Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Tembus Rp17.660 per Dolar AS, Ini Faktor yang Membayangi Pergerakannya

M
Rupiah tembus Rp17.660 per dolar AS pada perdagangan pagi. Simak faktor global dan agenda BI yang memengaruhi pergerakannya.(pinterest)
Rupiah tembus Rp17.660 per dolar AS pada perdagangan pagi. Simak faktor global dan agenda BI yang memengaruhi pergerakannya.(pinterest)

Advertisement

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus Rp17.660 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan pagi. Rupiah dibuka melemah 0,36 persen ke level Rp17.618 per dolar AS pada pukul 09.00 WIB, sebelum melanjutkan pelemahan pada perdagangan berikutnya. Penguatan indeks dolar AS, ketegangan geopolitik global, serta agenda penting bank sentral dunia menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang Garuda. Di dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati data utang luar negeri dan pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada pekan ini.

Rupiah Melemah hingga Rp17.660 per Dolar AS

Tekanan terhadap rupiah terlihat sejak pembukaan perdagangan. Mengacu pada laporan perdagangan yang disampaikan dalam tayangan Metro TV, rupiah dibuka pada level Rp17.618 per dolar AS atau melemah 0,36 persen.

Pelemahan tersebut berlanjut sepanjang perdagangan pagi. Pada pukul 09.13 WIB, rupiah tercatat menyentuh level Rp17.660 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik masih berlangsung pada awal perdagangan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena nilai tukar rupiah dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Pergerakan dolar AS, kebijakan moneter negara-negara utama, serta perkembangan situasi geopolitik global menjadi sejumlah variabel yang dapat menentukan arah perdagangan mata uang.

Advertisement

Meski demikian, pergerakan pada awal sesi belum cukup untuk menggambarkan posisi penutupan rupiah. Perkembangan selanjutnya tetap bergantung pada dinamika pasar dan respons investor terhadap berbagai informasi ekonomi yang tersedia.

Indeks Dolar AS Menguat, Mata Uang Kawasan Tertekan

Salah satu faktor yang membayangi pergerakan rupiah adalah penguatan indeks dolar AS. Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia tersebut bertahan di level 99,38.

Penguatan dolar AS berpotensi membatasi ruang penguatan mata uang negara-negara lain, termasuk rupiah. Ketika dolar menguat, investor akan mencermati perubahan daya tarik aset dalam denominasi dolar dibandingkan instrumen investasi di negara lain.

Selain pergerakan indeks dolar, kontrak rupiah terhadap dolar AS di pasar non-deliverable forward (NDF) juga belum menunjukkan perubahan berarti. Nilainya berada di kisaran Rp17.629 per dolar AS.

Pasar NDF menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar untuk membaca ekspektasi pergerakan nilai tukar. Namun, angka tersebut tidak secara otomatis menentukan arah rupiah di pasar spot karena keduanya memiliki mekanisme perdagangan berbeda.

Ketegangan Geopolitik dan Data Inflasi Jadi Sorotan

Pergerakan rupiah selanjutnya juga berpotensi dipengaruhi sejumlah agenda ekonomi internasional. Pelaku pasar akan mencermati keputusan bank sentral negara-negara utama serta rilis data inflasi yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga.

Advertisement

Artikel Terkait

IHSG di Bawah 6.000, Valuasi Termurah Sejak 2011 tapi Investor Asing Belum Kembali

IHSG di Bawah 6.000, Valuasi Termurah Sejak 2011 tapi Investor Asing Belum Kembali

IHSG di bawah 6.000 dengan valuasi terendah sejak 2011. Simak penyebab penurunan dan strategi investor.

IHSG Anjlok di Bawah 6.000, Sudah Murah atau Masih Berbahaya bagi Investor?

IHSG Anjlok di Bawah 6.000, Sudah Murah atau Masih Berbahaya bagi Investor?

IHSG di bawah 6.000 dan valuasi terendah sejak 2011. Simak penyebab kejatuhan, risiko, dan strategi investor.

Rupiah Kembali Tertekan, Tembus Rp17.763 per Dolar AS akibat Sentimen Global

Rupiah Kembali Tertekan, Tembus Rp17.763 per Dolar AS akibat Sentimen Global

Rupiah melemah ke Rp17.763 per dolar AS. Simak pengaruh The Fed, konflik AS-Iran, dan harga minyak terhadap nilai tukar.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer