Budidaya Belut Makin Menjanjikan, Permintaan Tembus 1,5 Ton per Minggu hingga Tolak Order 4 Ton

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 19:05 WIB
Budidaya belut di Sleman kian menjanjikan. Permintaan mencapai 1,5 ton per minggu, bahkan pelaku usaha mengaku menolak pesanan hingga 4 ton.(pinterest)
Budidaya belut di Sleman kian menjanjikan. Permintaan mencapai 1,5 ton per minggu, bahkan pelaku usaha mengaku menolak pesanan hingga 4 ton.(pinterest)

SLEMAN - Budidaya belut disebut semakin menjanjikan seiring meningkatnya permintaan pasar. Seorang pelaku usaha di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengaku kini rutin memenuhi permintaan sekitar 1,5 ton belut setiap pekan. Bahkan, ia terpaksa menolak pesanan hingga sekitar 4 ton per minggu karena keterbatasan kapasitas produksi.

Pernyataan tersebut disampaikan Suardi, pelaku usaha budidaya belut asal Dusun Sabrang Wetan, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Menurutnya, perkembangan usahanya mengalami lonjakan setelah aktivitas budidayanya dikenal luas melalui media sosial.

Sebelumnya, permintaan belut yang diterimanya hanya mencapai sekitar satu kuintal setiap minggu. Kini jumlah tersebut meningkat drastis menjadi sekitar 1,5 ton per minggu yang secara rutin mampu dipenuhi.

Suardi mengatakan peningkatan permintaan tersebut datang dari berbagai kalangan yang membutuhkan belut mentah maupun belut siap olah. Namun kapasitas produksi yang dimiliki saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar.

Permintaan Terus Naik hingga Terpaksa Menolak Pesanan

Menurut Suardi, tingginya antusiasme masyarakat terhadap belut membuat permintaan terus berdatangan. Meski demikian, ia memilih membatasi jumlah pesanan sesuai kemampuan produksi.

Baca Juga: Kasus DBD Kabupaten Blitar Turun Drastis, Tinggal 44 Kasus hingga Pertengahan 2026 Berkat PSN dan Gerakan Jumantik

Ia mengungkapkan bahwa setiap pekan terdapat permintaan tambahan sekitar 4 ton yang belum dapat dipenuhi.

"Bahkan yang kami tolak itu kurang lebih sekitar ada 4 ton mungkin per minggu ini kami tolak karena kami enggak mampu. Kami kalau enggak mampu kami stop," ujarnya.

Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa peluang usaha budidaya belut masih sangat terbuka.

Prospek Budidaya Belut Dinilai Sangat Menjanjikan

Suardi menilai budidaya belut memiliki prospek usaha yang baik karena tingkat persaingan masih relatif rendah dibandingkan komoditas perikanan lainnya.

Baca Juga: Review Samsung A36 5G: Jangan Remehkan Snapdragon 6 Gen 3, Ini Fakta Performa, Kamera HDR Baru, dan Fitur One UI 7!

Ia mencontohkan ikan konsumsi lebih mudah ditemukan di pasar maupun warung. Sementara belut masih tergolong sulit diperoleh sehingga permintaannya tetap tinggi.

Selain itu, belut dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga banyak diminati konsumen.

Menurutnya, harga belut juga relatif stabil bahkan cenderung meningkat karena pasokan masih terbatas.

Pasar Belut Dinilai Sangat Luas

Suardi menjelaskan bahwa hampir semua ukuran belut memiliki pasar tersendiri.

Belut berukuran kecil banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku keripik belut.

Sementara ukuran sedang umumnya dipasok ke rumah makan, termasuk rumah makan Padang.

Untuk ukuran besar, belut dipasarkan ke restoran maupun swalayan.

Ia juga menyebut permintaan dari luar negeri masih cukup tinggi. Namun hingga kini pihaknya belum mampu memenuhi ekspor karena keterbatasan jumlah produksi yang tersedia.

Menurutnya, pengiriman ke luar negeri membutuhkan pasokan dalam jumlah besar dan harus berlangsung secara berkelanjutan.

Berawal dari Lahan Sempit di Samping Rumah

Suardi mengisahkan usahanya berawal dari kondisi sulit mencari pekerjaan.

Ia mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal hingga jenjang SMP. Namun ia terus berusaha mencari peluang usaha yang dapat menghasilkan pendapatan.

Saat mengalami masa menganggur, ia mulai memanfaatkan lahan kecil di sekitar rumah untuk membangun kolam budidaya belut.

Dari kolam sederhana tersebut, usaha yang dirintis perlahan berkembang hingga memiliki pasar yang lebih luas.

Menurutnya, budidaya belut tidak harus dimulai dengan lahan yang luas. Kolam sederhana sudah cukup untuk memulai usaha.

Memilih Jenis Belut yang Tepat

Dalam penjelasannya, Suardi membedakan beberapa jenis belut yang dikenal masyarakat.

Ia menyebut belut albino memang dapat dipelihara, tetapi sulit dipasarkan karena lebih banyak diminati sebagai ikan hias.

Jenis lain adalah sidat yang memiliki sirip pada bagian ekor dan bentuk berbeda dibandingkan belut biasa.

