JAKARTA – Eric Cantona Manchester United adalah dua nama yang tak terpisahkan dalam sejarah kebangkitan Setan Merah pada awal era Premier League. Di antara nama besar seperti Cristiano Ronaldo, David Beckham, dan Wayne Rooney, sosok Eric Cantona justru menempati tempat paling istimewa di hati para penggemar Old Trafford. Ia bukan sekadar pemain, melainkan simbol perubahan, keberanian, dan dominasi.
Era akhir 1980-an hingga awal 2000-an menjadi fase krusial bagi Manchester United. Titik balik dimulai pada 1986 ketika Sir Alex Ferguson resmi ditunjuk sebagai manajer. Namun, enam musim pertama Ferguson berjalan berat. Hingga akhirnya, pada 1992, ia mendatangkan sosok kontroversial bernama Eric Cantona, pemain bernomor punggung 7 yang kelak menjadi kunci kebangkitan klub.
Masa Kecil dan Bakat yang Terganggu Temperamen
Eric Daniel Pierre Cantona lahir di Marseille, Prancis, pada 24 Mei 1966. Masa kecilnya keras, ditempa kondisi Eropa yang belum sepenuhnya pulih dari perang. Watak temperamental Cantona sudah terlihat sejak dini, namun perlahan tersalurkan melalui sepak bola, olahraga yang diwariskan ayahnya, mantan kiper klub lokal.
Gagal masuk akademi Olympique Marseille, Cantona memulai karier di klub kecil SO Les Caillols sebagai kiper, sebelum beralih posisi menjadi penyerang. Bakatnya mencuri perhatian dan membawanya ke akademi AJ Auxerre. Meski performanya menjanjikan, temperamen Cantona menjadi masalah serius. Ia terlibat berbagai insiden, mulai dari memukul rekan setim hingga tekel brutal yang berujung sanksi panjang.
Kepindahannya ke Marseille, Montpellier, dan Nimes tak mengubah situasi. Cantona kerap bermasalah dengan wasit, pelatih, bahkan federasi sepak bola Prancis. Pada usia 25 tahun, kariernya nyaris berakhir setelah ia sempat menyatakan pensiun dini pada 1991.
Titik Balik di Inggris
Nasib Cantona berubah berkat campur tangan Michel Platini dan Gerard Houllier. Atas saran mereka, Cantona hijrah ke Inggris dan bergabung dengan Leeds United pada Februari 1992. Bersama Leeds, Cantona membantu meraih gelar liga Inggris musim 1991/1992, meski konfliknya dengan pelatih Howard Wilkinson terus terjadi.
Situasi itu membuka jalan bagi transfer sensasional ke Manchester United pada November 1992. Dengan mahar hanya 1,2 juta poundsterling, Ferguson membawa Cantona ke Old Trafford di tengah krisis penyerang yang melanda timnya.
Bagi Sir Alex Ferguson, Cantona bukan pemain biasa. Ia diperlakukan secara khusus, diberi kebebasan di dalam dan luar lapangan. Keputusan itu terbukti jenius. Pada musim debutnya, Cantona mencatat 9 gol dan 11 assist dari 22 laga Premier League, membawa United meraih gelar liga pertama setelah puasa 26 tahun.
Raja Old Trafford
Musim 1993/1994 menjadi puncak dominasi Cantona. Ia mencetak 18 gol dan 12 assist di liga, serta total 25 gol di semua kompetisi. Manchester United meraih double winner, Premier League dan FA Cup, dengan Cantona mencetak dua gol di final Piala FA melawan Chelsea. Tak heran, ia dinobatkan sebagai PFA Player of the Year 1994.
Namun, kontroversi terbesar datang pada Januari 1995 dalam laga melawan Crystal Palace. Insiden kung fu kick ke arah suporter menjadi salah satu momen paling ikonik sekaligus kelam dalam sejarah sepak bola. Cantona dihukum larangan bermain sembilan bulan dan sanksi sosial.
Alih-alih melepasnya, Ferguson justru mempertahankan sang pemain. Ia terbang ke Paris untuk meyakinkan Cantona bertahan. Kepercayaan itu terbayar lunas. Setelah kembali pada Oktober 1995, Cantona memimpin United meraih double winner musim 1995/1996 dan gelar liga kembali pada 1996/1997.
Warisan Sang Raja
Pada akhir musim 1996/1997, Cantona mengejutkan dunia dengan pensiun di usia 31 tahun. Meski hanya lima musim berseragam Manchester United, pengaruhnya luar biasa. Ia mempersembahkan empat gelar liga Inggris, dua FA Cup, dan menjadi fondasi lahirnya era dominasi United.
Eric Cantona Manchester United bukan sekadar kisah trofi, melainkan pelajaran tentang keberanian manajer mengambil risiko dan memahami karakter pemain. Hingga kini, “King Cantona” tetap dikenang sebagai legenda, sosok penuh kontroversi, karisma, dan pengaruh besar dalam membentuk Premier League menjadi liga paling prestisius di dunia.