JAKARTA – klaim pensiun ASN melalui layanan digital ternyata belum menjadi pilihan utama para peserta PT Taspen (Persero). Meski berbagai inovasi berbasis teknologi telah dikembangkan, mayoritas peserta masih mengandalkan proses manual dalam pengajuan klaim maupun autentifikasi pensiun.
Fakta tersebut terungkap dalam rapat dengar pendapat PT Taspen bersama Komisi XI DPR RI. Direktur Utama PT Taspen, Roni, memaparkan bahwa pemanfaatan layanan digital untuk klaim pensiun ASN masih tergolong rendah dibandingkan layanan konvensional.
Menurut Roni, Taspen saat ini mengelola jutaan peserta aktif dan pensiunan yang tersebar di seluruh Indonesia. Tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan adalah mendorong transformasi digital di kalangan pensiunan ASN yang sebagian masih belum terbiasa menggunakan teknologi.
Taspen Layani Hampir 8 Juta Peserta
Dalam paparannya, Roni menjelaskan bahwa Taspen saat ini melayani sekitar 7,8 juta peserta. Jumlah tersebut terdiri atas 4,7 juta peserta aktif dan sekitar 3,1 juta penerima pensiun.
Untuk menjangkau seluruh peserta, Taspen memiliki 57 kantor cabang, sekitar 17 ribu titik layanan, serta bekerja sama dengan 44 mitra bayar. Selain itu, perusahaan juga menempatkan petugas di berbagai Mal Pelayanan Publik yang kini mulai bertransformasi menjadi layanan digital.
Roni menegaskan bahwa DNA utama Taspen hanya terdiri dari dua aspek utama, yakni pelayanan dan investasi. Kedua aspek tersebut menjadi fokus utama dalam pengelolaan dana dan pelayanan kepada peserta.
Layanan Digital Sudah Lengkap, Pemanfaatan Masih Rendah
Taspen sebenarnya telah menghadirkan berbagai layanan berbasis teknologi untuk memudahkan peserta. Beberapa di antaranya adalah layanan tanpa dokumen, autentifikasi digital, Taspen One Hour Online Service, layanan antar pembayaran pensiun, klaim otomatis, hingga layanan klaim satu jam.
Namun, pemanfaatannya masih belum optimal. Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa pengajuan klaim pensiun secara digital baru dimanfaatkan sekitar 35 persen peserta.
Artinya, sekitar 65 persen peserta masih memilih mengajukan klaim secara manual atau datang langsung ke kantor layanan Taspen.
Kondisi serupa juga terjadi pada proses autentifikasi pensiun bulanan. Saat ini baru sekitar 58 persen penerima pensiun yang menggunakan autentifikasi digital melalui telepon pintar.
Sementara itu, sekitar 42 persen peserta masih melakukan autentifikasi secara manual dengan datang ke kantor cabang atau menerima kunjungan petugas Taspen.
Faktor Gaptek dan Kekhawatiran Jadi Kendala
Roni mengakui rendahnya pemanfaatan layanan digital tidak lepas dari karakteristik sebagian peserta pensiunan yang masih kurang akrab dengan teknologi.
Menurutnya, banyak pensiunan yang masih merasa lebih aman menggunakan layanan manual dibandingkan aplikasi digital.
"Masih ada yang gaptek, takut salah, atau takut tertipu," ungkapnya dalam rapat tersebut.
Baca Juga: Gaji PNS Cair 1 April 2026, ASN Dapat Tambahan Penghasilan Baru di Luar Gaji Pokok, Ini Rinciannya
Karena alasan itulah Taspen tetap mempertahankan pelayanan langsung kepada peserta. Bahkan sebagian petugas secara rutin mendatangi rumah pensiunan yang mengalami kendala dalam proses autentifikasi.
Langkah ini dilakukan agar pembayaran manfaat pensiun tetap berjalan lancar dan tidak mengganggu hak peserta.
Taspen Siapkan Layanan Khusus Penerima Pensiun
Selain layanan reguler, Taspen juga memiliki layanan khusus bagi penerima pensiun yang tidak melakukan autentifikasi selama tiga bulan berturut-turut.
Petugas akan melakukan verifikasi langsung untuk memastikan kondisi peserta dan memastikan pembayaran manfaat tetap tepat sasaran.
Layanan tersebut juga berlaku untuk penerima manfaat berupa janda atau duda pensiunan. Verifikasi dilakukan guna memastikan status penerima manfaat masih memenuhi ketentuan yang berlaku.
Tingkat Kepuasan Peserta Terus Meningkat
Meski transformasi digital masih menghadapi tantangan, Taspen mengklaim tingkat kepuasan peserta terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Penilaian tersebut dilakukan oleh pihak ketiga independen melalui pengukuran Customer Satisfaction Index (CSI).
Berdasarkan hasil survei tahun 2024, indeks kepuasan peserta menunjukkan tren positif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Roni menyebut peningkatan tersebut didorong oleh berbagai inovasi pelayanan yang terus dilakukan perusahaan untuk memberikan kemudahan bagi peserta aktif maupun pensiunan.
Kelola Aset Hampir Rp400 Triliun
Dalam kesempatan yang sama, Taspen juga memaparkan kinerja keuangannya. Total aset yang dikelola perusahaan mencapai angka yang sangat besar.
Untuk program Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM), nilai aset tercatat sebesar Rp149,53 triliun.
Sementara dana Akumulasi Iuran Pensiun (AIP) yang dititipkan kepada Taspen untuk dikelola mencapai Rp250,77 triliun.
Dengan demikian, total dana yang berada dalam pengelolaan Taspen mendekati Rp400 triliun. Pertumbuhan aset program THT tercatat sebesar 2,52 persen, sedangkan aset AIP tumbuh lebih tinggi hingga 10,43 persen.
Data tersebut menunjukkan peran strategis Taspen sebagai pengelola dana pensiun ASN sekaligus penyedia layanan bagi jutaan aparatur sipil negara dan pensiunan di seluruh Indonesia.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari