JAKARTA - Manchester United kembali menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Dua kemenangan besar atas Manchester City dan Arsenal membuat Setan Merah naik ke posisi empat klasemen dan kembali masuk jalur persaingan Liga Champions. Di bawah kendali manajer sementara Michael Carrick, atmosfer di Old Trafford berubah drastis. Kepercayaan diri meningkat, performa membaik, dan stabilitas mulai terasa setelah periode penuh gejolak.
Efek “Carrick bounce” mulai terlihat jelas. Tanpa belanja besar di bursa transfer, Manchester United justru tampil lebih solid dan disiplin. Para pemain menunjukkan respons positif terhadap pendekatan Carrick yang menekankan kontrol permainan dan keseimbangan antar lini. Hasilnya, United kini kembali diperhitungkan dalam perburuan tiket Liga Champions musim 2025/26.
Ujian berikutnya datang saat Fulham bertandang ke Old Trafford. Berbeda dengan laga kontra City dan Arsenal yang lebih mengandalkan transisi cepat, kali ini Manchester United diprediksi harus mendominasi penguasaan bola. Tantangan memecah pertahanan rendah menjadi fokus utama, sekaligus membuka diskusi soal kekurangan nyata dalam komposisi skuad.
Masalah Sayap Kiri dan Prioritas Lini Tengah
Di sektor sayap, Manchester United sejatinya cukup aman. Ahmad, Briano, dan Patrick Dorgu mampu beroperasi di sisi kanan. Namun persoalan justru muncul di sisi kiri. Dorgu tampil impresif, tetapi lebih ideal sebagai opsi rotasi. Matthis Kunhar dinilai lebih efektif di tengah, sementara Mason Mount masih belum memberikan kepastian.
Situasi ini membuat United disimpulkan belum memiliki winger kiri natural berkaki kanan. Meski begitu, manajemen klub menegaskan bahwa sektor tersebut bukan prioritas utama dalam waktu dekat. Fokus utama justru tertuju pada lini tengah, area yang dinilai paling krusial dalam proyek jangka panjang.
Rashford dan Greenwood Hampir Mustahil Kembali
Nama Marcus Rashford kembali dikaitkan dengan Manchester United, namun peluang comeback dinilai sangat kecil. Rashford justru tampil tajam bersama Barcelona dengan catatan sembilan gol dan 12 assist dari 31 laga. Ia disebut nyaman di Spanyol dan menjadi bagian penting proyek klub Catalan tersebut.
Selain faktor teknis, aspek finansial juga menjadi kendala. Jika kembali ke Old Trafford, Rashford berpotensi menjadi pemain bergaji tertinggi klub. Dengan opsi pembelian senilai 35 juta euro dan kondisi keuangan Barcelona yang belum stabil, solusi kompromi di luar Inggris dinilai lebih realistis.
Hal serupa juga berlaku bagi Mason Greenwood. Meski tampil produktif bersama Marseille, Manchester United hampir pasti menutup pintu untuk kepulangannya. Percobaan sebelumnya memicu reaksi keras publik dan manajemen tidak ingin mengulang kesalahan serupa. Greenwood kemungkinan hanya akan memberi manfaat finansial melalui klausul penjualan.
Transfer Ditahan, Fokus Musim Panas
Dengan bursa transfer yang memasuki fase akhir, Manchester United dipastikan tidak akan melakukan pembelian darurat. Klub hanya akan bergerak jika target jangka panjang tiba-tiba tersedia, sesuatu yang dinilai kecil kemungkinannya. Strategi klub jelas: menunggu hingga musim panas.
Jika Manchester United berhasil lolos ke Liga Champions, daya beli klub akan meningkat signifikan. Rencana perekrutan mencakup gelandang baru, winger kiri, satu bek, dan kemungkinan penjaga gawang cadangan. Untuk saat ini, satu-satunya potensi pemain keluar adalah Tyrell Malacia yang menginginkan menit bermain lebih banyak sebelum kontraknya berakhir.
Efek Mourinho dan Peta Manajer Permanen
Menariknya, meski Manchester United tidak tampil di kompetisi Eropa pada musim 2025/26, hasil Liga Champions justru berdampak pada masa depan klub. Kemenangan dramatis Benfica asuhan Jose Mourinho atas Real Madrid membuat Marseille tersingkir dan posisi Roberto De Zerbi sebagai pelatih mulai goyah.
Situasi ini membuka peluang bagi Manchester United. De Zerbi selama ini masuk radar Old Trafford, namun terhambat klausul kompensasi. Jika resmi berpisah dengan Marseille, De Zerbi akan tersedia secara gratis, sesuai dengan filosofi efisiensi biaya yang diusung Sir Jim Ratcliffe pasca kegagalan mahal era Ruben Amorim.
Meski Carrick menunjukkan kinerja positif, sumber internal menyebut ia tetap diposisikan sebagai caretaker. Manchester United menginginkan manajer permanen berpengalaman dan minim risiko. Selain De Zerbi, nama Oliver Glasner juga disebut sebagai kandidat kuat.
Ratcliffe, Casemiro, dan Bayangan Paul Scholes
Dengan Casemiro dipastikan hengkang di akhir musim, Manchester United memasuki fase ketiga pembangunan skuad: lini tengah. Ratcliffe secara terbuka menyebut sosok yang paling dirindukan klub adalah Paul Scholes, simbol pengendali tempo permainan.
Nama-nama seperti Adam Wharton, Elliot Anderson, dan Carlos Baleba masuk daftar pantauan. Namun lebih dari sekadar transfer, Manchester United kini mencari identitas. Seorang gelandang yang mampu mengatur ritme, memberi ketenangan, dan menjadi pusat permainan.
Di bawah Michael Carrick, yang juga dikenal sebagai maestro kontrol lini tengah, proyek ini terasa semakin relevan. Musim panas mendatang tak hanya menentukan komposisi skuad, tetapi juga arah Manchester United dalam lima tahun ke depan.
Editor : Novica Satya Nadianti