BLITAR KAWENTAR - Monogami atau hubungan dengan satu pasangan sering dianggap sebagai wujud cinta sejati. Namun, sejarah menunjukkan bahwa konsep ini merupakan hasil evolusi sosial manusia, bukan bawaan alami.
Menurut Evan dari kanal 1%, monogami berkembang bukan semata karena cinta, melainkan karena kebutuhan sosial dan ekonomi. “Dulu perempuan butuh keamanan dan dukungan ayah bagi anaknya, sementara laki-laki membutuhkan partner seksual tetap. Dari situ muncul pernikahan monogami,” katanya.
Dalam sejarah kerajaan dan politik, pernikahan juga sering menjadi alat untuk memperkuat kekuasaan dan aliansi. Kisah klasik seperti pernikahan Julius Caesar dan Cleopatra menunjukkan bahwa pernikahan dahulu kerap didasari kepentingan, bukan kasih sayang.
Baca Juga: Kabar Resmi! Gaji Pensiunan Naik 16 Persen Mulai 2025, Dijamin APBN dan Cair Awal Tahun
Kini, monogami berevolusi menjadi simbol komitmen emosional. Namun, benturan muncul ketika ekspektasi ideal setia secara seksual, sosial, emosional, dan struktural tidak sepenuhnya terpenuhi oleh pasangan.
Ahli antropologi modern menyebutkan bahwa manusia sejatinya fleksibel secara biologis: bisa monogami, bisa juga poligami, tergantung konteks budaya dan kebutuhan sosial.
Monogami adalah hasil adaptasi sosial manusia terhadap perubahan zaman. Dalam dunia modern, keberhasilannya bukan bergantung pada naluri alamiah, melainkan pada komunikasi dan komitmen kedua pihak
Baca Juga: Rahasia Otak di Balik Ingatan: Mengapa Emosi Negatif Lebih Melekat?
Editor : M. Subchan Abdullah