BLITAR – Di tengah gempuran tren fast fashion dan budaya konsumen yang kerap menawar harga seenaknya, seorang fashion designer muda asal Blitar, Renatadi, justru tampil berani. Ia memilih untuk berdiri tegak membela nilai kerja kreatif lewat Kebaya Blitar, karyanya yang kini tak hanya dikenal di lokal, tapi juga dilirik pasar luar negeri.
Renatadi, pemilik brand kebaya lokal dengan desain eksklusif, secara terbuka menolak budaya "menawar seenaknya" yang kerap dialami para pelaku UMKM fashion, termasuk dirinya. Menurutnya, harga Kebaya Blitar bukan sekadar nominal, melainkan representasi dari jam terbang, kreativitas, dan kualitas jahitan yang tidak bisa disamakan dengan produk massal.
“Banyak yang bilang ‘kok mahal banget’, padahal mereka belum tahu prosesnya. Dari sketsa, pemilihan bahan, detail bordir manual, sampai finishing, semuanya butuh waktu dan keterampilan,” ungkap Renatadi kepada Radar Blitar TV. Ia menegaskan pentingnya edukasi pelanggan agar lebih menghargai karya desainer lokal seperti dirinya.
Baca Juga: Fatwa Haram Sound Horeg, 15 Ribu Pelaku Usaha Sound System di Jatim Terancam Mati Suri
Karya Penuh Cinta, Bukan Sekadar Produk
Renatadi menceritakan bahwa dalam setiap helai Kebaya Blitar yang ia produksi, terselip cerita, filosofi, dan sentuhan personal sesuai permintaan klien. Bahkan, beberapa karyanya sempat digunakan dalam momen-momen penting seperti lamaran, wisuda, hingga peragaan busana tingkat nasional.
“Pelanggan kadang hanya lihat harga akhir, tapi lupa kalau satu kebaya bisa digarap sampai seminggu, bahkan lebih kalau detailnya rumit,” katanya. Ia menyayangkan masih banyak masyarakat yang menganggap kebaya hanya sebagai pakaian adat biasa, bukan karya seni fashion.
Ia pun tidak segan memberi edukasi langsung kepada calon pembeli tentang rincian harga—mulai dari biaya bahan, waktu pengerjaan, hingga biaya kreativitas desain. “Aku lebih senang jika klien bertanya jujur soal komponen harga, daripada langsung menawar dengan alasan ‘teman saya dapat harga segini’,” lanjutnya.
Baca Juga: Fatwa Haram Sound Horeg Picu Polemik: MUI Jatim Dituding Gegabah, Gus-Gus Melawan
Mendidik Pasar, Menumbuhkan Apresiasi
Menurut Renatadi, membangun brand lokal bukan hanya soal menjual, tapi juga membentuk ekosistem pasar yang sehat dan saling menghargai. Dengan rutin membagikan proses kerja dan edukasi soal harga kebaya Blitar di media sosial, ia berharap masyarakat lebih bijak dan menghargai jerih payah pelaku kreatif.
“Kalau masyarakat terus-terusan menekan harga tanpa menghitung tenaga yang dikeluarkan, lama-lama desainer lokal bisa hilang semangat. Padahal kita punya potensi besar,” ujarnya.
Sikap tegas Renatadi dalam menolak ditawar murah ini mendapat banyak dukungan, terutama dari sesama pelaku UMKM fashion di Blitar. Beberapa di antaranya bahkan mulai mengikuti jejaknya untuk lebih terbuka soal penetapan harga dan transparansi proses produksi.
Baca Juga: Hanya di Indonesia! Sound Horeg Disebut Bisa Cegah Perang Suku, “Timur Tengah Kurang Dentuman!”
Berharap Pemerintah dan Konsumen Lebih Peduli
Renatadi berharap ada dukungan konkret dari pemerintah untuk memberikan pelatihan literasi bisnis dan edukasi konsumen tentang nilai produk kreatif. “Pemerintah bisa bantu lewat kampanye sosial atau program pembinaan UMKM yang menyasar dua sisi: pelaku dan konsumen,” sarannya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih terbuka memandang kebaya sebagai bagian dari warisan budaya yang terus berevolusi, bukan hanya busana sesekali pakai. “Kalau kita terus menekan harga, siapa yang nanti akan melestarikan budaya berpakaian ini?” katanya menutup.
Dengan semangat dan keberanian seperti Renatadi, Kebaya Blitar tak hanya melenggang indah di atas panggung mode, tapi juga menjadi simbol perjuangan desainer muda yang ingin dihargai, bukan hanya dibeli.
Baca Juga: Anak Nangis, Kakek Trauma, Pasien Kumat: Dentuman Sound Horeg Dianggap Teror Warga!
Editor : Anggi Septian A.P.