Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Resmi Ditunjuk PSSI, John Herdman Jadi Pelatih Timnas Indonesia: Target Piala Dunia 2030 Realistis atau Sekadar Mimpi?

Rendra Febrian Permana • Rabu, 4 Maret 2026 | 11:39 WIB

Resmi Ditunjuk PSSI, John Herdman Jadi Pelatih Timnas Indonesia: Target Piala Dunia 2030 Realistis atau Sekadar Mimpi?
Resmi Ditunjuk PSSI, John Herdman Jadi Pelatih Timnas Indonesia: Target Piala Dunia 2030 Realistis atau Sekadar Mimpi?

BLITAR - Penunjukan John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia akhirnya resmi diumumkan PSSI. Setelah spekulasi panjang dan berbagai rumor beredar, keputusan federasi ini memantik pro dan kontra. Namun satu hal yang pasti, era baru Timnas Indonesia di bawah John Herdman resmi dimulai dengan target besar: Piala Dunia 2030.

Penunjukan John Herdman oleh PSSI dinilai sebagai langkah yang lebih terukur dibanding sebelumnya. Federasi tidak tergesa-gesa, bahkan sempat melewatkan agenda FIFA Matchday untuk memastikan seleksi pelatih berjalan matang. Direktur Teknik PSSI, Alexander Swiss, disebut memiliki waktu cukup untuk menyaring kandidat sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada eks pelatih Timnas Kanada tersebut.

Target Piala Dunia 2030 pun langsung digaungkan. Apakah realistis? Dalam konteks Asia, peluang itu disebut masih terbuka. Indonesia tidak bersaing di zona Eropa yang jauh lebih ketat. Dengan manajemen yang stabil, proses yang konsisten, dan dukungan publik, peluang bersaing di papan atas Asia tetap ada.

Rekam Jejak John Herdman di Timnas Kanada

John Herdman memang bukan nama besar seperti Pep Guardiola atau Jürgen Klopp. Namun rekam jejaknya bersama Timnas Kanada patut diperhitungkan. Ia sukses membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 setelah absen 36 tahun. Meski kalah di fase grup, permainan Kanada kala itu dinilai atraktif dan berani.

Pengalaman melatih tim nasional menjadi nilai plus. Berbeda dengan pelatih klub yang memiliki waktu latihan setiap hari, pelatih timnas hanya punya waktu singkat untuk mempersiapkan tim. Herdman dinilai memahami dinamika tersebut, termasuk pentingnya komunikasi cepat dan adaptasi instan dengan pemain.

Kenapa Bukan Pelatih Top Eropa?

PSSI disebut realistis dalam menentukan pilihan. Dengan ranking Indonesia yang masih di kisaran 100 besar FIFA dan mayoritas pemain berkarier di liga Eropa tier 3–4, mendatangkan pelatih kelas dunia bukan solusi ideal.

Kasus Roberto Mancini di Arab Saudi menjadi pelajaran. Pelatih top dengan bayaran mahal belum tentu sukses di Asia. Kesesuaian filosofi, komunikasi, dan adaptasi jauh lebih penting dibanding nama besar.

Herdman dianggap berada di level yang sesuai dengan kapasitas Indonesia—baik dari sisi kualitas maupun anggaran.

Tantangan: Filosofi dan Stabilitas

Salah satu pekerjaan rumah terbesar Timnas Indonesia adalah filosofi permainan. Selama ini, Indonesia lebih dikenal sebagai pasar sepak bola, bukan budaya sepak bola. Pembinaan usia dini belum sepenuhnya terstruktur dari Sabang sampai Merauke.

PSSI kini mencoba memperbaiki itu. Herdman tidak hanya menangani tim senior, tetapi juga disebut akan terlibat dalam sinkronisasi dengan kelompok usia di bawahnya. Filosofi permainan diharapkan selaras dari U-17 hingga senior.

Namun yang tak kalah penting adalah stabilitas. Kontrak Herdman dikabarkan berdurasi 2+2 tahun. Artinya, federasi harus konsisten dan tidak mudah tergoda mengganti pelatih jika hasil jangka pendek belum maksimal.

Formasi dan Adaptasi Pemain

Secara materi, Timnas Indonesia dinilai lebih cocok bermain dengan skema empat bek seperti 4-3-3 atau 4-2-3-1. Mayoritas pemain diaspora terbiasa dengan sistem tersebut di klub masing-masing.

Dalam konteks ini, pelatih dituntut menyesuaikan taktik dengan karakter pemain, bukan sebaliknya. Dengan waktu persiapan yang terbatas di level timnas, fleksibilitas menjadi kunci.

Naturalisasi dan Regenerasi

Program naturalisasi juga tetap menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Proses yang dijalankan disebut sah secara hukum dan mengikuti regulasi FIFA. Namun prinsip utamanya tetap sama: kualitas nomor satu, tanpa memandang asal pemain.

Di sisi lain, regenerasi tetap penting. Turnamen seperti AFF dinilai bisa dimanfaatkan untuk memberi jam terbang pemain muda, bukan semata mengejar trofi.

Target 2030: Realistis Asal Konsisten

Menuju Piala Dunia 2030, Indonesia masih punya waktu. Di level Asia, peluang finis di tiga besar grup kualifikasi bukan hal mustahil jika program berjalan konsisten.

Namun ada syarat mutlak: dukungan publik dan minim tekanan berlebihan. Kritik boleh, tetapi harus konstruktif. Tekanan yang destruktif justru bisa menghambat proses adaptasi pelatih dan pemain.

Belajar dari era sebelumnya—mulai dari Luis Milla hingga Shin Tae-yong—waktu dan stabilitas menjadi faktor pembeda. Jika John Herdman diberi ruang bekerja dan federasi konsisten dengan visinya, target besar itu bukan sekadar mimpi.

Kini, bola ada di tangan PSSI dan seluruh elemen sepak bola nasional. Era baru sudah dimulai. Tinggal menunggu, apakah proses ini dijaga atau kembali terhenti di tengah jalan.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#John Herdman #piala dunia 2030 #naturalisme #timnas indoensia #PSSI