Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bedanya Orang Kaya dan Biasa Hadapi AI: Satu Bisa Bangkrut, Satu Bisa Jadi Miliarder

Axsha Zazhika • Jumat, 19 September 2025 | 23:15 WIB
Bedanya Orang Kaya dan Biasa Hadapi AI: Satu Bisa Bangkrut, Satu Bisa Jadi Miliarder
Bedanya Orang Kaya dan Biasa Hadapi AI: Satu Bisa Bangkrut, Satu Bisa Jadi Miliarder

BLITAR – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa dampak besar pada dunia kerja dan bisnis. Pertanyaannya, siapa yang akan bertahan di era penuh disrupsi ini? Menurut pengamat bisnis Kalimasada, jawabannya bergantung pada pola pikir. Orang kaya dan orang biasa memiliki cara berbeda dalam menyikapi ancaman sekaligus peluang dari teknologi AI.

Dalam video bertajuk Rich Mindset Versus Poor Mindset, Kalimasada menjelaskan bahwa perbedaan utama bukan soal modal atau harta, melainkan sudut pandang. “Orang biasa melihat risiko sebagai ancaman. Sedangkan orang kaya melihat risiko sebagai peluang untuk tumbuh,” ujarnya.

AI kini menjadi topik hangat di berbagai sektor. Mulai dari dunia kreatif, perdagangan, perbankan, hingga pendidikan. Sebagian orang khawatir pekerjaannya akan digantikan mesin. Namun sebagian lain justru memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, dan meraih keuntungan lebih besar.

Menurut Kalimasada, ada perbedaan mendasar dalam menghadapi ketidakpastian. Orang biasa cenderung menyalahkan faktor eksternal seperti pemerintah, krisis global, atau kebijakan ekonomi. Sebaliknya, orang kaya lebih fokus pada hal-hal yang bisa mereka kendalikan.

“Mereka paham tidak semua bisa dikontrol. Tapi justru karena itu, orang kaya fokus pada skill, kerja keras, dan inovasi. Tiga hal ini jadi kunci sukses,” jelasnya.

Dalam konteks AI, orang biasa mungkin merasa cemas ketika pekerjaan editing atau desain mulai diambil alih mesin. Namun orang dengan mindset kaya akan menggunakan AI sebagai alat bantu agar bisa menerima lebih banyak klien, bekerja lebih cepat, dan menghasilkan produk yang lebih berkualitas.

Kalimasada mencontohkan masa pandemi Covid-19 sebagai bukti nyata perbedaan mindset tersebut. Banyak bisnis gulung tikar, namun pada saat yang sama muncul miliarder baru setiap harinya.

“Ada yang panik dan bangkrut, tapi ada juga yang memanfaatkan tren. Mereka bikin online shop, menjual produk kesehatan, atau trading kripto. Dari sana banyak orang justru naik kelas,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kondisi serupa juga berlaku pada era AI. Ketakutan yang tidak diimbangi inovasi hanya akan membuat seseorang tertinggal. Sebaliknya, keberanian mengambil risiko yang diperhitungkan bisa mengubah ancaman menjadi keuntungan besar.

Perbedaan lain yang ia soroti adalah orientasi waktu. Orang biasa sering berfokus pada hasil instan, sementara orang kaya memikirkan 10 hingga 20 tahun ke depan.

“Mereka bukan hanya mikirin makan apa hari ini, tapi juga apa yang bisa diwariskan untuk anak cucu nanti. Itulah yang membedakan orientasi jangka pendek dan jangka panjang,” ungkapnya.

Dalam teori investasi, prinsip ini dikenal sebagai time value of money (TVM). Orang kaya memahami bahwa uang hari ini akan menurun nilainya di masa depan jika hanya disimpan. Karena itu, mereka membiarkan uang bekerja melalui investasi, bisnis, atau aset produktif.

Di akhir paparannya, Kalimasada kembali menekankan bahwa cara pandang terhadap risiko sangat menentukan nasib seseorang di era AI.

“Orang biasa melihat risiko sebagai alasan untuk mundur. Orang kaya melihat risiko sebagai peluang untuk melompat lebih jauh,” tegasnya.

Dengan demikian, AI bukan sekadar ancaman. Ia bisa menjadi alat untuk membangun bisnis baru, mempercepat pekerjaan, dan meningkatkan penghasilan. Perbedaan hasilnya, menurut Kalimasada, hanya soal mindset: siapa yang berani belajar dan beradaptasi, dan siapa yang hanya pasrah pada keadaan.

Era AI membuka pintu bagi siapa saja untuk naik kelas. Namun hanya mereka yang mampu mengubah pola pikir dari rasa takut menjadi rasa ingin tahu yang akan bertahan. Sebaliknya, mereka yang menolak beradaptasi justru berisiko tersingkir dari persaingan global.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#mindset #kaya #ai #peluang bisnis