Sidat juga dapat dibudidayakan, namun menurutnya lebih sulit dipasarkan di dalam negeri karena memiliki harga tinggi, sekitar Rp300.000 per kilogram.

Ia menyebut pasar utama sidat berada di sejumlah negara seperti China, Korea, Jepang, dan Taiwan. Namun ekspor membutuhkan pasokan minimal sekitar satu ton secara berkelanjutan.

Sementara itu, belut sawah dinilai kurang cocok dijadikan indukan budidaya.

Menurut Suardi, belut sawah telah banyak terpapar pestisida maupun pupuk pertanian sehingga kualitasnya kurang baik untuk dikembangkan.

Jenis yang dipilihnya adalah belut rawa yang disebutnya sebagai belut super.

Ia mengatakan bobot belut rawa dapat mencapai sekitar satu kilogram per ekor.

Media Budidaya Belut Menggunakan Fermentasi

Suardi menjelaskan budidaya belut dapat dimulai menggunakan kolam terpal atau kolam plastik tanpa harus membangun kolam permanen.

Media budidaya terdiri atas beberapa bahan dengan komposisi tertentu.

Lumpur digunakan sekitar 50 persen sebagai tempat hidup belut.

Kemudian gedebok pisang sekitar 15 persen berfungsi menjaga kelembapan media.

Kotoran hewan sebanyak 15 persen dimanfaatkan untuk menghasilkan cacing melalui proses penguraian yang menjadi sumber pakan alami.

Sementara jerami padi sekitar 10 persen berfungsi membentuk kompos agar media tetap gembur dan tidak mudah kering.

Sebelum dimasukkan ke dalam kolam, gedebok dan jerami dianjurkan dicacah agar proses pembusukan berlangsung lebih cepat.

Media kemudian disusun hingga mencapai ketebalan sekitar 40 sentimeter.

Setelah itu media direndam selama satu minggu untuk mengurangi kandungan getah pada gedebok, kemudian difermentasi selama satu bulan.

Menurut Suardi, setelah proses fermentasi selesai, ketebalan media akan menyusut menjadi sekitar 30 sentimeter yang dianggap ideal untuk budidaya belut.

Tanaman Menjadi Penanda Media Siap Digunakan

Setelah proses fermentasi selesai, Suardi menyarankan menanam tanaman di atas media sebelum benih ditebar.

Tanaman berfungsi sebagai indikator kesiapan media.

Apabila tanaman tumbuh dengan baik, berarti media telah siap digunakan.

Sebaliknya, jika tanaman layu, media dinilai masih mengandung amonia dan biogas sehingga belum layak digunakan.

Selain itu, tanaman juga berfungsi melindungi belut dari paparan sinar matahari langsung.

Menurutnya, tanaman membantu menghasilkan oksigen melalui sistem perakaran.

Ia juga menyebut tanaman padi dapat dikombinasikan dengan budidaya belut sehingga menghasilkan tambahan pendapatan.

Selain padi, tanaman seperti kangkung maupun genjer juga dapat dimanfaatkan.

Pakan Belut dan Perawatan Kolam

Belut termasuk hewan karnivora sehingga pakan yang diberikan dapat berupa keong, cacing, usus ayam maupun ikan air tawar.

Pakan direbus terlebih dahulu, kemudian dicacah sebelum ditebarkan ke kolam.

Menurut Suardi, pemberian pakan tidak harus dilakukan setiap hari.

Ia mengatakan pemberian pakan cukup dilakukan sekitar satu minggu sekali karena belut juga memperoleh makanan alami berupa cacing yang tumbuh dari media fermentasi.

Dalam perawatan kolam, debit air juga menjadi perhatian penting.

Permukaan air sebaiknya sejajar dengan permukaan lumpur dan tidak sampai menggenangi media.

Menurutnya, genangan air yang terlalu tinggi dapat menghambat masuknya oksigen ke dalam lubang-lubang yang dibuat belut sehingga berisiko menyebabkan kematian.

Panen Wajib Dilakukan Setelah Empat Bulan

Suardi menegaskan bahwa belut wajib dipanen setelah berumur sekitar empat bulan.

Pada usia tersebut ukuran belut mulai beragam sehingga muncul sifat kanibal.

Belut berukuran besar akan memangsa belut yang lebih kecil apabila tidak segera dipisahkan.

Karena itu, hasil panen perlu disortir berdasarkan ukuran sebelum dipelihara kembali atau dipasarkan.

Produk Olahan Jadi Nilai Tambah

Belut hasil budidaya tidak hanya dijual dalam bentuk segar.

Suardi mengolah sebagian hasil panennya menjadi berbagai produk makanan.

Ia menyebut keripik belut menjadi salah satu produk yang dipasarkan setiap hari.

Selain itu, pihaknya juga membuka resto yang menyajikan berbagai menu berbahan dasar belut seperti mangut belut, rica-rica belut, hingga tongseng belut.

Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi mencari pembeli, melainkan memenuhi kebutuhan bahan baku yang terus meningkat.

Suardi juga membuka peluang kerja sama dengan masyarakat yang ingin mengembangkan budidaya belut sehingga pasokan dapat terus bertambah dan kebutuhan pasar dapat dipenuhi.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Sumber : yt:CapCapung
Budidaya Belut Cara Ternak Belut usaha budidaya belut belut rawa bisnis belut