BLITAR-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah menjadi sorotan publik karena variasi menu yang disajikan kepada anak sekolah. Mulai dari nasi, sayur, lauk, buah, hingga menu kekinian seperti burger, semua disiapkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.
Namun, muncul pertanyaan: apakah variasi ini sudah sesuai dengan kebutuhan gizi harian siswa?
Menurut dr. Dian, ahli gizi yang ikut terlibat dalam diskusi di YouTube, anak sekolah membutuhkan variasi menu yang menarik dari segi rupa, rasa, dan warna. “Anak-anak itu gampang bosan. Kalau setiap hari menunya sama, mereka cenderung tidak mau makan. Variasi sangat penting untuk membentuk perilaku makan sehat sejak dini,” jelasnya.
Baca Juga: Geger Lagi! 10 Siswa Diduga Keracunan Program Makan Bergizi Gratis, Pemerintah Akhirnya Minta Maaf
Satu porsi makanan dalam program MBG rata-rata mengandung 400–500 kalori. Jumlah ini cukup untuk satu kali makan. Namun, anak-anak tetap membutuhkan tiga kali makan besar dan dua kali makanan selingan setiap hari. Artinya, peran orang tua di rumah tetap penting untuk melengkapi kebutuhan gizi mereka.
Selain jumlah kalori, variasi bahan pangan juga jadi perhatian. Dokter menegaskan bahwa anak-anak perlu dikenalkan pada beragam sumber karbohidrat, protein, dan serat. Tidak melulu nasi, tetapi juga bisa dari roti, umbi, atau mie.
“Sesekali anak boleh diberi burger, tidak masalah. Yang penting nilai gizinya terpenuhi, ada karbohidrat, protein, dan sayuran di dalamnya,” tambah dr. Dian.
Baca Juga: Di Desa Suru, Heru Tjahjono Ajak Warga 'Mangayubagyo' Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis
Komentar ini sekaligus menepis anggapan bahwa menu MBG terlalu “kekinian” ketika menghadirkan makanan seperti burger. Bagi dokter, yang terpenting bukan nama menunya, melainkan kecukupan gizi yang dibawa.
Selain variasi rasa, program MBG juga dituntut untuk mengakomodasi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Beberapa siswa mungkin memiliki alergi terhadap susu, telur, atau seafood. Untuk kasus seperti ini, dokter mendorong adanya identifikasi sejak awal agar menu bisa disesuaikan.
“Kalau di sekolah swasta biasanya ada laporan alergi dari orang tua. Nah, di program massal seperti MBG tentu lebih menantang. Tapi harus ada mekanisme screening agar anak tidak salah konsumsi,” kata dr. Dian.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyambut baik langkah variasi menu ini, namun mengingatkan agar penyusunan tetap berbasis kebutuhan gizi. Ketua IDI, dr. Slamet, menilai menu lokal tetap bisa diolah agar lebih menarik untuk anak.
“Kalau anak tidak suka sayur, bisa dibuat variasi warna-warni agar mereka tertarik mencoba. Burger pun tidak masalah asalkan gizinya seimbang. Intinya jangan monoton,” ujarnya.
Dengan menu yang bervariasi, diharapkan anak-anak tidak hanya kenyang, tetapi juga mendapatkan asupan gizi lengkap. Variasi menu juga bisa menjadi cara efektif untuk mengatasi perilaku picky eater atau anak yang susah makan.
Baca Juga: Survei Indikator: Mayoritas Warga Puas dan Dukung Makan Bergizi Gratis
Selain itu, penyajian makanan dengan warna cerah dan rasa yang disukai anak diyakini mampu meningkatkan minat makan di sekolah. Bahkan, menurut dokter, makanan sehat tidak harus mahal atau impor. Bahan pangan lokal bisa diolah menjadi menu yang menarik dan bergizi.
Ke depan, keterlibatan ahli gizi di dapur penyedia makanan MBG menjadi kebutuhan penting. Mereka bisa membantu menyusun menu sesuai usia, kebutuhan kalori, serta kondisi kesehatan anak-anak di tiap daerah.
Dengan pendekatan ini, program MBG tidak hanya sebatas bagi-bagi makanan, tetapi juga sarana edukasi gizi. Anak belajar sejak dini bahwa makan sehat bisa menyenangkan, bervariasi, dan penuh warna.
Editor : Anggi Septian A.P.