JAKARTA - Desil bansos 2026 menjadi perhatian setelah muncul keluhan dari masyarakat yang merasa hasil pemeringkatan kondisi sosial ekonominya tidak sesuai dengan keadaan sehari-hari. Ada warga yang tercatat dalam desil 9 atau 10 meski masih tinggal di rumah kontrakan dan memiliki penghasilan beberapa juta rupiah per bulan.
Kondisi tersebut menimbulkan anggapan bahwa seseorang yang masuk desil tinggi otomatis tergolong kaya. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa desil tidak dapat dipahami sesederhana itu. Pemeringkatan dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak hanya melihat penghasilan.
Desil bansos 2026 pada dasarnya menunjukkan posisi relatif kondisi sosial ekonomi sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya. Karena itu, angka desil tidak dapat langsung digunakan sebagai label kaya atau miskin.
Baca Juga: Cek Desil Bansos Lewat HP, Begini Cara Lihat Data NIK KTP dengan Mudah
Apa Itu Desil dalam DTSEN?
BPS menjelaskan, desil merupakan pembagian keluarga menjadi 10 kelompok berdasarkan peringkat kondisi sosial ekonomi. Desil 1 berada pada kelompok dengan kondisi sosial ekonomi terendah, sedangkan desil 10 berada pada peringkat tertinggi.
Namun, posisi tersebut bukan hasil penghitungan berdasarkan satu indikator. Ada sejumlah faktor yang digunakan untuk menggambarkan kondisi sebuah keluarga.
Indikator yang diperhitungkan antara lain kondisi rumah, kepemilikan aset, pendidikan, pekerjaan, usaha, hingga kesehatan. Dengan banyaknya indikator tersebut, tidak ada batas penghasilan tertentu yang secara otomatis membuat sebuah keluarga masuk ke desil tertentu.
Artinya, seseorang yang memiliki penghasilan Rp2 juta atau Rp3 juta per bulan tidak bisa langsung menentukan dirinya harus masuk desil tertentu. Kondisi keseluruhan keluarga menjadi bagian penting dalam pemeringkatan.
BPS juga menjelaskan bahwa pemeringkatan dilakukan terhadap keluarga, bukan individu. Karena itu, penghasilan satu anggota keluarga tidak bisa menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan posisi desil seluruh keluarga.
Mengapa Penghasilan Jutaan Bisa Masuk Desil 9?
Pertanyaan tersebut muncul karena sebagian masyarakat menganggap pendapatan bulanan sebagai ukuran utama kesejahteraan. Padahal, kondisi sosial ekonomi keluarga jauh lebih kompleks.
Sebuah keluarga dapat memiliki penghasilan yang terlihat tidak terlalu besar, tetapi memiliki kondisi tempat tinggal, aset, pendidikan, pekerjaan, usaha, atau indikator lain yang membuat posisi relatifnya berada pada kelompok lebih tinggi.
Sebaliknya, penghasilan yang besar pada satu orang juga tidak serta-merta menggambarkan keseluruhan kondisi sebuah keluarga.
Hal inilah yang membuat desil 9 dan desil 10 tidak bisa langsung disamakan dengan kategori orang kaya raya.
BPS menyebut kondisi ekonomi keluarga yang berada di desil 10 dapat sangat beragam. Kelompok tersebut dapat mencakup keluarga kelas menengah hingga kelompok dengan kekayaan yang sangat besar.
Dengan demikian, dua keluarga yang berada dalam desil yang sama belum tentu mempunyai kondisi ekonomi yang benar-benar identik.
Baca Juga: Cara Cek Desil Bansos di Cekbansos.go.id, Begini Posisi Desil 1 sampai 10
Desil Bukan Label Kaya atau Miskin
Pemahaman mengenai desil menjadi semakin penting karena data sosial ekonomi dapat berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Dalam pembahasan yang beredar, data desil juga dikaitkan dengan rencana pembatasan subsidi bahan bakar minyak atau BBM.
Karena berhubungan dengan kebijakan, masyarakat perlu memahami bahwa desil merupakan sebuah peringkat, bukan label kekayaan.
Desil 9 menunjukkan bahwa sebuah keluarga berada pada posisi relatif tinggi dalam pemeringkatan kondisi sosial ekonomi. Sementara desil 10 berada pada posisi relatif paling tinggi. Namun, angka tersebut tidak menjelaskan secara langsung jumlah kekayaan atau besarnya penghasilan keluarga.
Begitu juga dengan keluarga yang berada pada desil rendah. Posisi tersebut merupakan hasil pemeringkatan berdasarkan berbagai indikator sosial ekonomi yang digunakan dalam DTSEN.
Oleh sebab itu, masyarakat yang memperoleh hasil desil 9 atau 10 sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa data tersebut menyatakan dirinya sebagai orang kaya.
Sebaliknya, masyarakat yang merasa kondisi sebenarnya berbeda dengan data juga perlu memahami bahwa pemeringkatan tidak hanya didasarkan pada pendapatan pribadi.
Pada akhirnya, desil bansos 2026 perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif kondisi sosial ekonomi keluarga. Angka tersebut bukan ukuran tunggal kekayaan seseorang, sehingga penilaiannya tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat penghasilan bulanan.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : KONTAN TV