BLITAR - Beternak ayam kampung musim hujan sering dianggap sepele oleh banyak peternak pemula. Padahal, pada periode cuaca ekstrem seperti ini, sistem pemeliharaan semi umbaran justru bisa berubah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan ternak. Dalam sebuah video edukasi yang diunggah oleh Aryedo Farm, dijelaskan bahwa beternak ayam kampung musim hujan membutuhkan manajemen ekstra ketat agar ayam tidak mudah stres, kedinginan, maupun terpapar penyakit mendadak.
Pada awal penjelasan, pemilik kanal menegaskan bahwa tantangan terbesar beternak ayam kampung musim hujan bukan semata soal pakan atau bibit. Masalah nyata justru muncul saat tubuh ayam sering basah, lingkungan becek, dan suhu turun drastis. Ketika hal-hal ini terjadi terus-menerus, daya tahan ayam langsung anjlok, membuat risiko penyakit meningkat. Karena itu, penting bagi peternak memberikan perlakuan berbeda ketika memasuki musim penghujan.
Pada sistem semi umbaran, ayam biasanya dilepas bebas ketika cuaca cerah, namun tetap mengandalkan insting untuk mencari tempat berteduh saat hujan. Masalahnya, hujan sering datang tiba-tiba, dan ayam yang berada jauh dari kandang bisa terjebak dalam kondisi basah, bulu menggumpal, hingga menggigil. Situasi ini membuat tubuh ayam kehilangan suhu normal dan menjadi sasaran empuk bagi beragam penyakit musim hujan.
Area umbaran yang sebelumnya kering juga berubah drastis menjadi becek, berlumpur, dan penuh genangan air. Kotoran yang bercampur air hujan menciptakan lingkungan dengan potensi bibit penyakit sangat tinggi. Jika dibiarkan, kaki ayam bisa terluka, terinfeksi, bahkan terserang cacingan akibat kondisi yang tidak higienis.
Selain penyakit kulit dan infeksi kaki, kelembapan tinggi juga berbahaya bagi pernapasan ayam kampung. Udara dingin yang menusuk, digabung dengan suhu kandang tidak stabil, sangat mudah memicu gangguan pernapasan seperti ngorok massal dan pilek parah. Bahkan beberapa peternak pemula tidak menyadari bahwa penurunan aktivitas ayam, menggigil, dan lesu merupakan tanda awal ayam mulai kehilangan daya tahan tubuh.
Untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak, Aryedo Farm rutin memberikan jamu sapu jagat ke pakan pagi dan sore. Jamu ini diracik dari bahan-bahan herbal yang mudah didapat, dan telah terbukti membantu menjaga kesehatan ayam selama cuaca ekstrem. Meski bukan jaminan ayam 100 persen kebal penyakit, jamu ini membantu mempersiapkan tubuh ayam menghadapi perubahan suhu yang tajam.
Dalam video tersebut, pemilik peternakan menegaskan bahwa pencegahan selalu lebih murah daripada pengobatan. Dengan pemberian jamu secara berkala, ayam tetap aktif, tidak ada ngorok massal, diare menurun, dan angka kematian tetap rendah meski hujan turun hampir setiap hari.
Langkah sederhana namun sering diabaikan adalah tidak mengumbar ayam ketika cuaca terlihat mendung sejak pagi. Walaupun terkesan sepele, keputusan menahan ayam di kandang utama sebenarnya dapat menyelamatkan performa ternak secara signifikan. Kandang tertutup, meski lebih sempit, jauh lebih aman dibanding membiarkan ayam berkeliaran di area yang becek dan kotor.
Banyak peternak ragu karena khawatir pertumbuhan ayam akan terganggu jika tidak diumbar. Namun kenyataannya, pertumbuhan justru lebih lambat ketika ayam sering sakit. Saat tubuh ayam bekerja keras untuk pulih dari stres dan infeksi, pakan yang masuk tidak lagi digunakan untuk bertumbuh, tetapi hanya untuk bertahan hidup. Ini sama saja dengan pemborosan.
Dalam kesimpulannya, narasumber menegaskan bahwa musim hujan bukan waktu yang tepat untuk mempertahankan pola pemeliharaan lama. Peternak harus lebih adaptif, mengutamakan pencegahan, memperhatikan pola cuaca harian, dan memastikan kebersihan lingkungan tetap terjaga.
Mengombinasikan kandang tertutup, pakan berkualitas, dan jamu penguat daya tahan tubuh seperti jamu sapu jagat menjadi strategi penting agar ayam kampung tetap sehat dan produktif. Terlebih bagi peternak skala rumahan, langkah-langkah sederhana ini bisa sangat menentukan keberhasilan usaha ternak ayam kampung di tengah cuaca yang tidak menentu.
Editor : Anggi Septiani