BLITAR KAWENTAR - Apakah seseorang menjadi malas karena pilihan hidup, atau memang sejak lahir sudah terbentuk demikian? Pertanyaan ini telah lama menjadi perdebatan.
Psikologi modern dan riset genetika memberikan jawaban mengejutkan, sifat malas dan rajin ternyata bukan sekadar kebiasaan, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor biologis dan lingkungan.
Dalam teori kepribadian The Big Five Personality Traits, terdapat lima dimensi utama: openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan neuroticism. Dari kelimanya, conscientiousness adalah faktor yang paling relevan ketika membicarakan rajin atau malas.
Orang dengan skor conscientiousness tinggi biasanya teratur, disiplin, berorientasi pada tujuan, serta mampu mengendalikan dorongan. Sebaliknya, mereka yang memiliki skor rendah cenderung impulsif, lebih santai, dan sering menghindari rutinitas yang dianggap membosankan. Label “malas” pun lebih sering dilekatkan pada kelompok terakhir.
Namun, apakah sifat ini sepenuhnya terbentuk dari kebiasaan dan pola asuh, atau ada unsur bawaan sejak lahir?
Riset psikologi dan genetika menunjukkan bahwa faktor biologis memiliki kontribusi yang cukup besar. Studi pada anak kembar, baik identik maupun non-identik, membuktikan bahwa sekitar 41–44% perbedaan sifat rajin dan malas dipengaruhi oleh gen. Artinya, jika orang tua memiliki kecenderungan disiplin, ada kemungkinan anak juga mewarisi sifat tersebut, meskipun tidak bersifat mutlak.
Baca Juga: Kakanwil BPN Jatim Evaluasi Tunggakan Pelayanan, Target Penyelesaian Dikebut Jelang Akhir Tahun
Penelitian lain juga mengaitkan struktur otak dengan perbedaan ini. Bagian prefrontal cortex, yang berfungsi mengatur fokus dan pengambilan keputusan, lebih aktif pada individu yang rajin. Sementara individu dengan aktivitas lebih rendah di area ini cenderung kesulitan konsisten, sehingga lebih mudah menunda pekerjaan.
Meski gen berperan besar, lingkungan tetap menjadi kunci. Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan rutinitas teratur, misalnya jadwal belajar dan kewajiban rumah tangga, cenderung lebih disiplin. Sebaliknya, anak yang terbiasa hidup dalam suasana longgar mungkin akan lebih fleksibel, bahkan terlihat malas di mata masyarakat.
Faktor sosial-budaya juga punya andil. Di Indonesia, rajin sering dipandang sebagai nilai moral. Pepatah “rajin pangkal pandai” memperkuat persepsi bahwa malas adalah sifat buruk. Sebaliknya, di budaya lain, sikap santai bisa dianggap sebagai tanda hidup seimbang.
Baca Juga: Tim Dream Team di Balik Kesuksesan Welcome to the Black Parade: Kolaborasi Profesional Kelas Dunia
Meski ada kecenderungan biologis, psikologi menegaskan bahwa sifat rajin dan malas tidak bersifat permanen. Individu bisa melatih diri untuk mengubah kebiasaan. Beberapa strategi yang diakui efektif antara lain:
-
Membuat tujuan kecil dan realistis. Tujuan besar sering menakutkan, sehingga menunda lebih mudah dilakukan. Membagi target ke langkah kecil membantu otak merasa lebih siap.
-
Membangun kebiasaan bertahap. Rajin tidak muncul seketika, melainkan dari pengulangan perilaku sederhana, seperti bangun tepat waktu atau menyelesaikan satu tugas sebelum berpindah ke yang lain.
-
Dukungan lingkungan. Lingkungan kerja atau belajar yang mendukung bisa memotivasi individu. Misalnya, teman sebaya yang rajin dapat memberi dorongan positif.
-
Mengubah pola pikir. Fokus pada manfaat dari pekerjaan yang diselesaikan, bukan hanya kesulitan, membantu meningkatkan motivasi.
Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa rajin bukanlah jaminan mutlak kesuksesan, begitu pula malas bukan jalan pasti menuju kegagalan. Orang yang rajin memang memiliki keunggulan dalam ketekunan dan stabilitas. Namun, mereka bisa kesulitan ketika menghadapi situasi yang membutuhkan kreativitas atau improvisasi.
Sebaliknya, orang yang dianggap malas sering kali menemukan cara lebih efisien untuk menyelesaikan pekerjaan. Mereka mungkin tidak mengikuti aturan kaku, tetapi bisa menemukan solusi inovatif. Beberapa tokoh dunia bahkan dikenal karena mencari jalan pintas kreatif yang lahir dari “kemalasan produktif”.
Sifat malas dan rajin bukan semata-mata pilihan pribadi, melainkan perpaduan antara faktor biologis dan lingkungan. Gen berperan signifikan, tetapi pola asuh, pengalaman, dan budaya tetap memengaruhi bagaimana sifat itu berkembang.
Baca Juga: Bakesbangpol Kota Blitar Sebut Kolaborasi Penting untuk Jaga Stabilitas Daerah
Daripada melabeli diri atau orang lain secara negatif, lebih bijak jika memahami sifat ini sebagai bagian dari keunikan individu. Yang terpenting adalah bagaimana setiap orang mengelola kecenderungan dirinya, memanfaatkan kelebihan, dan memperbaiki kelemahan. Dengan begitu, baik rajin maupun malas, setiap orang memiliki jalan masing-masing untuk mencapai kesuksesan. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah