Data kunjungan itu menunjukkan kenaikan setiap tahunnya, menandakan masyarakat Blitar semakin sadar akan pentingnya membaca. Ya, antusiasme warga Blitar terhadap kegiatan membaca tercermin dari padatnya pengunjung perpustakaan.
Sejak membuka layanan pukul 08.00 WIB hingga 20.00 WIB, dari Senin sampai Sabtu, perpustakaan tidak pernah sepi. Pemustaka dari kalangan pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga ibu rumah tangga berbondong-bondong datang untuk membaca dan meminjam buku.
Peningkatan minat baca ini bukan terjadi begitu saja. Perpustakaan secara konsisten menghadirkan berbagai program untuk menumbuhkan budaya membaca. "Tugas kami memang untuk membudayakan orang mau membaca," jelas Nurny.
Strategi membuka perpustakaan hingga malam hari terbukti efektif menjangkau warga yang sibuk bekerja di siang hari. Mereka kini memiliki kesempatan untuk mengakses bahan bacaan setelah jam kerja, menjadikan literasi sebagai bagian dari gaya hidup.
“Layanan perpustakaan yang buka sampai malam memang sangat bagus dan patut diapresiasi. Karena dengan begini, kami yang pulang sore atau malam masih bisa menyempatkan diri untuk membaca buku setelah kesibukan bekerja,” ucap Soraya, pengajar bahasa Indonesia di salah satu SMP di Srengat. Hampir setiap hari dirinya berkunjung ke Perpustakaan Bung Karno.
Hal senada juga diungkapkan pengunjung lain, Dessy. “Di perpustakaan, selain membaca dan meminjam buku, kita juga bisa sharing perihal apa yang barusan kita baca kepada sesama pencinta buku. Jadi, apa yang dibaca juga bisa bermanfaat ke orang lain dan merasa tidak sia-sia,” ungkap pedagang ini.
Minat baca warga Blitar tidak hanya distimulasi melalui penyediaan koleksi buku. Perpustakaan juga menggelar kegiatan literasi interaktif seperti "Sore yang Fiksi". Dalam kegiatan ini, pemustaka tidak hanya membaca, tetapi juga berbagi pengalaman tentang buku yang telah mereka nikmati.
"Bagaimana pemustaka itu membaca sebuah buku, kemudian dia bisa membagikan, bisa menceritakan buku apa yang pernah dibaca. Ini adalah upaya kami untuk meningkatkan minat baca," papar Nurny.
Peningkatan minat baca warga Blitar juga didorong oleh konsep inovatif yang diterapkan perpustakaan. Mengusung konsep GLAM (gallery, library, archive, museum), perpustakaan menawarkan pengalaman literasi yang komprehensif. Warga tidak hanya membaca buku, tetapi juga dapat menjelajahi galeri seni, menelusuri arsip sejarah, dan menikmati memorabilia.
Layanan ini menjawab kebutuhan literasi masyarakat yang beragam. Anak-anak tertarik dengan koleksi buku cerita dan galeri, pelajar memanfaatkan ruang baca, sementara masyarakat umum menikmati memorabilia dan arsip sejarah. Setiap segmen masyarakat menemukan daya tarik untuk terus datang dan membaca.
Melihat peningkatan minat baca yang menggembirakan, perpustakaan membuka peluang kolaborasi dengan komunitas-komunitas literasi lain di Blitar. "Sementara ini belum, tetapi ke depannya mungkin bisa bersinergi dengan komunitas-komunitas," ungkap Nurny.
Kolaborasi ini penting untuk memperkuat ekosistem literasi di Blitar. Dengan bergabungnya berbagai komunitas baca, jangkauan program literasi akan semakin luas dan dampaknya lebih masif. Ide-ide segar dari berbagai pihak akan memperkaya program dan menjaga minat baca tetap tinggi.
Dia mengajak kepada seluruh masyarakat Blitar untuk terus memelihara budaya membaca. "Buku adalah jendela dunia. Mari kita membaca supaya kita bisa mengguncang, bisa merangkul dunia ini," ujarnya.
Dia meyakini bahwa membaca bukan sekadar hobi, melainkan investasi untuk masa depan. Karena dengan membaca, kita bisa pintar. Dan dengan membaca, kita bisa mengimplementasikan apa yang kita baca, sehingga nanti kita bisa mencapai kesejahteraan. “Peningkatan pengunjung perpustakaan setiap tahun menjadi indikator nyata bahwa masyarakat Blitar sedang bertransformasi menjadi masyarakat yang literat, kritis, dan berdaya,” pungkasnya. (*/c1/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah