Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

4 Indikasi Lukas Frigeri Tinggalkan Arema FC, Sementara Marcos Santos Cetak Rekor 21 Laga Beruntun

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 21 Februari 2026 | 21:00 WIB

4 Indikasi Lukas Frigeri Tinggalkan Arema FC, Sementara Marcos Santos Cetak Rekor 21 Laga Beruntun
4 Indikasi Lukas Frigeri Tinggalkan Arema FC, Sementara Marcos Santos Cetak Rekor 21 Laga Beruntun

BLITAR KAWENTAR-Masa depan Lukas Frigeri di Arema FC mulai menjadi sorotan menjelang akhir musim BRI Super League 2025/2026. Kiper asal Brasil itu disebut-sebut berpotensi angkat kaki setelah muncul empat indikasi kuat yang mengarah pada kemungkinan perpisahan.

Isu Lukas Frigeri tinggalkan Arema FC mencuat seiring evaluasi manajemen terhadap komposisi skuad musim depan. Statusnya sebagai pemain asing membuat penilaian terhadap performa dan kontribusinya menjadi lebih ketat.

Setidaknya ada empat faktor yang membuat masa depan penjaga gawang berusia 36 tahun itu mulai dipertanyakan.

1. Kontrak Segera Berakhir

Indikasi pertama berkaitan dengan durasi kontrak. Lukas Frigeri memang sempat mendapatkan perpanjangan kontrak pada musim 2024-2025. Namun, kontrak tersebut dikabarkan hanya berdurasi satu musim.

Artinya, jika tidak ada kesepakatan baru, akhir musim 2025/2026 bisa menjadi momen perpisahan. Dalam situasi ini, manajemen Arema FC memiliki ruang penuh untuk melakukan evaluasi menyeluruh.

2. Performa Menurun

Indikasi kedua datang dari catatan performa. Sepanjang Super League 2025/2026, gawang Arema FC belum pernah mencatatkan clean sheet saat Lukas Frigeri tampil sebagai starter.

Ia telah kebobolan 16 gol dalam 11 pertandingan. Penampilan terakhirnya terjadi saat melawan Dewa United pada matchday ke-18 di Banten International Stadium, 26 Januari 2026. Kala itu, Arema FC kalah 0-2 setelah gawangnya dibobol dua kali.

Setelah laga tersebut, Lukas tidak lagi dipercaya tampil dalam tiga pertandingan beruntun. Statistik ini menjadi bahan pertimbangan serius bagi tim pelatih dan manajemen.

3. Munculnya Adi Satrio

Indikasi ketiga adalah performa gemilang Adi Satrio. Kiper muda itu perlahan mengambil alih posisi utama di bawah mistar dan menunjukkan konsistensi impresif.

Adi mencatat empat clean sheet dan hanya kebobolan sembilan gol dari 10 pertandingan Super League musim ini. Bahkan, Arema FC mampu meraih tiga kemenangan beruntun saat ia menjadi starter.

Kondisi ini membuka peluang bagi Adi Satrio untuk menjadi kiper utama jangka panjang. Dengan slot pemain asing yang terbatas, manajemen bisa saja mengalihkannya ke posisi lain yang lebih membutuhkan tambahan tenaga.

4. Faktor Usia

Indikasi terakhir adalah faktor usia. Lukas Frigeri kini berusia 36 tahun dan menjadi pemain tertua di skuad Arema FC. Usia yang tak lagi muda dinilai memengaruhi refleks serta konsistensinya di lapangan.

Sorotan Aremania terhadap performanya juga semakin tajam. Tekanan publik menjadi salah satu aspek yang tak bisa diabaikan dalam dinamika tim.

Kini publik Malang menunggu keputusan akhir manajemen. Apakah Arema FC benar-benar melepas Lukas Frigeri di akhir musim atau tetap mempertahankannya sebagai bagian dari pengalaman tim?

Marcos Santos Patahkan Kutukan Gonta-Ganti Pelatih

Di tengah isu tersebut, kabar positif datang dari kursi kepelatihan. Marcos Santos sukses mematahkan tren negatif pergantian pelatih yang selama ini melekat di Arema FC.

Pelatih asal Brasil itu mencatat 21 laga beruntun bersama Singo Edan tanpa terhenti. Capaian ini menjadi rekor tersendiri di era Liga 1.

Sebelumnya, hanya beberapa nama seperti Milan Petrovic (2018), Milomir Seslija, dan Eduardo Almeida yang mampu menyentuh angka serupa.

Dalam tiga musim terakhir, Arema dikenal mudah berganti pelatih akibat hasil tak stabil. Musim 2022-2023 misalnya, Javier Roca hanya memimpin 12 laga sebelum digantikan I Putu Gede.

Musim berikutnya, Joko Susilo bertahan 16 laga, Fernando Valente 15 laga, dan Widodo Cahyono Putra hanya 10 pertandingan. Siklus pergantian terus berulang hingga akhirnya Marcos Santos mematahkan tren tersebut.

“Keberhasilan ini buah dari kerja keras kami agar bisa tetap berada dalam target,” ujar Marcos.

Ia menegaskan stabilitas tim lahir dari kerja kolektif dan adaptasi terhadap kultur sepak bola Indonesia. Meski kerap menghadapi kendala cedera dan rotasi pemain, ia mampu menjaga konsistensi performa.

Ambisinya jelas: membawa Arema FC menembus lima besar klasemen BRI Super League 2025/2026. Target tersebut kini menjadi motivasi utama di ruang ganti Singo Edan.

Dengan dinamika di bawah mistar dan stabilitas di kursi pelatih, Arema FC memasuki fase krusial penentuan arah musim depan.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#BRI Super League 2025/2026 #Adi Satrio #Arema FC #Marcos Santos #Lukas Frigeri