Harvard Business School Beberkan Rahasia Data Driven Marketing, Jangan Asal Pasang Iklan agar Bisnis Berkembang

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:35 WIB
Data driven marketing menurut Harvard Business School membantu bisnis berkembang lewat keputusan berbasis data, bukan sekadar iklan dan konten viral.(Pinterest)
Data driven marketing menurut Harvard Business School membantu bisnis berkembang lewat keputusan berbasis data, bukan sekadar iklan dan konten viral.(Pinterest)

JAKARTA – Data driven marketing menjadi pendekatan yang kini semakin penting dalam dunia bisnis digital. Berbeda dengan anggapan bahwa keberhasilan pemasaran hanya ditentukan oleh konten viral atau besarnya anggaran iklan, Harvard Business School justru menekankan bahwa data merupakan aset utama dalam menyusun strategi pemasaran yang efektif.

Melalui konsep data driven marketing, setiap keputusan bisnis dibuat berdasarkan analisis data pelanggan, mulai dari proses memperoleh konsumen baru, meningkatkan penjualan, hingga mempertahankan loyalitas pelanggan. Pendekatan ini diyakini mampu membantu perusahaan tumbuh lebih cepat sekaligus meminimalkan pemborosan anggaran promosi.

Dalam materi yang diajarkan di Harvard Business School, data driven marketing diposisikan sebagai disiplin manajemen yang berorientasi pada pertumbuhan pelanggan. Fokusnya bukan sekadar membuat iklan menarik, tetapi memahami siapa target pasar, nilai yang ditawarkan, serta bagaimana keberhasilan strategi tersebut dapat diukur secara objektif.

Baca Juga: Muhammad Alfa Priandito, Siswa SMK yang Sukses Bangun Bisnis Sayur hingga Omzet Tembus Rp100 Juta Per Bulan

Data Jadi Fondasi Utama Digital Marketing

Banyak pelaku usaha masih menganggap digital marketing identik dengan media sosial, influencer, atau konten kreatif. Padahal, seluruh aktivitas tersebut hanya merupakan alat pendukung.

Hal yang paling penting justru terletak pada kemampuan perusahaan mengolah data menjadi dasar pengambilan keputusan. Mulai dari menentukan target audiens, memilih saluran pemasaran, menyusun anggaran promosi, hingga mengukur hasil kampanye harus dilakukan berdasarkan data yang akurat.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengetahui strategi mana yang benar-benar memberikan dampak terhadap pertumbuhan bisnis.

Tentukan Tujuan Sebelum Memilih Platform

Harvard Business School juga menekankan bahwa perusahaan tidak boleh terburu-buru menentukan platform pemasaran sebelum memahami tujuan bisnisnya.

Sebelum menggunakan TikTok, Instagram, Google Ads, atau bekerja sama dengan influencer, perusahaan harus terlebih dahulu menjawab beberapa pertanyaan mendasar. Di antaranya mengenai tujuan kampanye, target pelanggan yang ingin dijangkau, nilai yang ditawarkan kepada konsumen, serta indikator keberhasilan yang akan digunakan.

Setelah seluruh aspek tersebut jelas, barulah perusahaan menentukan kanal digital yang paling sesuai untuk mencapai target pemasaran.

 

UMKM Harus Fokus Menyelesaikan Masalah Konsumen

Pendekatan data driven marketing dinilai sangat relevan diterapkan oleh pelaku UMKM di Indonesia.

Selama ini masih banyak usaha kecil yang menganggap peningkatan penjualan hanya bergantung pada besarnya anggaran promosi. Padahal, konsumen membeli produk karena merasa kebutuhannya dapat dipenuhi, bukan sekadar karena sering melihat iklan.

Oleh sebab itu, sebelum meningkatkan biaya pemasaran, pelaku usaha perlu memastikan produknya benar-benar memiliki keunggulan yang mampu menyelesaikan permasalahan konsumen.

Baca Juga: Kisah Muhammad Alfa, Siswa SMK yang Raup Omzet Rp100 Juta per Bulan dari Bisnis Sayur dan Jamur

Jangan Terjebak Konten Viral

Kesalahan lain yang sering dilakukan pelaku usaha adalah terlalu fokus mengejar tren media sosial.

Banyak brand berlomba membuat konten viral tanpa memiliki identitas yang jelas. Akibatnya, masyarakat mungkin mengenal kontennya, tetapi tidak memahami produk maupun alasan mengapa harus memilih brand tersebut.

Membangun identitas merek dinilai jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti tren yang sedang populer.

Pahami Paid, Owned, dan Earned Media

Dalam strategi data driven marketing terdapat tiga jenis saluran pemasaran yang harus dipahami.

Pertama adalah paid media, yaitu media berbayar seperti Meta Ads, TikTok Ads, Google Ads, maupun promosi melalui influencer.

Kedua adalah owned media, yakni seluruh aset digital milik perusahaan seperti website dan akun media sosial resmi.

Sementara earned media merupakan promosi yang diperoleh secara alami melalui ulasan pelanggan, rekomendasi, hingga promosi dari mulut ke mulut.

Ketiga saluran tersebut perlu dievaluasi secara berkala untuk mengetahui mana yang paling efektif menghasilkan pelanggan berkualitas.

Cost Per Acquisition Jadi Acuan Efisiensi

Harvard juga menekankan pentingnya mengukur Cost Per Acquisition (CPA), yaitu biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh satu pelanggan.

Melalui indikator tersebut, pelaku usaha dapat mengetahui apakah strategi pemasaran masih memberikan keuntungan atau justru menyebabkan kerugian.

Selain CPA, perusahaan juga perlu memperhatikan Customer Lifetime Value (CLV) agar mampu menghitung nilai pelanggan dalam jangka panjang sehingga keputusan pemasaran tidak hanya mengejar transaksi sesaat.

ERP Bantu Satukan Seluruh Data Bisnis

Strategi data driven marketing akan berjalan optimal apabila seluruh data perusahaan terintegrasi dalam satu sistem.

Karena itu, penggunaan Enterprise Resource Planning (ERP) menjadi solusi untuk menghubungkan data pemasaran, penjualan, keuangan, inventori, hingga layanan pelanggan.

Dengan sistem yang terintegrasi, perusahaan dapat mengambil keputusan lebih cepat berdasarkan data yang valid, bukan sekadar asumsi. Pendekatan inilah yang dinilai menjadi salah satu faktor penting agar bisnis mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan digital yang semakin ketat.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : MALAKA
Data Driven Marketing Harvard Business School ERP digital marketing UMKM