JAKARTA – Memasuki masa persiapan pensiun atau Masa Persiapan Pensiun (MPP) menjadi fase yang memicu kecemasan bagi banyak pekerja di Indonesia. Tidak sedikit aparatur sipil negara (ASN), TNI, Polri, karyawan swasta, hingga profesional merasa khawatir karena dana pensiun yang dimiliki dinilai belum cukup untuk menopang kebutuhan hidup di masa tua. Kondisi tersebut membuat pemilihan investasi terbaik untuk pensiun menjadi perhatian utama.
Dalam sebuah diskusi yang dipandu edukator keuangan Candra bersama praktisi bisnis Alex Cayadi, keduanya membahas dan memberi peringkat terhadap 22 instrumen investasi. Tujuannya adalah memberikan gambaran mengenai pilihan investasi yang dinilai sesuai bagi calon pensiunan maupun investor dengan profil risiko berbeda, mulai dari konservatif hingga agresif.
Perdebatan keduanya menarik perhatian karena mewakili dua generasi berbeda. Candra yang berasal dari generasi lebih senior cenderung mempertimbangkan keamanan aset, sedangkan Alex lebih mengutamakan pertumbuhan nilai investasi dalam jangka panjang.
Baca Juga: Cara Meraih Kesuksesan Melalui Dunia Online Makin Terbuka, Ini 8 Peluang yang Bisa Dicoba
Deposito Dinilai Kurang Menarik
Instrumen deposito rupiah di bank umum menjadi salah satu investasi yang memperoleh penilaian terendah. Menurut Alex, bunga deposito yang berkisar 4–5 persen per tahun dinilai tidak lagi mampu mengimbangi laju inflasi maupun kenaikan biaya hidup.
Ia juga menilai deposito di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) menawarkan bunga lebih tinggi, tetapi memiliki risiko yang lebih besar dibanding bank umum. Sementara deposito dalam mata uang asing, terutama dolar AS, dianggap lebih menarik karena nilai tukar dolar terhadap rupiah terus menguat dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, Candra menilai deposito masih dapat menjadi pilihan bagi investor dengan profil risiko sangat konservatif, walaupun keuntungan bersih setelah pajak relatif terbatas.
Reksadana dan Obligasi Masih Layak Dipertimbangkan
Dalam pembahasan instrumen pendapatan tetap, reksadana pasar uang, Surat Berharga Negara (SBN), obligasi pemerintah, maupun obligasi korporasi memperoleh penilaian menengah.
Alex mengaku kurang tertarik terhadap instrumen yang memberikan imbal hasil di bawah 10 persen per tahun. Sebaliknya, Candra masih memberikan nilai lebih baik pada beberapa produk tersebut karena percaya fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki prospek positif dalam jangka panjang.
Menurutnya, instrumen seperti SBN tetap cocok bagi masyarakat yang mengutamakan kestabilan dan keamanan modal.
Saham Dividen dan Saham Amerika Jadi Favorit
Pada kategori pasar saham, keduanya sepakat bahwa saham-saham blue chip yang rutin membagikan dividen layak menjadi salah satu pilihan investasi jangka panjang.
Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami koreksi, mereka menilai saham perusahaan besar tetap memiliki fundamental yang kuat dan berpotensi pulih.
Sementara itu, saham dividen luar negeri, khususnya perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat, memperoleh penilaian tertinggi. Menurut Alex, indeks saham AS seperti S&P 500 memiliki rekam jejak pertumbuhan yang konsisten dalam jangka panjang, ditambah keuntungan dari penguatan dolar AS terhadap rupiah.
Baca Juga: 7 Cara Meraih Kesuksesan Melalui Dunia Online yang Bisa Jadi Sumber Penghasilan
Properti Dinilai Berbeda oleh Dua Generasi
Perbedaan pandangan paling mencolok muncul pada investasi properti. Alex menganggap harga properti saat ini sudah tinggi dan pertumbuhannya cenderung stagnan sehingga kurang menarik bagi investor baru.
Sebaliknya, Candra tetap meyakini properti merupakan aset penting dalam membangun kekayaan. Berdasarkan pengalamannya, banyak konglomerat Indonesia berhasil mengembangkan aset melalui kepemilikan tanah, ruko, maupun bangunan komersial.
Ia menilai properti tetap memiliki potensi kenaikan nilai dalam jangka panjang meski tidak likuid.
Bitcoin dan Kripto Mulai Diterima
Menariknya, Candra mengaku mulai mengubah pandangannya terhadap aset kripto. Jika sebelumnya sangat skeptis, kini ia menilai Bitcoin dan teknologi blockchain layak dipertimbangkan sebagai bagian dari portofolio investasi.
Sementara Alex memberikan penilaian tertinggi untuk Bitcoin, staking aset kripto, hingga pemanfaatan Bitcoin sebagai jaminan pinjaman (Bitcoin-backed loan). Menurutnya, teknologi keuangan berbasis blockchain menawarkan fleksibilitas sekaligus peluang pertumbuhan aset yang lebih besar.
Meski demikian, keduanya menegaskan bahwa setiap instrumen investasi memiliki risiko masing-masing. Pemilihan investasi terbaik tetap harus disesuaikan dengan usia, tujuan keuangan, toleransi risiko, serta pemahaman investor terhadap instrumen yang dipilih.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Success Before 30