Bermula dari Hobi Bermain Slime, Bocah SD Ini Raup Omzet hingga Rp25 Juta

Valentyo Samuel Putra Widodo • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 11:55 WIB
Foto jurnalistik tentang anak kecil mainan slime
Foto jurnalistik tentang anak kecil mainan slime

 JAKARTA – Bermain slime yang awalnya hanya menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang berubah menjadi peluang usaha bagi Naya, seorang siswi kelas 3 sekolah dasar. Berawal dari kegemarannya membuat berbagai kreasi slime, Naya kini memiliki pelanggan dari berbagai daerah dan mampu meraup omzet hingga Rp25 juta dalam beberapa bulan.

Naya tidak hanya menjadikan slime sebagai mainan. Ia juga aktif membuat tutorial berbagai warna dan kreasi slime yang kemudian dibagikan melalui media sosial. Dari situlah semakin banyak orang mengenal produknya dan mulai melakukan pemesanan.

Berawal dari Bazar Sekolah

Ide Naya berjualan slime muncul setelah mengikuti kegiatan bazar di sekolah. Dagangan pertamanya berupa beberapa mangkuk slime ternyata langsung habis terjual.

Baca Juga: Es Kopi Pleret Kawisari Koffie, Racikan Istimewa dengan Sensasi Kopi yang Tiada Duanya

Menariknya, hasil penjualan tersebut tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Naya sempat meminta izin kepada ibunya untuk menyisihkan uang hasil berjualan dan menggunakannya untuk membantu teman yang membutuhkan.

Setelah pengalaman tersebut, Naya bersama sang ibu mulai mengembangkan penjualan slime melalui Instagram.

Awalnya akun tersebut hanya memiliki sekitar 12 pengikut. Seiring usaha berjalan dan semakin banyak pelanggan mengenal produknya, jumlah pengikut terus bertambah hingga sekitar 90 ribu.

Baca Juga: Matcha Latte Homemade Modal Hemat, Cukup Pakai Satu Sachet dan Susu Full Cream

Pesanan Bisa Mencapai 60 Paket Sehari

Popularitas produk slime buatan Naya membuat jumlah pesanan terus meningkat. Ketika permintaan sedang tinggi, pesanan dapat mencapai sekitar 60 paket per hari dan dikirim ke berbagai daerah.

Perkembangan usaha tersebut membuat Naya dan ibunya akhirnya mempekerjakan enam orang untuk membantu proses produksi.

Meski memiliki tim, Naya tetap terlibat dalam pengembangan produk. Ia bereksperimen membuat berbagai resep dan komposisi slime dengan karakteristik yang berbeda.

Setiap produk baru tidak langsung dijual. Naya terlebih dahulu melakukan pemeriksaan untuk memastikan tekstur, kepadatan, dan kualitas slime sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Naya Terlibat dalam Proses Quality Control

Dalam proses produksi, Naya memiliki peran dalam menentukan resep sekaligus menguji hasil produksi.

Baca Juga: Honda Brio Satya 2024 Dipasangi Sistem BBG, Teknisi Uji Performa hingga Tanjakan

Setelah membuat formula baru, anggota tim akan mengikuti resep dan teknik yang telah dibuat Naya. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan slime buatan Naya.

Jika tekstur atau kepadatannya belum sesuai, produk tersebut akan diperbaiki terlebih dahulu sebelum dipasarkan.

Cara tersebut membuat Naya tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga memahami pentingnya menjaga konsistensi kualitas dalam sebuah usaha.

Baca Juga: TPPO Jadi Ancaman Serius bagi PMI, Imigrasi Blitar Gencarkan Edukasi Pelajar Sejak Dini

Tetap Mengutamakan Sekolah

Meski bisnisnya berkembang, orang tua Naya tetap memberikan batasan agar kegiatan usaha tidak mengganggu pendidikan.

Naya diperbolehkan berkreasi dengan slime ketika sedang libur sekolah. Penggunaan gadget dan akses ke Instagram juga tetap diawasi oleh orang tuanya.

Keuntungan usaha pun dikelola secara terbuka. Sebagian digunakan untuk berbagi dan membantu orang lain, sementara sebagian lainnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan Naya dan keluarganya.

Orang tua Naya juga mengajarkan agar uang hasil usaha tidak digunakan secara berlebihan.

Belajar Bisnis Sejak Dini

Pengalaman Naya menunjukkan bahwa kegiatan yang disukai anak dapat dikembangkan menjadi sarana belajar kewirausahaan. Melalui bisnis sederhana, anak dapat mengenal konsep dasar seperti modal, keuntungan, pengeluaran, menabung, dan berbagi.

Namun, orang tua tetap memiliki peran penting dalam mengawasi kegiatan tersebut. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, tetapi hak untuk bermain dan belajar tetap harus menjadi prioritas.

Pengalaman berwirausaha sejak dini juga dapat membantu anak memahami cara menghadapi kritik, masalah, maupun kegagalan.

Bagi Naya, slime bukan sekadar mainan. Hobi tersebut berkembang menjadi ruang untuk berkreasi sekaligus belajar menjalankan usaha. Sementara bagi orang tua, keuntungan finansial bukan satu-satunya tujuan, melainkan pengalaman dan pembelajaran yang dapat menjadi bekal bagi anak di masa depan.

Source YouTube MDTV NEWS

Editor : Valentyo Samuel Putra Widodo
dari hobi jadi rejeki mainan slime