BLITAR KAWENTAR - Drama penyambutan Valen Pamekasan, runner-up DA7 Indosiar, masih terus bergulir dan belum menemukan titik terang. Alih-alih menjadi perayaan kebanggaan daerah, agenda penyambutan penyanyi muda asal Pamekasan itu justru diwarnai dinamika serius antara pemerintah daerah, keluarga, hingga kelompok ulama.
Isu penyambutan Valen Pamekasan semakin mencuat setelah pihak keluarga menyatakan mundur dari kepanitiaan yang sebelumnya dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan. Keputusan tersebut membuat rencana acara yang semula digadang-gadang berlangsung meriah kini berada dalam ketidakpastian.
Bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman, angkat bicara menanggapi situasi tersebut. Ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Pamekasan, khususnya para penggemar Valen yang menanti kepastian penyambutan sang runner-up DA7 Indosiar.
Permintaan Maaf Bupati dan Dinamika yang Belum Usai
KH Kholil menegaskan bahwa hingga kini belum ada keputusan final terkait konsep maupun waktu pelaksanaan penyambutan Valen Pamekasan. Ia mengakui, dinamika yang terjadi cukup kompleks dan membutuhkan kehati-hatian.
“Yang bisa kami sampaikan saat ini adalah permohonan maaf kepada masyarakat. Prosesnya masih berjalan dan belum ada kepastian,” ujar KH Kholil saat ditemui wartawan.
Menurutnya, keputusan keluarga Valen untuk mundur dari kepanitiaan Pemkab membuat arah penyelenggaraan berubah. Keluarga memilih bergerak mandiri dengan mencari sponsor sendiri demi melanjutkan agenda penyambutan.
Keluarga Valen Pilih Jalan Mandiri
Penarikan diri keluarga Valen Pamekasan dari kepanitiaan resmi Pemkab disebut sebagai langkah agar proses penyambutan tidak berlarut-larut. Mereka kini fokus menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak swasta untuk mendapatkan dukungan sponsor.
Langkah tersebut menandai pergeseran besar dalam rencana awal yang semula melibatkan pemerintah daerah secara penuh. Namun, hingga kini, kepastian sponsor masih dalam tahap penjajakan.
Tekanan Ulama dan Syarat dari MUI
Di sisi lain, penyambutan Valen Pamekasan juga diwarnai tekanan dari sejumlah kelompok ulama. Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat disebut telah mengajukan 11 syarat apabila konser atau hiburan tetap digelar di Pamekasan.
Kondisi ini menempatkan Bupati KH Kholilurrahman pada posisi yang tidak mudah. Ia harus menyeimbangkan aspirasi masyarakat, keluarga Valen, serta pandangan ulama dan pesantren yang memiliki pengaruh besar di Pamekasan.
Ajakan Duduk Bersama Demi Kepentingan Bersama
KH Kholil menekankan pentingnya dialog terbuka antara seluruh elemen. Mulai dari ulama, Forkopimda, hingga pengelola pesantren diharapkan dapat duduk bersama untuk mencari solusi terbaik.
“Semua pihak perlu saling memberi ruang. Kadang perlu mundur satu langkah agar yang lain bisa maju. Saya juga harus sowan ke para ulama dan pesantren untuk menjelaskan bahwa kesenian ini juga kebutuhan,” ungkapnya.
Menurutnya, komunikasi menjadi kunci agar polemik penyambutan Valen Pamekasan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Belum Ada Kepastian Jadwal, Poster Konser Mulai Beredar
Terkait jadwal, Bupati menegaskan belum ada keputusan, termasuk rencana konser pada 1 Januari yang sebelumnya sempat mencuat. Hingga kini, belum ada kesepakatan resmi yang bisa diumumkan ke publik.
Namun demikian, sejumlah poster konser yang menampilkan Valen Pamekasan dan sosok Haji Her Madura mulai beredar luas di masyarakat. Haji Her Madura disebut-sebut berpeluang menjadi sponsor utama, menyusul belum tercapainya kesepakatan antara Pemkab dan keluarga Valen.
Jika dukungan sponsor benar-benar terealisasi, diharapkan penyambutan Valen Pamekasan dapat tetap terlaksana secara maksimal tanpa menimbulkan gesekan di tengah masyarakat.
Drama ini sekaligus menjadi cermin betapa kompleksnya mengelola euforia publik, seni, dan nilai sosial dalam satu ruang yang sama. Publik kini menunggu, apakah penyambutan Valen Pamekasan akan berakhir sebagai pesta kebanggaan atau sekadar kisah panjang penuh tarik-ulur.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.