Bank Indonesia Ungkap Kondisi Rupiah dan Inflasi, Kebijakan Ini Terus Diperkuat

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 18:08 WIB
Bank Indonesia memperkuat kebijakan menjaga rupiah dan inflasi di tengah tekanan global, sekaligus mendorong likuiditas dan pertumbuhan ekonomi. (PINTEREST)
Bank Indonesia memperkuat kebijakan menjaga rupiah dan inflasi di tengah tekanan global, sekaligus mendorong likuiditas dan pertumbuhan ekonomi. (PINTEREST)

JAKARTA - Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kebijakan tersebut berjalan bersamaan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor perbankan, likuiditas, dan sistem pembayaran.

Dalam hasil Rapat Dewan Gubernur, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility juga tetap 4,75 persen, sedangkan Lending Facility berada di level 6,5 persen.

Keputusan tersebut diambil ketika kondisi ekonomi global masih menghadapi tekanan. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia belum kuat, sementara inflasi global masih tinggi. Kondisi tersebut turut meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan dan membuat kebijakan moneter sejumlah negara cenderung ketat.

Bank Indonesia menilai situasi global tersebut perlu direspons dengan sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Tujuannya menjaga ketahanan eksternal, stabilitas nilai tukar, serta momentum pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Baca Juga: BPN Lahir pada 1988, Berawal dari Perubahan Besar Pengelolaan Agraria

Rupiah Diperkuat dengan Insentif Lindung Nilai

Salah satu perhatian Bank Indonesia adalah menjaga pergerakan nilai tukar rupiah. Dalam pemaparan hasil rapat, rupiah tercatat berada di posisi Rp17.855 per dolar Amerika Serikat dan menguat 0,78 persen secara point to point dibandingkan level akhir periode sebelumnya.

Bank Indonesia menyebut penguatan tersebut didukung strategi stabilisasi melalui berbagai instrumen moneter. Selain itu, kebijakan insentif juga diperluas untuk mendorong masuknya investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas rupiah.

Insentif swap jual lindung nilai dinaikkan menjadi 12,5 persen. Sementara itu, insentif DNDF jual lindung nilai diberikan sebesar 15 persen.

Bank Indonesia juga memperluas transaksi lindung nilai yang mendapatkan insentif. Jika sebelumnya berkaitan dengan portofolio inflow, kebijakan tersebut diperluas untuk mencakup pinjaman luar negeri yang dilakukan bank serta foreign direct investment.

Langkah tersebut ditujukan untuk membuat aliran dana ke pasar keuangan Indonesia tetap menarik sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar.

Arus investasi portofolio asing juga masih tercatat masuk. Hingga periode yang disebut dalam pemaparan, net inflow mencapai 1,8 miliar dolar Amerika Serikat yang ditopang penerbitan global bonds pemerintah serta aliran dana ke SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.

Inflasi Turun, Risiko Pangan Tetap Diwaspadai

Selain rupiah, inflasi menjadi perhatian utama Bank Indonesia. Inflasi IHK tercatat 2,88 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 3,34 persen.

Inflasi inti juga tetap terjaga pada level 2,76 persen secara tahunan. Sementara itu, inflasi volatile food melambat menjadi 2,52 persen.

Penurunan inflasi volatile food antara lain dipengaruhi panen sejumlah komoditas hortikultura, termasuk cabai dan bawang merah.

Meski demikian, Bank Indonesia tetap mewaspadai risiko gangguan pasokan pangan. Risiko El Nino menjadi salah satu perhatian karena dapat memengaruhi produksi dan distribusi komoditas pangan.

Baca Juga: BPN Lahir pada 1988, Berawal dari Perubahan Besar Pengelolaan Agraria

Pengendalian inflasi terus dilakukan bersama pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Upaya tersebut juga diperkuat melalui gerakan pengendalian inflasi dan pangan sejahtera.

Strategi pengendalian tidak hanya diarahkan pada operasi pasar. Bank Indonesia menyebut terdapat upaya untuk memperkuat produksi, pascapanen, distribusi, kelembagaan pangan, hingga modernisasi pertanian.

Likuiditas dan Kredit Terus Didorong

Di sisi domestik, Bank Indonesia melihat pertumbuhan ekonomi masih terjaga. Ekonomi Indonesia pada kuartal kedua tumbuh 5,29 persen secara tahunan.

Untuk mendukung aktivitas ekonomi, Bank Indonesia menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan. Uang primer pada periode terakhir tumbuh 18,3 persen secara tahunan.

Pertumbuhan kredit perbankan juga meningkat menjadi 13,58 persen secara tahunan. Kebijakan makroprudensial yang longgar melalui KLM menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Kebijakan ke depan akan tetap diarahkan untuk menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas dengan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dengan kondisi global yang belum sepenuhnya mereda, Bank Indonesia menegaskan stabilitas rupiah dan inflasi tetap menjadi perhatian. Pada saat yang sama, ruang kebijakan makroprudensial, likuiditas, dan sistem pembayaran terus dimanfaatkan untuk menjaga momentum ekonomi domestik.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Bank Indonesia Channel
BI Rate rupiah bank indonesia inflasi ekonomi indonesia