BLITAR KAWENTAR - Di tengah isu hukum yang membelitnya, Ferry Irwandi menggunakan platform YouTube untuk berbagi pandangan eksistensial.
Baginya, kematian mudah, tetapi kehidupan menuntut perjuangan.
Kasus dugaan pencemaran nama baik terhadap TNI menyeret nama Feri Irwandi. Meski begitu, ia menegaskan tidak takut menghadapi proses hukum, bahkan tidak takut mati. “Mati itu mudah,” ujarnya, “yang sulit adalah hidup.”
Baca Juga: Hubungan Letusan Gunung Kelud dengan Lahirnya Hayam Wuruk dan Soekarno
Menurut Ferry , kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari. Namun mempertahankan kehidupan membutuhkan energi besar menghadapi tekanan sosial, menjalankan tanggung jawab, serta menemukan makna.
Ia menyebut, bahkan niat dan tindakan baik tidak selalu dipahami orang lain, sehingga hidup menjadi tantangan berlapis.
Lebih lanjut, ia menguraikan hidup dari tiga perspektif. Secara biologis, manusia ditakdirkan untuk bertahan hidup.
Baca Juga: Legenda Lembu Suro dan Gunung Kelud: Mitos Kutukan yang Bikin Kediri Jadi Sungai
Secara sosial, hidup adalah tentang menciptakan nilai, baik melalui pekerjaan, karya, maupun relasi. Secara filosofis, hidup membuka ruang bagi pencarian makna yang beragam.
Ferry juga mengingatkan pentingnya tidak menyerah. “Selama kita masih bernapas, berarti kita masih punya kesempatan,” katanya.
Ia menekankan, generasi muda harus diberi ruang berkembang, sementara generasi tua hendaknya menjadi pendukung, bukan penghalang.
Baca Juga: Bisa Pengaruhi Angka Pengangguran, Pemkot Blitar Waspada Dampak PHK Besar Pabrik Rokok di Kediri
Melalui refleksinya, Ferry menekankan bahwa mempertahankan hidup bukan sekadar eksistensi, tetapi juga tentang tanggung jawab, kontribusi, dan pencarian makna. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah