Potensi Kopi Arabika Masih Sangat Besar, Petani Bandung Ini Berhasil Tembus Pasar Jepang hingga Jerman

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Potensi kopi Arabika masih sangat besar. Petani Bandung sukses mengembangkan kopi specialty hingga ekspor ke Jepang, UEA, dan Jerman berkat inovasi serta teknologi budidaya.(pinterest)
Potensi kopi Arabika masih sangat besar. Petani Bandung sukses mengembangkan kopi specialty hingga ekspor ke Jepang, UEA, dan Jerman berkat inovasi serta teknologi budidaya.(pinterest)

BLITAR - Potensi kopi Arabika di Indonesia masih sangat menjanjikan, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Hal itu dibuktikan oleh Kelompok Tani Kopi Wanoja di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang sukses mengembangkan kopi specialty hingga menembus pasar Jepang, Uni Emirat Arab (UEA), dan Jerman.

Keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Ketua Kelompok Tani Kopi Wanoja, Satrea Almambi, mengungkapkan perjalanan panjangnya dimulai dari membantu sang ibu mengelola kebun kopi hingga akhirnya memutuskan fokus menjadi petani kopi pada 2018.

Keputusan itu menjadi titik balik. Dari lahan yang awalnya hanya sekitar 1,5 hektare, kini area yang dikelolanya berkembang menjadi sekitar 20 hektare, sementara total lahan anggota kelompok mencapai sekitar 100 hektare di kawasan Kamojang.

Berawal dari Membantu Orang Tua

Satrea menceritakan, keluarganya mulai memiliki kebun kopi setelah ibunya pensiun pada 2012. Sejak saat itu ia mulai mengenal dunia pertanian, meski sebelumnya bekerja di sektor konstruksi dan industri kayu.

Baca Juga: Fenomena Langka di Dunia, 15 Keajaiban Alam yang Sulit Dipercaya dari Hujan Darah hingga Lubang Biru

Setelah mempelajari karakter tanaman kopi serta menghitung potensi bisnisnya, ia melihat peluang besar yang bisa dikembangkan di wilayah pegunungan Kamojang.

Menurutnya, kondisi geografis daerah tersebut sangat cocok untuk budidaya kopi Arabika. Beragam varietas seperti Typica, Kartika, Sigararutang, Lini hingga Andungsari telah dibudidayakan dan menunjukkan hasil yang baik.

Fokus Produksi Green Bean Specialty

Kelompok Tani Wanoja tidak lagi menjual kopi dalam bentuk buah ceri seperti pada awal berdiri.

Baca Juga: Fenomena Langka di Dunia yang Sulit Dipercaya, dari Hujan Darah hingga Lubang Biru Raksasa

Mereka mulai meningkatkan nilai tambah dengan memproduksi green bean specialty yang dipasarkan langsung kepada roastery, eksportir, agregator hingga konsumen melalui platform e-commerce.

Perubahan strategi tersebut dimulai sejak 2015 dan terus berkembang hingga sekarang.

Menurut Satrea, pandemi COVID-19 justru mendorong kelompoknya memanfaatkan penjualan daring yang akhirnya membuka pasar lebih luas.

Berhasil Menembus Pasar Ekspor

Upaya ekspor mulai dilakukan pada 2020. Setahun kemudian, Wanoja berhasil mengirimkan kopi specialty ke berbagai negara.

Hingga kini total ekspor mencapai sekitar lima ton.

Meski volumenya belum besar, Satrea optimistis permintaan akan terus meningkat karena kualitas kopi yang dihasilkan mendapat respons positif dari para pembeli.

Negara tujuan ekspor saat ini meliputi Jepang, Uni Emirat Arab, serta Jerman yang dikenal memiliki standar tinggi terhadap kualitas kopi specialty.

Menurutnya, keberhasilan masuk ke pasar tersebut menjadi modal penting untuk memperluas pasar ke negara lain.

Proses Produksi Membutuhkan Waktu Panjang

Satrea menjelaskan bahwa kualitas kopi tidak hanya ditentukan saat panen, tetapi dimulai sejak proses pembibitan.

Kelompok Wanoja memproduksi bibit sendiri agar mutu tanaman tetap terjaga. Setelah ditanam, kopi Arabika membutuhkan waktu sekitar tiga tahun hingga mampu menghasilkan buah berkualitas.

Saat panen raya, buah kopi dikumpulkan secara kolektif sebelum diproses menjadi berbagai jenis specialty coffee seperti natural, honey, semi wash dan full wash.

Selanjutnya kopi menjalani proses pengeringan, hulling, sortasi, pengemasan hingga penyimpanan (resting).

Secara keseluruhan, proses dari panen hingga green bean siap dipasarkan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan.

Permintaan Kopi Terus Meningkat

Satrea menilai prospek usaha kopi masih sangat terbuka.

Selain karena kebutuhan dunia yang masih lebih besar dibanding produksi, konsumsi kopi masyarakat Indonesia juga terus meningkat setiap tahun.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi petani yang ingin serius mengembangkan kopi specialty karena memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding kopi komoditas biasa.

Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan petani sangat bergantung pada kemampuan mengikuti perkembangan teknologi.

Petani yang terus belajar, memanfaatkan inovasi budidaya, serta mampu beradaptasi terhadap perubahan cuaca memiliki peluang lebih besar memperoleh keuntungan.

Dukungan Pemerintah Jadi Faktor Penting

Keberhasilan Kelompok Tani Wanoja juga tidak lepas dari dukungan pemerintah.

Mereka memperoleh berbagai bantuan berupa mesin pulper, huller, mesin pencacah hingga Unit Pengolahan Hasil (UPH) dari berbagai instansi, mulai dari pemerintah kabupaten, provinsi hingga Kementerian Pertanian.

Selain bantuan peralatan, kelompok tani juga mendapat pembinaan sumber daya manusia dan dilibatkan dalam program korporasi petani untuk memperkuat rantai pemasaran kopi.

Satrea mengajak generasi muda, terutama yang tinggal di kawasan pegunungan, agar tidak ragu terjun ke dunia pertanian.

Menurutnya, bertani kopi memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan jika dikelola secara profesional dan mengikuti perkembangan teknologi.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Potensi Kopi Arabika Kopi Specialty Ekspor Kopi Indonesia Kelompok Tani Wanoja Petani Kopi Bandung