BLITAR KAWENTAR - Apakah manusia dikendalikan oleh emosi, atau justru sebaliknya? Dalam salah satu sesi Kelas Pakar, psikiater dr. Jimy Ardian menegaskan bahwa manusia bukan objek pasif yang ditentukan oleh emosi, melainkan subjek aktif yang membentuk emosinya sendiri.
Selama ini, banyak orang percaya bahwa emosi muncul secara otomatis ketika menghadapi situasi tertentu. Namun, menurut dr. Jimy, keyakinan itu keliru. Ia mencontohkan: saat melihat ular, tidak semua orang merasa takut. Ada yang justru tertarik atau gembira. Reaksi itu dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, konteks sosial, dan interpretasi kognitif.
“Emosi bukan respon bawaan, tapi hasil konstruksi yang dibentuk oleh pengalaman, bahasa, dan budaya,” jelasnya. Melalui proses pembelajaran, seseorang membentuk asosiasi tertentu antara pengalaman dan sensasi tubuh, lalu memberinya label emosional seperti “takut”, “marah”, atau “bahagia”.
Ia juga menyoroti peran bahasa dalam membentuk emosi. Tanpa kata, manusia tidak bisa mengidentifikasi perasaannya secara spesifik. dr. Jimy mencontohkan istilah imajiner “chitatolessness”, yaitu perasaan kehilangan ketika camilan favorit (seperti Chitato) habis. Jika banyak orang memahami istilah itu, maka “chitatolessness” bisa menjadi emosi baru yang diakui secara sosial.
Dengan demikian, emosi bersifat relatif dan bergantung pada konteks budaya serta persepsi kolektif. Sama seperti uang, emosi menjadi “nyata” karena disepakati bersama.
Kesadaran bahwa manusia adalah pencipta emosi memberi kekuatan untuk mengelola hidup dengan lebih sadar. “Kita bukan korban perasaan. Kita tuannya,” tegas dr. Jimy. Dengan memahami mekanisme konstruksi emosi, individu dapat mengubah cara berpikir dan merespons dunia dengan lebih sehat.
Editor : M. Subchan Abdullah