BLITAR – Tahun 2006 akan selalu diingat sebagai tahun tergelap dalam sejarah Juventus.
Meski berhasil mengumpulkan 91 poin di lapangan, klub berjuluk I Bianconeri ini harus menerima kenyataan pahit: gelar Scudetto mereka dicopot dan tim dipaksa degradasi ke Serie B.
Skandal yang dikenal sebagai Calciopoli ini meledak setelah rekaman telepon Direktur Teknik Juve saat itu, Luciano Moggi, bocor ke publik.
Moggi dituduh membangun jaringan sistematis untuk mengatur penunjukan wasit melalui komunikasi dengan pejabat FIGC (Federasi Sepak Bola Italia).
Salah satu momen paling ikonik dalam kasus ini adalah tuduhan Moggi yang menyekap wasit Gianluca Paparesta di ruang ganti setelah kekalahan Juve dari Regina.
Namun, fakta mengejutkan muncul di persidangan tahun 2011, di mana Paparesta mengakui bahwa penyekapan tersebut tidak pernah terjadi dan hanya merupakan bualan Moggi di telepon.
Muncul teori kuat di kalangan pecinta bola bahwa Juventus hanyalah kambing hitam dari sistem sepak bola Italia yang saat itu memang "bobrok" secara kolektif.
Terungkap bahwa klub besar lain seperti AC Milan, Inter Milan, Lazio, dan Fiorentina juga melakukan kontak serupa dengan komite wasit.
Namun, hanya Juventus yang menerima hukuman terberat (degradasi), sementara tim lain hanya mendapat pengurangan poin.
Pertanyaan besar pun tetap menyisa: Apakah Calciopoli adalah upaya penegakan hukum murni, atau sekadar cara untuk menghentikan dominasi total Si Nyonya Tua di Italia?(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama