Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Samrotul Azizah, Warga Kabupaten Blitar Produksi Sari Nanas, Ubah Garasi Jadi Tempat Produksi

Mohammad Syafi'uddin • Selasa, 27 Februari 2024 | 17:56 WIB

 

ULET: Samrotul Azizah saat berada di ruang produksi usaha sari nanas miliknya.
ULET: Samrotul Azizah saat berada di ruang produksi usaha sari nanas miliknya.

BLITAR - Samrotul Azizah tidak hanya mampu mengoptimalkan potensi lokal. Warga Sidorejo, Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar ini juga memanfaatkan jaringan saat produksi olahannya diminati pasar, yaitu sari nanas.

Tahun 2017 menjadi titik awal bagi Samrotul Azizah. Uang yang selama ini disisihkan akhirnya cukup untuk membeli alat produksi. Sehingga kapasitas sari nanas olahannya pun bertambah. Ingatan itu tidak pernah hilang dari benaknya. “Dulu tidak sebesar ini dapurnya, sekarang sudah ada mesin sederhana untuk bantu produksi,” katanya kepada koran ini.

Uji coba berbagai produk olehan dari nanas pernah dia lalui. Kemudian, Azizah menjual sendiri produk dilakukan sekaligus untuk melihat minat pasar. Dari dulu, perempuan 42 tahun ini, memang fokus membuat makanan olahan nanas. Itu karena, daerahnya di Kabupaten Blitar ini merupakan penghasil nanas.

Bahkan, produksi tinggi tersebut tidak mampu terserap dengan maksimal danrentan busuk. Konon, pemilik nama latin Ananas Comosus ini paling lama bertahan selama 10 hari.

“Sebagai ibu rumah tangga itu saya nggak ingin selalu bergantung pada laki-laki. Saya ingin memiliki usaha sendiri. Alhamdulilah suami saya mendukung,” ujarnya.

Selain karena alasan itu, keluarga suaminya juga merupakan pedagang buah nanas. Hal ini semakin membuatnya terdorong berkreasi. Selain memiliki akses bahan baku, keluarga tersebut juga bisa menjadi jaringan pemasaran produk.

“Dari beberapa kali uji coba, permintaan selai nanas dan minuman itu tidak imbang. Penjualan selai itu tidak sebagus minuman. Akhirnya saya fokus ke minuman,” jelasnya.

Sekarang ini produk olahanya sudah terkenal di berbagai wilayah seperti Blitar, Kediri Tulungagung, Solo, Wonosobo, Surabaya dan Malang.

Bahkan ketika mendekati bulan puasa seperti saat ini, dia sudah meningkatkan produksi pembuatan minuman sari nanas.

Selain di bulan puasa, hari raya Idul Fitri dan musim haji menjadi momen-momen permintaa produk minumanya banyak. Untuk menjawab permintaan pasar tersebut, Azizah biasanya produksi selama 24 jam.

“Siapa sangka bisa seperti sekarang ini. Padahal awalnya dari dapur, pindah ke garasi dan garasi di besarkan untuk menampung mesin produksi. Ukuranya garasi itu dulu kecil, cuma 3 meteran,” ucapnya sembari menunjukkan lokasi awal usaha.

Usaha Azizah tidak mulus-mulus saja. Pengalaman tak sedap juga dia rasakan. Misalnya saat pandemi Covid-19.

Saat itu, lebaran dan haji sepi karena pemerintah menerapkan pembatasan kegiatan untuk mencegah penyebaran virus. Barang produksi yang sudah banyak diproduksi tak beredar karena pasar lesu.  

Kondisi ini nyaris membuat usahanya gulung tikar. Untuk mengurangi pengeluaran, dia  terpaksa off untuk sementara waktu. Bahkan, sejumlah karywan terpaksa diliburkan untuk menekan biaya produksi.

Beruntung, kondisi ini tidak berlangsung lama. Beberapa tahun berikutnya pemerintah memberikan kelonggaran. Aktivitas usaha pun mulai jalan dan kini nyaris kembali seperti sebelum pandemi. (*/hai)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#produksi #Kabupaten Blitar #nanas