BLITAR - Cara berbuka puasa yang tepat kembali menjadi sorotan setelah penjelasan dari dr Tirta viral di media sosial. Ia menegaskan bahwa kebiasaan langsung menyantap makanan berat, terutama bersantan, saat azan magrib bisa berdampak buruk bagi kesehatan pencernaan.
Menurut dr Tirta, selama berpuasa dari fajar hingga magrib, lambung dalam kondisi kosong tanpa asupan makanan maupun minuman. Kondisi ini menyebabkan produksi asam lambung tetap berjalan dan gas menumpuk di dalam lambung serta usus.
“Bayangkan lambung kita kosong seharian, tapi asam lambung tetap keluar. Akibatnya lambung dan usus terisi gas,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa jika kondisi tersebut langsung “dihantam” makanan berat, apalagi yang mengandung lemak jenuh seperti santan, maka lambung akan bekerja ekstra keras. Hal inilah yang berisiko memicu gangguan pencernaan.
Risiko Dispepsia hingga GERD
Dr Tirta menyebutkan bahwa kebiasaan berbuka dengan makanan berat secara langsung bisa meningkatkan risiko dispepsia atau yang dikenal sebagai perut begah. Bahkan, dalam jangka panjang bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
“Risikonya bisa dispepsia, perut kembung, bahkan bisa berujung ke GERD atau gastritis,” ujarnya.
Dispepsia sendiri merupakan kondisi ketika seseorang merasa tidak nyaman di perut bagian atas, seperti kembung, mual, atau cepat kenyang. Sementara GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memilih jenis makanan yang tepat saat berbuka, bukan sekadar mengikuti keinginan atau nafsu makan setelah seharian menahan lapar.
Urutan Berbuka yang Dianjurkan
Dalam penjelasannya, dr Tirta membagikan langkah-langkah berbuka puasa yang ideal dan lebih ramah bagi sistem pencernaan.
Pertama, disarankan untuk memulai dengan minum air putih. Selain membantu menghidrasi tubuh, air putih juga berfungsi menetralisir kondisi di rongga mulut serta mengurangi risiko bau mulut.
Kedua, konsumsi makanan ringan yang mudah dicerna, seperti kurma. Ia menyarankan cukup tiga butir kurma sebagai sumber energi awal.
“Tubuh kita lagi dalam kondisi hipoglikemia saat puasa, jadi butuh energi cepat. Kurma itu sudah sangat cukup,” jelasnya.
Selain kurma, buah-buahan seperti pisang, apel, mangga, atau alpukat juga bisa menjadi alternatif. Kandungan gula alami dalam buah membantu menaikkan kadar gula darah secara perlahan dan aman.
Jangan Langsung Makan Berat
Setelah mengonsumsi air putih dan makanan ringan, dr Tirta menyarankan untuk memberi jeda sebelum makan besar. Idealnya, jeda tersebut digunakan untuk melaksanakan salat magrib.
Tujuannya agar sistem pencernaan memiliki waktu untuk “bangun” secara bertahap sebelum menerima makanan yang lebih kompleks.
Barulah setelah salat magrib, seseorang boleh mengonsumsi makanan berat. Namun, tetap harus memperhatikan komposisi makanan agar seimbang dan tidak berlebihan.
“Bukan berarti santan itu dilarang. Tapi jangan langsung dimakan saat pertama berbuka,” tegasnya.
Pola Sehat untuk Puasa yang Optimal
Penjelasan dr Tirta ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pola makan saat berbuka puasa sangat menentukan kesehatan tubuh selama Ramadan. Kesalahan kecil seperti langsung makan berat bisa berdampak pada gangguan pencernaan.
Dengan mengikuti urutan yang benar—air putih, kurma atau buah, jeda, lalu makanan berat—tubuh dapat beradaptasi lebih baik setelah seharian berpuasa.
Selain itu, pemilihan makanan juga penting. Hindari makanan terlalu berminyak, berlemak tinggi, atau terlalu pedas saat berbuka, terutama dalam kondisi perut kosong.
Edukasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat menjalani ibadah puasa dengan lebih sehat dan nyaman, tanpa gangguan pencernaan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.(*)
Editor : Rendra Febrian Permana