BLITAR – Ibarat pepatah "semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus," itulah yang kini dirasakan oleh klub kebanggaan Jawa Barat. Di tengah euforia kemenangan atas Malut United, Rumor Persib Bandung tiba-tiba mencuat bagai petir di siang bolong. Maung Bandung dituding melakukan pelanggaran kode etik terkait proses verifikasi pemain asing anyar mereka, Sergio Castel.
Isu sensitif ini sontak membuat basis suporter militan mereka, Bobotoh, meradang dan naik pitam di jagat maya.Rumor Persib Bandung ini bermula dari unggahan beberapa akun media sosial yang menggiring opini bahwa Persib melakukan "main mata" dengan federasi.
Tudingan tersebut menyebutkan bahwa verifikasi Sergio Castel baru dilakukan pada 4 Februari 2024, sementara mereka mengeklaim batas akhir verifikasi pemain putaran kedua adalah 30 Januari 2026. Narasi ini berkembang liar, menyudutkan Persib seolah mendapatkan keistimewaan dari PSSI untuk meloloskan pemain yang dianggap terlambat secara administrasi.
Fakta Regulasi vs Opini Liar
Menanggapi derasnya fitnah tersebut, Bobotoh tidak tinggal diam. Melalui investigasi mandiri dan pengecekan silang terhadap regulasi resmi BRI Super League 2025-2026, ditemukan fakta yang berbanding terbalik dengan Rumor Persib Bandung yang beredar. Berdasarkan dokumen legal yang tercantum di sistem liga, bursa transfer musim dingin tahun ini secara resmi dibuka dari tanggal 10 Januari hingga ditutup pada 6 Februari 2026.
Artinya, verifikasi Sergio Castel yang dilakukan pada tanggal 4 Februari masih berada dalam rentang waktu pendaftaran yang sah dan legal. "Tanggal 4 itu masih dalam tahap legal alias normal. Kenapa dipermasalahkan jika batas akhirnya saja tanggal 6?" ungkap seorang suporter di kolom komentar. Tudingan pelanggaran kode etik yang didasarkan pada kesepakatan internal pemilik klub (owner) yang menyebut tanggal 30 Januari pun dinilai tidak memiliki dasar hukum yang lebih tinggi dibanding regulasi resmi yang telah ditetapkan.
Dugaan Upaya Memecah Konsentrasi Persib di Asia
Sangat disayangkan, Rumor Persib Bandung ini muncul tepat saat Persib sedang mempersiapkan diri mewakili Indonesia di ajang AFC Champions League 2 (ACL2) melawan Ratchaburi. Muncul spekulasi negatif bahwa isu ini sengaja digulirkan oleh oknum tertentu untuk memecah konsentrasi para pemain dan merusak citra klub di level internasional.
Persib saat ini bukan sekadar bermain untuk Bandung, melainkan membawa nama baik sepak bola Indonesia di kancah Asia. Serangan yang menyudutkan satu pihak tanpa bukti otentik 100% ini dianggap sebagai langkah tidak sehat dalam persaingan liga. "Jika tujuannya untuk menjatuhkan mental, mereka salah sasaran. Akun-akun yang menyebarkan hoaks ini seharusnya sadar bahwa Persib memiliki basis suporter yang sangat teliti dalam mengawal klubnya," tegas analis media sosial sepak bola.
Stop Kaitkan Politik dan Saham
Hal lain yang membuat Bobotoh berang adalah upaya mengaitkan Rumor Persib Bandung ini dengan kepemilikan saham tokoh-tokoh tertentu di federasi. Narasi yang menyebutkan keterlibatan Ketua Umum PSSI dalam meloloskan verifikasi Castel dianggap sebagai pencemaran nama baik yang serius. Publik diminta untuk tetap fokus pada titik masalah administratif tanpa harus melebar ke arah fitnah personal yang tidak relevan.
Pembelajaran penting dari Kisruh ini adalah pentingnya melakukan cross-check sebelum menyebarkan informasi sensitif yang menyangkut marwah sebuah institusi besar. Bagi manajemen Persib, langkah untuk tetap tenang dan tidak terlalu menggubris rumor ini dipandang sebagai sikap profesional. Namun, jika fitnah terus berlanjut, bukan tidak mungkin jalur hukum akan diambil untuk memberikan efek jera kepada para penyebar berita bohong.
Sergio Castel kini telah resmi terdaftar dan berstatus "halal" secara hukum liga untuk membela Pangeran Biru. Bobotoh pun dihimbau untuk tetap tenang, menjaga kondusivitas, dan terus memberikan dukungan penuh agar Persib bisa terbang tinggi, baik di kompetisi domestik maupun di level Asia. (*)
Editor : Oksania Difa Ilmada