JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan jual investor asing dan ketidakpastian terkait evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, terutama mengenai prospek saham Indonesia dan kemungkinan perubahan status pasar dari emerging market menjadi frontier market.
Dalam pembahasan pasar modal bersama praktisi pasar Beni Batara Benix di kanal Primus Indopremier, tekanan IHSG dinilai tidak bisa dilepaskan dari persoalan kepercayaan investor, valuasi saham, serta kebijakan regulator. Meski demikian, pelemahan indeks tidak serta-merta menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sedang mengalami keruntuhan.
Baca Juga: Anggaran Pendidikan 2027 Masih Kurang, DPR Dorong Tambahan Rp40,75 Triliun untuk Guru dan Sekolah
Tekanan MSCI dan Aksi Jual Investor Asing
Dalam pembahasan tersebut, IHSG disebut berada di sekitar level 6.052 dengan penurunan sekitar 30 persen sejak awal tahun. Pada saat yang sama, nilai jual bersih investor asing atau foreign net sell disebut telah melampaui Rp84 triliun.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah evaluasi MSCI. Lembaga penyedia indeks global ini menjadi acuan bagi sejumlah pengelola dana internasional dalam menentukan komposisi portofolio. Ketika suatu saham mengalami perubahan klasifikasi atau dikeluarkan dari indeks, investor yang mengikuti indeks tersebut dapat melakukan penyesuaian kepemilikan.
Situasi ini berpotensi meningkatkan tekanan jual, terutama terhadap saham-saham yang banyak dimiliki investor institusi asing. Ketidakpastian mengenai hasil evaluasi MSCI juga dapat membuat sebagian pelaku pasar memilih mengurangi risiko sebelum mengambil keputusan investasi berikutnya.
Meski muncul kekhawatiran Indonesia turun dari kategori emerging market ke frontier market, Benix memperkirakan Indonesia kemungkinan masih bertahan di kelompok pasar berkembang. Namun, kepastian mengenai klasifikasi tersebut tetap bergantung pada keputusan dan penilaian MSCI.
Persoalan lain yang disoroti adalah valuasi saham yang dinilai terlalu tinggi dibandingkan kinerja fundamentalnya. Dalam diskusi itu, terdapat contoh saham perusahaan komoditas dengan rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) mencapai 400 kali.
Valuasi seperti itu dinilai rentan ketika minat investor menurun. Jika saham tidak lagi masuk dalam indeks acuan, aksi jual dari dana pasif dapat memperbesar tekanan terhadap harganya.
Proyeksi IHSG dan Risiko Ekonomi pada 2027
Benix memperkirakan nilai wajar IHSG berada di kisaran 5.500–6.000. Untuk kuartal IV 2026, level sekitar 5.600 disebut sebagai salah satu proyeksi yang perlu diperhatikan. Pergerakan indeks masih berpotensi melemah apabila tekanan eksternal meningkat.
Dua faktor yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah. Dalam pembahasan tersebut, harga minyak disebut mendekati 100 dolar AS per barel, sedangkan nilai tukar rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS.
Kondisi itu dapat menambah beban anggaran negara, terutama apabila kebutuhan subsidi energi meningkat. Sementara itu, asumsi yang dibahas untuk APBN 2027 mencakup harga minyak 75 dolar AS per barel dan nilai tukar Rp17.500 per dolar AS. Jika realisasi jauh melampaui asumsi, ruang fiskal pemerintah berpotensi menghadapi tekanan.
Meski demikian, proyeksi tersebut bukan kepastian bahwa IHSG akan mencapai level tertentu. Perkembangan harga komoditas, nilai tukar, kebijakan pemerintah, serta sentimen global tetap memengaruhi arah pasar.
Benix juga memperkirakan investor asing berpotensi kembali pada kuartal II 2027. Perkiraan tersebut bergantung pada membaiknya kepercayaan pasar dan kepastian kebijakan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai jaminan arus dana asing akan berbalik.
Baca Juga: Anggaran Pendidikan 2027 Masih Kurang, DPR Dorong Tambahan Rp40,75 Triliun untuk Guru dan Sekolah
Kepercayaan Investor Jadi Kunci Pemulihan
Selain faktor eksternal, pembenahan pasar modal domestik dinilai penting untuk memulihkan minat investor. Transparansi, akuntabilitas, perlindungan investor, serta kepastian hukum menjadi beberapa aspek yang perlu diperkuat oleh regulator dan penyelenggara bursa.
Diskusi tersebut turut menyoroti perlunya pembenahan proses pencatatan saham perdana atau IPO dan mekanisme perdagangan. Investor membutuhkan informasi yang memadai agar dapat menilai kualitas perusahaan, bukan hanya mengikuti pergerakan harga atau tren pasar.
Di sisi pemerintah, investasi yang produktif, kemudahan perizinan, dan penciptaan lapangan kerja dinilai penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Kejelasan penggunaan investasi Danantara juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi.
Bagi investor individu, kondisi pasar yang melemah perlu dihadapi dengan analisis, bukan kepanikan. Pemeriksaan laporan keuangan, tingkat utang, paparan terhadap valuta asing, dan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dapat membantu menilai apakah penurunan harga sejalan dengan kondisi fundamental.
Strategi investasi jangka panjang selama lima hingga sepuluh tahun juga disinggung sebagai pendekatan yang dapat dipertimbangkan, dengan tetap memperhitungkan risiko dan tujuan keuangan masing-masing.
Dengan demikian, pemulihan IHSG tidak hanya bergantung pada meredanya tekanan jual asing. Kepastian regulasi, kualitas emiten, kondisi fiskal, dan kepercayaan terhadap pasar modal akan ikut menentukan kemampuan pasar saham Indonesia untuk kembali menarik dana investasi.
IHSG yang melemah memang menghadirkan risiko, tetapi bagi investor yang cermat, penurunan harga juga dapat menjadi kesempatan apabila didukung fundamental perusahaan yang kuat. Keputusan tetap perlu didasarkan pada analisis dan toleransi risiko, bukan semata-mata harapan bahwa pasar akan segera pulih.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : investrodtrustit