BLITAR KAWENTAR - Hamparan kayu gelondongan yang hanyut saat air bah menghantam permukiman warga menjadi anomali paling mencolok dalam bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Video-video yang beredar di media sosial memperlihatkan pemandangan mencengangkan: bukan hanya air bah yang menerjang, tetapi juga lautan batang kayu raksasa yang mengalir deras.
Kemunculan ribuan kayu gelondongan ini seketika memicu gelombang tanda tanya publik. Masyarakat bertanya-tanya: dari mana asal kayu-kayu ini? Mengapa begitu banyak kayu yang seakan sudah disiapkan bak hasil tebangan? Siapa yang menebangnya dan mengapa ditinggalkan di hulu sungai? Apakah ini murni amukan alam atau ada jejak kelalaian manusia di hulunya?
Yang lebih mencurigakan, kayu gelondongan tersebut ditemukan tanpa kulit dan diduga merupakan sisa hasil penebangan di wilayah hulu sungai. Kondisi kayu yang tampak rapi terpotong menambah kecurigaan adanya praktik pembalakan liar sistematis yang selama ini luput dari pengawasan pemerintah.
DPR dan MPR Desak Pengusutan Tuntas
Wakil Ketua MPR RI Edi Suparno tegas meminta pemerintah mengusut dugaan pembalakan liar menyusul banyaknya kayu gelondongan berukuran besar yang hanyut dalam banjir bandang di sejumlah daerah Sumatera. Apalagi kayu-kayu tersebut ditemukan tanpa kulit, sebuah indikasi kuat bahwa ini adalah hasil penebangan, bukan sekadar pohon tumbang.
"Pengusutan perlu dilakukan untuk mengetahui apakah penebangan dilakukan sesuai aturan. Pemerintah bisa menelusuri perizinannya. Namun jika dilakukan secara ilegal, maka pelaku harus dihukum sesuai peraturan yang berlaku," tegas Edi.
Edi menekankan pentingnya penegakan hukum agar menimbulkan efek jera sehingga kejadian serupa yang menyebabkan bencana alam tidak terulang lagi. Hutan yang gundul akibat penebangan liar akan menghilangkan fungsi resapan air dan memperparah dampak banjir.
Komisi 4 DPR Akan Panggil Menteri Kehutanan
Senada dengan Edi, Wakil Ketua Komisi 4 DPR Alex Indra Lukman mendorong pemerintah membentuk tim investigasi khusus untuk mengusut banyaknya kayu gelondongan yang tiba-tiba muncul saat banjir bandang. Dalam wawancara dengan Kompas TV, Alex menyatakan pihaknya akan memanggil Menteri Kehutanan untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
"Ini yang pasti kita usut apa penyebabnya. Oleh karena itu Komisi 4 sudah memutuskan pada hari Kamis depan akan memanggil Menteri Kehutanan beserta jajaran untuk paparan tentang penyebab dan langkah-langkah antisipasi ke depannya," ujar Alex.
Meski begitu, ia mendorong semua pihak untuk fokus lebih dulu pada penanganan korban selama masa tanggap darurat. Namun begitu fase darurat berlalu, pengusutan harus segera dilakukan untuk mengungkap kebenaran di balik misteri kayu-kayu tersebut.
Mendagri Jujur Belum Tahu Jawaban
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dengan jujur mengaku belum mengetahui asal muasal kayu gelondongan yang terseret banjir. Pernyataan ini disampaikannya usai melakukan rapat koordinasi sejumlah kementerian dan lembaga pada Senin, 1 Desember 2024.
"Kalau masalah kayu gelondongan saya jujur saja belum tahu jawabannya. Ada yang berkembang bahwa itu katanya ilegal. Ada juga yang bilang itu kayu yang sudah lapuk. Saya tidak bisa menjawab sesuatu yang saya sendiri belum melihat dan mendapatkan data resmi. Itu saya perlu investigasi dari aparat penegak hukum yang ada di sana," ungkap Tito.
Kejujuran Mendagri ini justru menunjukkan betapa lemahnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengungkap misteri kayu gelondongan. Di tengah tuntutan publik akan jawaban pasti, para pejabat masih sibuk berspekulasi tanpa memberikan kepastian.
Gubernur Sumut Fokus Evakuasi, Investigasi Menyusul
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution turut angkat bicara terkait video yang menunjukkan banyak kayu gelondongan terseret arus banjir. Ia menegaskan akan mengecek apakah keberadaan kayu itu berkaitan dengan pembalakan liar, namun saat ini prioritasnya adalah penanganan korban.
Baca Juga: Prediksi Line Up Persebaya Putaran Kedua: Manajemen Incar Pemain Top, Benarkah Ada Nama Ivar Jenner?
"Yang pasti untuk saat ini kita fokusnya evakuasi warga dan mempercepat logistik dengan kebutuhan-kebutuhan warga. Baik kebutuhan makan, popok untuk bayi, dan kebutuhan untuk ibu-ibu," kata Bobby.
Senada, Menko PMK Pratikno menyebut masalah ini akan dibahas usai masa tanggap darurat selesai. Ia menjanjikan akan menyisir permasalahan sampai ke hulu, sebagaimana penanganan bencana banjir sebelumnya.
"Kita fokus ke tanggap darurat. Setelah ini kita akan melangkah ke pemulihan. Tentu saja kita juga menyisir permasalahan sampai ke hulu. Itu pasti akan menjadi bagian pembicaraan kita setelah tanggap darurat. Tapi sekali lagi ini masalah nyawa manusia yang harus kita tangani secara cepat dan masif," tegas Pratikno.
Kemenhut: Kayu Milik PHAT, Kerap Jadi Modus Ilegal Logging
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut Dwi Januanto Nugroho menduga kayu-kayu tersebut milik Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) yang berada di Areal Penggunaan Lain (APL). Menurutnya, Gakum Kemenhut kerap melakukan operasi membongkar modus operandi pencurian kayu ilegal hasil pembalakan liar melalui PHAT. Sejumlah kasus ditemukan di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Namun pernyataan Dwi berubah-ubah. Sebelumnya ia membantah kayu gelondongan yang terseret banjir merupakan hasil pembalakan hutan. Ia mengatakan kayu itu berasal dari pohon-pohon tua dan lapuk yang tumbang terbawa banjir.
"Sumber kayu ada tiga: kayu lapuk, kayu yang akibat siklon tumbang, dan kayu yang dihasilkan dari area penebangan. Kita deteksi bahwa itu dari PHAT di APL," jelas Dwi.
Banjir dari Langit, Kayu Bukan Kiriman Hujan
Di negeri yang berkali-kali terluka dalam luka yang sama, kita kembali disuguhi pertanyaan yang mengusik nurani. Bencana banjir bandang kali ini tak hanya membawa air dan lumpur, tapi juga menyingkap apa yang tersembunyi di hulu saat ribuan gelondongan kayu tersapu derasnya banjir.
Banjir boleh jadi datang dari langit, tapi kayu-kayu rapi terpotong itu jelas bukan kiriman hujan. Di tengah silang pendapat para pejabat, satu hal tetap tak terbantahkan: lingkungan kita sudah lama dijarah dan pengawasannya sering terlambat, baru datang usai bencana jadi berita.
Selama hutan ditebang lebih cepat daripada kebijakan ditegakkan, maka setiap banjir bukan lagi musibah, tapi peringatan keras yang tak kunjung dipelajari. (*)
Editor : Rahma Nur Anisa