Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

BMKG: Mega Thrust di Jawa dan Sumatera Berpotensi Picu Gempa Besar hingga 8,9 Magnitudo

Axsha Zazhika • Selasa, 28 Oktober 2025 | 07:40 WIB
BMKG: Mega Thrust di Jawa dan Sumatera Berpotensi Picu Gempa Besar hingga 8,9 Magnitudo
BMKG: Mega Thrust di Jawa dan Sumatera Berpotensi Picu Gempa Besar hingga 8,9 Magnitudo

BLITAR — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi gempa besar akibat zona mega thrust yang mengelilingi Indonesia. Dari hasil analisis, dua wilayah yang perlu diwaspadai adalah Mega Thrust di Mentawai-Siberut dan Mega Thrust di Sulawesi, yang diperkirakan dapat memicu gempa dengan kekuatan mencapai 8,7 hingga 8,9 magnitudo.

Mega thrust merupakan zona pertemuan antara lempeng samudra dan lempeng benua yang dapat menimbulkan gempa bumi besar dan bahkan tsunami. BMKG menegaskan bahwa aktivitas di zona ini bukan sekadar potensi, tetapi sebuah keniscayaan geologis di wilayah yang berada di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). “Mega thrust bukan hal baru, Indonesia memang berada di atas pertemuan lempeng aktif yang sewaktu-waktu dapat melepaskan energi besar,” demikian penjelasan BMKG.

16 Titik Mega Thrust di Indonesia

Menurut data BMKG, terdapat 16 titik zona mega thrust yang mengelilingi Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Aceh, Andaman, Nias, Simelue, Kabupaten Batu, Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, Enggano, Selat Sunda, Banten, Selatan Jawa Barat, Selatan Jawa Tengah, Selatan Jawa Timur, Selatan Bali, Selatan NTB, Selatan NTT, Laut Banda Selatan, Laut Banda Utara, dan Utara Sulawesi hingga subduksi lempeng Laut Filipina.

Dari seluruh zona tersebut, dua area utama yakni Mentawai-Siberut dan Sulawesi disebut memiliki potensi paling besar. BMKG memperkirakan jika terjadi pelepasan energi maksimum, kekuatannya bisa mencapai 8,7 hingga 8,9 magnitudo. “Ini bukan prediksi kapan gempa akan terjadi, tapi peringatan potensi berdasarkan sejarah pelepasan energi di zona tersebut,” kata pihak BMKG.

Ahli geologi menjelaskan, zona megathrust terbentuk ketika lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua dan saling menekan. Akumulasi tekanan inilah yang lama kelamaan akan dilepaskan dalam bentuk gempa bumi besar. Proses ini berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun sebelum akhirnya mencapai titik jenuh dan melepaskan energi secara tiba-tiba.

Tidak Semua Gempa Megathrust Picu Tsunami

Meski dikenal mampu menghasilkan gempa besar, tidak semua gempa megathrust menimbulkan tsunami. Dalam banyak kasus, gempa yang terjadi hanya menyebabkan guncangan kuat tanpa memicu pergerakan kolom air laut secara signifikan. Namun, jika pergeseran bidang lempeng terjadi secara vertikal di dasar laut, potensi tsunami bisa muncul dan melanda wilayah pesisir.

BMKG menegaskan, masyarakat perlu memahami bahwa potensi ini tidak untuk ditakuti, melainkan diantisipasi dengan kesiapsiagaan. “Kita tidak bisa menentukan kapan gempa besar akan terjadi, tapi kita bisa menyiapkan diri untuk meminimalkan risiko,” ujar seorang pejabat BMKG dalam keterangannya.

Indonesia Hidup di Atas Zona Subduksi Aktif

Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat aktivitas seismik tertinggi di dunia karena berada di pertemuan tiga lempeng besar: Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah utara dan menunjam ke bawah Eurasia, menciptakan jalur subduksi yang menjadi sumber gempa besar seperti di Aceh (2004) dan Palu (2018).

Fenomena megathrust di Jawa dan Sumatera menjadi perhatian karena wilayah ini padat penduduk dan memiliki banyak infrastruktur vital. Jika terjadi gempa besar, dampaknya bisa sangat luas. Karena itu, BMKG terus melakukan pemantauan, memperkuat sistem peringatan dini tsunami, serta mendorong pemerintah daerah untuk menerapkan tata ruang berbasis mitigasi bencana.

Selain itu, BMKG juga bekerja sama dengan lembaga riset seperti BRIN dan universitas untuk memperbarui peta seismotektonik Indonesia. Peta ini menjadi dasar penting dalam perencanaan pembangunan, terutama di wilayah pesisir selatan Jawa dan Sumatera Barat yang termasuk zona merah rawan gempa dan tsunami.

Kesiapsiagaan Jadi Kunci Utama

Pakar kebencanaan mengingatkan bahwa edukasi publik dan latihan evakuasi perlu digalakkan di daerah-daerah rawan. Contohnya, program Sekolah Lapang Gempa dan Tsunami Ready yang sudah dilakukan BMKG di beberapa daerah terbukti efektif meningkatkan kesadaran warga.

“Hal terpenting adalah mengetahui jalur evakuasi, lokasi titik kumpul, dan tidak panik saat gempa terjadi. Kita hidup di wilayah megathrust, jadi kesadaran mitigasi harus jadi budaya,” ujar pakar geofisika dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dengan kesadaran kolektif dan kesiapan teknologi yang terus berkembang, diharapkan masyarakat Indonesia bisa hidup berdampingan dengan potensi bencana alam yang menjadi bagian dari dinamika geologi Nusantara.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Mentawai Siberut #bmkg #megathrust #potensi gempa besar #mitigasi bencana