Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Niac Mitra Surabaya, Raja Galatama yang Pernah Tumbangkan Arsenal hingga Hilang dari Peta Sepak Bola Indonesia

Ingge Nayla Ayu Karina • Kamis, 19 Februari 2026 | 15:20 WIB

Sejarah Niac Mitra Surabaya, raja Galatama yang pernah kalahkan Arsenal dan akhirnya bubar pada 1990.
Sejarah Niac Mitra Surabaya, raja Galatama yang pernah kalahkan Arsenal dan akhirnya bubar pada 1990.

 

RADAR BLITAR - Sejarah Niac Mitra Surabaya menjadi bagian tak terpisahkan dari era emas kompetisi Galatama.

Baca Juga: Piala Dunia 1938: Kisah Hindia Belanda Jadi Wakil Asia Pertama, Dari Konflik PSSI hingga Tersingkir Telak di Prancis

Sejarah Niac Mitra Surabaya mencatat bagaimana sebuah klub semi profesional mampu menjelma menjadi kekuatan dominan di sepak bola nasional.

 

Bahkan dalam sejarah Niac Mitra Surabaya, tercatat momen langka ketika klub asal Kota Pahlawan itu menumbangkan raksasa Inggris, Arsenal, dalam laga persahabatan.

 

Niac Mitra merupakan singkatan dari New International Amusement Center Mitra.

 

Klub ini berdiri di Surabaya, Jawa Timur, dan didirikan secara resmi pada 14 Agustus 1978 oleh pengusaha Agustinus Wenas.

 

Awalnya, cikal bakal tim ini berasal dari kesebelasan karyawan perusahaan milik Wenas yang bernama Mentos Surabaya.

 

Seiring berkembangnya ambisi untuk tampil lebih profesional, lahirlah Niac Mitra sebagai pengganti PS Mitra.

 

Klub ini kemudian menjadi salah satu peserta edisi perdana Galatama pada 1979.

 

Dominasi di Era Galatama

Di kompetisi Liga Sepak Bola Utama atau Galatama, Niac Mitra Surabaya tampil sebagai kekuatan utama.

 

Dari musim ke musim, klub ini menunjukkan konsistensi performa yang luar biasa.

 

Niac Mitra sukses meraih tiga gelar juara Galatama pada musim 1982-1983, 1983-1984, dan 1987-1988.

 

Prestasi tersebut menegaskan posisi Niac Mitra sebagai salah satu klub terbaik di Indonesia pada era tersebut.

 

Keberhasilan itu tidak lepas dari manajemen profesional dan komposisi pemain berkualitas.

 

Niac Mitra dikenal memiliki visi besar untuk membangun tim yang kompetitif.

 

Klub ini juga sempat diperkuat sejumlah pemain asing yang memberi warna tersendiri dalam kompetisi nasional.

 

Atmosfer Stadion Gelora 10 November Surabaya kala itu menjadi saksi kejayaan mereka.

 

Tumbangkan Arsenal di Surabaya

Salah satu momen paling bersejarah dalam sejarah Niac Mitra Surabaya terjadi pada 1980.

 

Kala itu, Niac Mitra menghadapi klub raksasa Inggris, Arsenal, dalam laga persahabatan di Surabaya.

 

Sekitar 30 ribu penonton memadati Stadion Gelora 10 November untuk menyaksikan duel tersebut.

 

Di luar dugaan, Niac Mitra berhasil menaklukkan Arsenal dengan skor 2-0.

 

Gol kemenangan dicetak oleh Fandi Ahmad dan Joko Malis.

 

Kemenangan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi sepak bola Indonesia.

 

Sebab pada era tersebut, tidak banyak klub nasional yang mampu mengalahkan tim Eropa.

 

Momen tersebut hingga kini masih dikenang sebagai salah satu prestasi internasional paling membanggakan dalam sejarah klub Indonesia.

 

Dampak Regulasi dan Perubahan

Namun perjalanan Niac Mitra tidak selalu mulus.

 

Setelah meraih gelar pada 1983, dua pemain asing andalan, Fandi Ahmad dan David Lee, meninggalkan Indonesia.

 

Hal itu terjadi setelah PSSI mengeluarkan aturan pelarangan pemain asing di kompetisi Galatama.

 

Kehilangan pemain kunci sempat menjadi pukulan bagi tim.

 

Meski demikian, Niac Mitra mampu bangkit dan kembali menjadi juara pada musim 1987-1988.

 

Sayangnya, dua tahun setelah gelar terakhir tersebut, situasi berubah drastis.

 

Agustinus Wenas menyatakan kekecewaannya terhadap kebijakan PSSI yang melebur kompetisi Perserikatan dan Galatama.

 

Ia merasa aturan baru tersebut mengganggu eksistensi klub.

 

Pada 24 September 1990, Niac Mitra resmi dibubarkan.

 

Pertandingan perpisahan digelar melawan Johor dari Malaysia sebagai simbol akhir perjalanan klub legendaris ini.

 

Berganti Nama hingga Pindah Kota

Setelah dibubarkan, klub berganti nama menjadi Mitra Surabaya dan tetap berkompetisi hingga era Liga Indonesia.

 

Namun performa tim terus mengalami penurunan.

 

Pada 1999, Mitra Surabaya terdegradasi ke Divisi 1 yang kini setara Liga 2.

 

Kepemilikan klub pun berganti.

 

Nama klub berubah menjadi Mitra Kalteng Putra dan markas dipindahkan ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

 

Pada 2003, klub kembali mengalami kesulitan keuangan dan dijual kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.

 

Nama baru pun lahir, yakni Mitra Kutai Kartanegara yang bermarkas di Tenggarong.

 

Transformasi panjang ini membuat identitas asli Niac Mitra perlahan memudar.

 

Warisan Klub Legendaris

Meski kini hanya tinggal kenangan, sejarah Niac Mitra Surabaya tetap hidup di hati para pencinta sepak bola nasional.

 

Klub ini pernah menjadi simbol kejayaan Galatama dan bukti bahwa tim Indonesia mampu bersaing di level internasional.

 

Kisah Niac Mitra adalah potret ambisi, prestasi, sekaligus dinamika regulasi dalam perjalanan sepak bola Indonesia.

Baca Juga: Persib Bandung Tak Main-Main: Dana Unilever Mengalir, Rekor Transfer Siap Pecah, 6 Nama Mewah Jadi Target Operasi Juara

Namanya mungkin telah berubah, tetapi jejak kejayaannya tak akan pernah hilang dari sejarah.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
#Mitra Kutai Kartanegara #galatama #arsenal #Sejarah Niac Mitra Surabaya #sepak bola indonesia