tetapi sarana untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas amal saleh.
Dalam ceramah tersebut, ustaz menjelaskan bahwa orang yang berpuasa memiliki dua keistimewaan utama. Pertama, puasa mendorong seseorang untuk meningkatkan amal salehnya. Saat berpuasa, seseorang cenderung lebih rajin beribadah — dari salat wajib hingga ibadah sunah seperti membaca Al-Qur’an dan bersedekah.
“Kalau tidak percaya, silakan lihat. Saat seseorang berpuasa, amal salehnya meningkat. Yang biasanya hanya salat wajib, kini menambah dengan salat sunah. Yang jarang membaca Al-Qur’an, tiba-tiba rajin tilawah. Itulah keberkahan puasa,” ungkap sang ustaz.
Keistimewaan kedua, orang yang berpuasa cenderung lebih mampu menahan diri dari perbuatan maksiat. Puasa melatih kontrol diri dan menguatkan kesadaran spiritual agar menjauhi dosa, bahkan saat tidak ada orang yang melihat.
“Orang puasa tidak akan mencuri, berdusta, atau berbuat maksiat, karena minimal ia takut puasanya batal. Itulah kekuatan puasa yang sesungguhnya,” lanjutnya.
Puasa juga menjadi latihan spiritual dalam mengendalikan emosi. Ustaz mencontohkan bagaimana orang yang sedang berpuasa mampu menahan amarah ketika mendapat provokasi.
“Bayangkan, seseorang yang puasa lalu dimarahi orang lain menjelang magrib. Ia bisa saja membalas, tapi dia menahan diri. Setelah buka, malah lupa untuk marah. Karena sadar, kalau dibalas, pahalanya justru hilang,” ujarnya dengan nada humoris.
Kondisi ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa puasa hari Kamis bukan hanya ibadah fisik, melainkan ibadah hati yang menumbuhkan kesabaran dan ketenangan.
Selain puasa hari Kamis, ustaz juga menjelaskan hikmah berpuasa di hari kelahiran. Berdasarkan hadis lain, Nabi SAW berpuasa di hari Senin karena hari itu merupakan hari kelahirannya. Dari situ, umat Islam dapat meneladani dengan berpuasa pada hari ulang tahun mereka sebagai bentuk introspeksi diri.
“Puasa di hari kelahiran bisa diartikan dua hal. Pertama, secara hakiki, benar-benar berpuasa. Kedua, secara maknawi, mengoreksi diri. Sudah sejauh mana amal kita meningkat hingga hari ini?” tuturnya.
Ia mengingatkan agar momentum ulang tahun tidak sekadar dirayakan dengan pesta dan tiup lilin, melainkan dijadikan waktu muhasabah. “Kalau usia sudah 50 tahun, coba renungkan. Sudah berapa amal saleh yang dilakukan? Sudah berapa dosa yang ditinggalkan? Itulah makna puasa yang sebenarnya,” tambahnya.
Lebih lanjut, ustaz menegaskan bahwa puasa merupakan sarana terbaik untuk mengoreksi diri. Dengan menahan diri dari makanan dan hawa nafsu, seseorang diajak untuk lebih banyak beristigfar dan memohon ampunan kepada Allah.
“Setiap kali datang hari ulang tahun, hendaknya seorang Muslim berkata: Astagfirullah, Ya Allah, aku sudah sekian tahun hidup. Bagaimana bekal amalanku kalau hari ini aku wafat?” ujarnya.
Ia menutup tausiyahnya dengan pesan agar umat Islam terus menjaga semangat ibadah, terutama melalui amalan sunah seperti puasa hari Kamis. “Jangan sampai usia bertambah, tapi amal tidak bertambah. Jadikan setiap Kamis sebagai waktu memperbaiki diri dan memperbanyak amal,” pungkasnya.